Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Menyesalin Semuanya


__ADS_3

Hanya di berikan sedikit kode seperti itu, Justin sudah mengerti. Meski usianya terbilang kecil, Moana sudah menanamkan pada Justin agar dia bisa menjadi anak yang lebih menghormati orang tua.


Dari dulu memang Justin tidak pernah ikut campur apapun tentang Moana, tetapi ketika dia melihat Moana sudah menangis maka jangan harap Moana bisa menyembunyikan sesuatu padanya. Sebab, Justin tipikal anak yang sangat detail menanyakan sesuatu sampai menemukan akar permasalahannya.


"Kenapa kau melarang Justin untuk berbicara? Apa kamu takut kalau aku akan mencari tahu tentang suamimu yang baru iya?" ucap Ernest sedikit memberikan penekanan.


"Kamu sudah bukan suamiku, jadi terserah aku mau menikah lagi atau tidak itu bukan urusanmu. Setidaknya kamu bisa menikah dengan wanita yang kamu pilih itu!"


Ernest terdiam sejenak mencerna apa yang dia tangkap dari perkataan Moana. Setelah menemukan jawabannya, barulah Ernest mengatakannya sesuai sama apa yang dia ketahui tanpa adanya kebohongan.


"Maksudmu, Dinda? Asisten pribadiku yang baru itu? Jadi, kamu cemburu dengan dia lalu memutuskan untuk berpura-pura meninggal kemudian menikah sama orang lain?"


"Tidak, bukan itu! Aku tidak ada masalah tentang pilihanmu, mau menikah dengan siapapun itu hakmu. Cuman, aku merasa sudah tidak kuat lagi bertahan hanya untuk menerima semua rasa sakit itu yang seharusnya bukan aku orang yang pantas kamu sakiti!"


Tatapan Moana penuh kekecewaan membuat Ernest merasa sangat bersalah. Moana terus menjelaskan pada Ernest sambil mengobati luka Justin, di mana dia tidak mempermasalahkan apapun pada saat itu.


Hanya saja, tujuan Ernestlah yang menjadi masalah bagi Moana. Di situ sudah jelas, Ernest memang berniat untuk menjatuhkan mentalnya agar Moana bisa merasakan apa yang Ernest rasakan.


Jelas-jelas, seharusnya Ernest membalaskan semua itu pada orang yang tepat bukan pada Moana, tapi Felix. Dialah sumber masalah yang sampai detik ini membuat hidup Moana berantakan.

__ADS_1


Dari semua penjelasan yang Moana berikan, Ernest bisa menyimpulkan jika Moana pergi bukan karena pihak ketiga. Melainkan rasa tidak kuatnya karena tetap bertahan sama orang yang di percaya untuk membahagiakan, pada akhirnya menyakitkan.


"Sekarang kamu sudah tahu kalau aku dan Justin masih hidup, jadi pergilah. Menjauh dari kami, dan jangan pernah mengganggu hidup kami. Kami sudah sangat bahagia dengan hidup yang baru ini, jadi kamu tidak berhak menghancurkannya kembali!"


"Sudah cukup aku bertahan sama pria yang selalu inginnya di perjuangkan, tapi tidak bisa membalas semua yang sudah aku berikan. Ibarat kata, aku sudah memberikan semua nyawaku padamu, tapi kamu hanya memberikan secuil nasi agar bisa mengganjal perutku yang lapar untuk beberapa menit kedepan."


"Andaikan, pada saat itu kamu bisa sedikit saja menurunkan egomu dan menerima Justin. Mungkin, kehidupan kita akan sangat bahagi, tapi nyatanya aku salah. Dari dulu kamu tidak bisa bersikap adil pada keluargamu sendiri dan selalu mementingkan ego dari pada hati atau kebenaran. Jadi, sampai kapanpun kamu tidak akan pantas menjadi kepada rumah tangga, suami ataupun ayah!"


