
"Ohh, sh*it! Kalau berani lawan saya secara adil, jangan seperti ini pecun*dang!"
Doni berteriak sekeras mungkin tepat di depan wajah Thoms. Apa yang Thoms lakukan benar-benar sudah membuatnya marah besar. Luka sayat di wajah tidak sebanding dengan luka hati yang membuat Doni selalu merasa iri atas apa yang Thoms dapatkan.
"Pecun*dang? Benarkah saya pecun*dang?" Thoms tersenyum licik, lalu mencekram kuat rahang Doni hingga jarinya menekan luka sayat yang ada di pipi.
Kali ini Doni tidak dapat kembali menahan rasa sakit, pedih, juga amarah yang bercampur menjadi satu. Suara teriakan cukup keras terdengar sampai keluar gedung.
"Aaarghh ... Lepaskan tanganmu, Thoms. Itu benar-benar sakit!" bentak Doni, memejamkan mata ketika merasakan seluruh tubuhnya bergetar akibat luka yang Thoms tekan sangatlah kuat.
"Apa kau bilang, hahh? Saya tidak dengar." Tangan Thoms semakin mengeratkan cengkraman itu akibat kebencian yang tersirat di matanya kepada Doni.
"Sakit bod*doh!" pekik Doni. Bola matanya terlihat sangat merah dipenuhi kebencian, kemarahan, serta kesakitan yang tidak bisa lagi ditahan.
Sekuat apa pun Doni melawan Thoms, tetap saja dia tidak akan berdaya. Keadaan tubuh terikat dengan rantai membuat Doni sudah bergerak untuk menghindar dari perlakuan Thoms. Hanya saja, Doni kekeh untuk tidak membuka suara tentang apa yang Thoms pertanyakan.
"Tadi kau bilang apa pun yang saya lakukan kau tidak akan takut, terus kenapa sekarang wajahmu berubah seperti itu, hem?"
"Apa kau lupa siapa saya? Saya bisa melajukan semua sesuka hati saya, apabila ada kejadian yang bertentangan atas perintah saya! Jadi, sebelum kau meninggalkan dunia ini. Alangkah baiknya, berikan aku kisah menarik yang harus kau ceritakan mengenai bagaimana caramu membun*nuh kakek!"
Tangan Thoms langsung menghempaskan wajah Doni, lalu membentaknya hingga pria itu tidak bisa berkata apa-apa selain memejamkan mata sekilas akibat terkejut.
Thoms menandang kursi kayu dengan sangat keras sampai kursi tersebut melayang terbang membentur tembol dan hancur menjadi susunan kayu tidak berbentuk.
Kelima bodyguard hanya terdiam melihat amarah King Mafia sudah mulai memuncak. Bagaimana tidak, orang yang sudah berjasa atas kehiduoan mereka semua ternyata dikhianati oleh orang kepercayaannya sendiri, sehingga akan ada rasa marah sampai kebencian untuk segera melenyapkan Doni.
Namun, ketika mendengar penolakan dari Doni atas apa yang Thoms perintahkan. Di situ Thoms benar-benar sudah lepas kendali.
"Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah membuka mulut tentang kema*tian Tuan ... Arrghhh!"
__ADS_1
Sebuah pisau kecil dari tadi berada di tangan Thoms langsung menempel jelas tepat di paha kanan Doni, hingga membuatnya berteriak kencang ketika Thoms berjongkok di hadapannya dan menarik pisau kecil itu sampai membuat luka robekkan cukup mendalam.
Tidak mudah memang memancing Doni untuk bercerita, sampai-sampai Thoms harus melakukan permainan ekstream itu demi membuat Doni membuka suara.
"Arrrghhh ... Daripada kau repot-repot mengotori tanganmu dengan bermain da*rah, lebih baik segera lenyapkan saja diriku karena sampai saya ma*ti pun kau tidak akan menemukan jawaban itu!"
"Benarkah? Maaf, saya tidak sebo*doh yang kau pikirkan! Membuatmu mati secepat itu, bukanlah solusi yang baik, Tuan Doni. Tetapi, membuatmu ma*ti secara perlahan itulah yang akan saya lakukan. Saya akan menunjukkan bagaimana rasanya hidup segan ma*ti pun tak mau!"
"Silakkan, lakukan apa yang kau inginkan. Saya tidak peduli karena saya tetap akan menutup mulu sampai ma*ti!"
Doni tetap pada kegigihan, juga tekadnya yang kuat untuk tidak membuka suara atas kema*tian Tuan Dewa selaku King Mafia sesungguhnya.
