Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Perkara Sampo


__ADS_3

"Lain kali kalau ingin menghalu, ngotak dikit. Dan kondisikan wajahmu, apakah pantas?"


"Salahkah bila saya menghalu demi menyenangkan diri sendiri?"


Moana membalas tatapan tajam dari suaminya, meski langkahnya terhalang oleh meja kerjanya. Sementara Ernest tetap bersikap cool dalam keadaan kedua tangan berada di saku celana.


"Jelas, salah. Apa yang kau haluin itu, sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi kenyataan!"


"Eleehh ... Sirik, Bos? Bilang dong, slebew!"


Moana benar-benar mengejutkan Felix dan juga Ernest. Semakin hari ada saja sikap random Moana ketika dia sedang hamil, seakan-akan Moana tidak takut sama apa yang akan Ernest katakan. Hatinya telah membeku bagaikan es di kutub utara.


Moana pergi ke arah Pantry, tidak lupa mengibaskan sejenak rambut panjang yang halus, indah, dan juga sangat wangi ke arah wajah suaminya. Setelah itu dia meninggalkan mereka tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Dasar wanita aneh!" ucap Ernest, menatap kepergian istrinya sendiri. Kemudian dia menoleh ke arah Felix yang terdiam mematung.


"Wa-wangi buah strawberry dan juga mint? Kenapa seger banget, padahal hanya di kipas-kipas doang. Wanginya sampai tidak hilang-hilang di hidungku." guman Felix, tanpa sadar.


"Masih ingin memuji istri orang atau menyiapkan berkas meeting?" tegas Ernest, menyadarkan Felix.


"Ehh ... Ma-maaf, Tuan. Ohya, memang hari ini ada meeting lagi?" tanyanya masih dalam keadaan linglung menggaruk kepalanya.


"Hanya karena mencium aroma rambut, sudah berhasil membuatmu amnesia? Baiklah, mulai besok aku akan segera mencari asisten--"


"Hyaaak, tidak Tuan. Saya ingat, 15 menit lagi kita akan ada meeting dengan Perusahaan X. Sebentar saya ambil berkas dulu!"


Ernest menggelengkan kepalanya melihat Felix berlari menuju ruangannya untuk mengambil beberapa berkas penting.

__ADS_1


"Dari mana dia punya sampo wangi buah seperti itu? Setahuku di kamar mandi tidak ada jenis sampo buah, apa aku tidak melihatnya?" ucap Ernest, di dalam hatinya.


"Ayo, Tuan. Barusan resepsionis mengabariku, bila Tuan dari Perusahaan X sudah datang dan ada di ruang meeting."


Felix berlari meninggalkan Ernest saking terburu-burunya. Sementara Ernest masih setia memikirkan masalah perkara sampo istrinya.


Moana yang melihat ke anehan pada Felix dan juga Ernest, langsung melambaikan tangan di depan wajah suaminya.


"Hallo, Tuan. Apakah kau melamun?" tanya Moana, khawatir.


"Aakh, ti-tidak. Saya tidak melamun, jangan sok tahu ya. Saya hanya lagi nunggu Felix, dia lagi mengambil berkas di ruangannya untuk meeting."


Ernest mencoba untuk menutupi rasa gugupnya, setelah aroma buah itu tercium kembali di rambut istrinya.


"Aku ini bukan anak kecil yang bisa Tuan, bohongi. Jelas-jelas tadi akulihat Tuan Felix berlari ke arah lift sambil membawa berkas dan mengajak Tuan. Akan tetapi, Tuan malah diam kaya patung. Aneh!"


"Sudah tahu di tungguin, malah pergi sendirian. Dasar asisten bod*doh!"


"Kalau begini tuh cewek jadi besar kepala, dan menganggapku telah membohonginya. Arrghh, si*al!"


"Awas saja kau Felix, gajimu bulan ini akan aku potong setengah. Biarkan saja, biar tahu rasa. Enggak jadi nikah, enggak jadi sekalian!"


Ernest mendumel di dalam hatinya sendiri sambil meninggalkan Moana yang masih membersihkan mejanya.


Berbeda dengan Felix yang sudah sampai di ruangan meeting seorang diri dalam keadaan tergesa-gesa.


"Hahh, hahh ... Ma-maaf semuanya kami terlambat." ucap Felix terbata-bata sambil mengambil napasnya dalam-dalam dan sedikit membungkuk memberikan penghormatan pada semua rekan bisnis.

__ADS_1


"Kami? Maksudnya?" tanya salah asisten dari Perusahaan X.


"Ya, saya dan Tuan Er--"


Saat Felix menoleh ke arah sampingnya, dia tidak menemukan Ernest. Lantas dimana Ernest berada? Itu menjadi pertanyaan semuanya yang masih bingung oleh penjelasan Felix.


"Dimana Tuan Ernest?" tanyanya kembali.


Setelah mengingatnya Felix menepuk dahinya, saat dia mulai menyadari kesalahan yang sangat fatal.


"Mampus, gua! Alamat tabungan nikah lama ngumpulnya, pasti Tuan sudah mengancang-ancang untuk memotong gajiku. Nasib-nasib, baru juga ingin nikah malah di persulit kaya gini*!"


"Lagian ngapain tadi aku pakai acara lari-larian segala, jadinya meninggalkan Tuan di atas 'kan? Tuan juga salah, ucapan yang seakan-akan ingin memecatku, malah membuatku kaya di kejar-kejar salpol PP. Huhh, dahlah. Pasrah aja kau Felix, acara nikahmu harus kembali di undur!"


Suara hati Felix benar-benar sangat pasrah, apa lagi Ernest terbilang atasan yang selalu tepat waktu. Bahkan dia juga tidak segan-segan memotong gaji karyawan yang telat, atau membuat masalah dengannya. Termasuk asistennya sendiri yang selama ini menjadi tangan kanannya.


Tak lama Ernest datang membuat semua orang berdiri memberikan penghormatan sambil bersalaman. Dimana yang lainnya tersenyum lebar. Ernest malah tersenyum kecil, nyaris tidak terlihat. Mereka duduk bersama, sesekali Ernest melirik tajam ke arah Felix.


Di situ Felix benar-benar sudah ma*ti kutu, dia hanya bisa menunduk dan menunduk. Kemudian meeting pun segera di mulai, dengan pembukaan yang di lakukan oleh asistem Perusahaan X.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2