Bukan Thoms namanya kalau tidak memiliki segudang cara untuk membuat Doni menyerah dan mengatakan semua itu. Benar saja, ada dua orang bodyguard yang berjaga di depan datang mendekati Thoms. Mereka membawa sebuah kursi, juga sebotol air putih.
Kemudian, Thoms kembali duduk santai dengan tatapan yang tidak lepas dari mata Doni. "Kasih dia paham, bagaimana rasanya hidup sakit ma*ti pun tidak bisa!"
"Siap, Tuan!" ucap bodyguard lantang penuh ketegasan sambil menggenggam sebotol air putih.
"Kenapa, kaget?" tanya Thoms, tersenyum licik.
"A-apa yang ka-kau bawa itu?" tanya Doni, terbata-bata. Wajahnya terlihat sangat takit atas apa yang dibawa oleh bodyguard tersebut.
"Dia hanya membawakan air putih untuk membersihkan lukamu, jadi tenang saja!" sahut Thoms, santai.
"Ka-kau kira saya bod*doh, hahh? I-itu bukan air putih seperti apa yang kau katakan barusan, tapi itu air keras!" ucap Doni menatap tajam penuh rasa takut bercampur amarah kepada Thoms.
Sementara bodyguard tersebut perlahan berjalan maju membuat Doni beberapa kali melarangnya untuk mendekat, "Ja-jangan mendekat, saya bilang jangan!"
Suara bentakan Doni tidak membuat bodyguard itu merasa takut. Dia malah tetap melakukan apa yang harus dilakukan sesuai perintah Thoms sebelumnya.
__ADS_1
Oh, jangan salah. Apa yang sekarang terjadi, semua sudah dirancang sebaik mungkin oleh Thoms. Dikarenakan Thoms sangat mengenali bagaimana watak Doni yang memang memiliki tekad kuat untuk mempertahankan dirinya sendiri.
"Maafkan saya, Tuan Doni. Saya hanya menjalankan tugas yang sudah diberikan. Untuk itu, saya tidak akan muncur tanpa perindah dari Tuan Thoms!"
"Si*al! Kalian semua benar-benar sudah berani membantah saya, hahh! Dasar pencun*dang kalian semua, bisa-bisanya tunduk pada anak kemarin sore!" pekik Doni, hanya mendapat senyuman miring dari Thoms.
Tanpa basa-basi lagi, bodyguard itu langsung mencabut keras pisau kecil yang masih menancap di paha Doni. Suara teriakan Doni benar-benar sangat indah di telinga Thoms.
Setelah itu, bodyguard tersebut menyobek celana pnjang Doni dengan bantuan pisau kecil itu hingga membentuk celana pendek.
"Lakukan secara perlahan agar dia bisa merasakan bagaimana rasanya kenikmatan neraka!" titah Thoms, diangguki oleh bodyguard tersebut.
Bodyguard itu segera membuka tutup botol, lalu menuangkan secara perlahan ke dalam gelas. Selepas itu, dia langsung menjalankan perintah Thoms untuk menyiram perlahan luka sayat kedua pipi secara bergantian.
Beberapa kali Doni berteriak keras sampai membuat burung-burung yang ada di atas gedung beterbangan. Bahkan, para bodygurd yang berjaga disekitar sana juga merasakan hawa mengerikan. Walaupun, mereka tidak melihat secara langsung tetap saja mereka tahu betul bagaimana sifat Thoms dan Doni yang sama-sama kejam ketika memberikan perintah.
Ini sebagai pembelajaran bagi mereka semua yang berniat ingin mengkhianati Thoms, maka nasibnya pasti akan sama seperti apa yang dilakukan Thoms pada Doni.
"Arrghh ... Si*alan, panas bod*doh!" teriak Doni saat 90 persen wajahnya terasa panas membakar.
Bagaimana tidak, luka sayat disiram air keras tidak terbayang, bukan? Bagaimana rasa pedih, sakit, panas, bahkan kulit dapat melempuh bagaikan tersiram percikan minyak goreng panas.
Melihat reaksi Doni yang kesakitan, Thoms hanya bisa tersenyum lebar bagaikan iblis yang menang akan peperangan untuk melawan segala sesuatu yang menghalanginya. Tidak hanya itu saja, luka di paha kanan Doni juga terkena siraman air keras yang rasanya sungguh memilukan kelima bodyguard yang menjadi saksi.
Jangankan luka disiram air keras, tanpa luka pun bila terkena sedikit air tersebut sudah pasti akan terbakar sampai melepuh yang rasa sakitnya benar-benar luar biasa. Apakah Doni akan menyerah ketika tenaga ditubuhnya mulai melemah? Atau, dia tetap bersikeras mempertahankan semua itu?
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...