Hati Ernest bergetar hebat ketika mendengar perkataan terakhir Moana. Memang, Ernest akui dia sangat egois atas semua yang terjadi padanya. Akan tetapi, dia juga manusia yang tempatnya dosa dan salah. Seharusnya Moana tidak berkata kasar seperti itu padanya, sebab itu sangat menyakitkan hatinya.


Namun, bagaimana lagi. Moana sendiri juga tidak tahu, itu semua keluar secara spontan dari mulutnya tanpa di saring terlebih dahulu. Mungkin, dengan Moana berkata seperti itu tidak akan membuat Ernest sakit, karena kekebalan rasa egoisan yang Ernest miliki.


Akan tetapi, Moana tidak tahu. Bila saat ini, Ernest benar-benar sudah berubah, dia sangat menyesali semua kesalahan yang dia perbuat di masa lalu pada mereka.


Justin melihat kesedihan di wajah Ernest, membuat hatinya tersentuh. Ingin rasanya Justin berhambur memeluk Ernest, tapi dia urungkan niatannya demi menjaga dirinya agar tidak percaya sama sandiwara yang Ernest lakukan.


"Aku tahu, aku bukan ayah sekaligus suami yang baik untuk kalian. Aku hanya manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan, sampai-sampai aku lebih mementingkan egoku sendiri dari pada kalian. Aku tahu kalian pasti kecewa 'kan, atas sikapku di masa lalu, apa lagi aku yang sudah menyakiti hati kalian yang membuat kebencian melekat di hati kalian. Cuman, gapapa. Aku bisa mengerti itu semua, kok. Aku memang pantas mendapatkannya, karena aku sudah sangat keterlaluan memperlakukan kalian bukan layaknya keluarga, melainkan musuh!"


"Aku sadar, jika kita berbicara tentang penyesalan. Pasti itu sudah terlambat, bukan? Namun, aku tidak akan pernah berhenti untuk beribu-ribu kata mengucapkan maaf, maaf dan maaf atas semua sikapku pada kalian. Aku benar-benar sangat menyesali semua perbuatanku. Kalau kalian ingin menghukumku, silakkan. Aku terima, aku siap dan aku akan menjalankannya tanpa mengeluh. Aku janji!"

__ADS_1


"Hidupku sudah sangat hancur setelah aku mengetahui kalau kalian sudah pergi meninggalkanku. Aku pun sudah tahu tentang kebenaran itu melalui video yang Felix berikan, di mana kamu dan Justin tidak bersalah. Atas berita kema*tian kalian, hubunganku pada Felix sudah jauh lebih baik dan untuk Dinda. Aku dengannya hanya melakukan semuanya atas dasar pekerjaan bukan yang lain. Pada saat itu karena emosiku tidak terkontrol, makannya aku memberikan pekerjaan itu pada Dinda untuk membuatmu merasa cemburu, sakit hati dan lain sebagainya. Dengan begitu aku bisa melihat penderitaanku sendiri di bola matamu!"


"Sayangnya, semua itu adalah satu langkah buruk yang menjebak diriku sendiri untuk berada di posisi ini. Sampai akhirnya aku sadar, semua itu adalah ambisi yang seharusnya tidak ada. Sehingga aku tidak akan kehilangan kalian berdua seperti ini. Sekali lagi maafkan aku, aku menyesali semua yang sudah aku lakukan sama kalian. Aku ingin kalian kembali padaku, aku tidak mau kehilangan kalian. Aku tidak rela!"


"Justin, mau 'kan kembali sama Daddy? Daddy janji, Daddy tidak akan marahin Justin. Daddy akan nemenin Justin main setiap hari, kalau perlu sampai kita ketiduran gimana? Justin mau 'kan? Daddy kangen sama Justin, Daddy rindu main sama Justin. Rindu di marahin Justin juga rindu di peluk setiap pulang kerja sama Justin. Pokoknya rindu semuanya, maafin Daddy. Daddy kangen!"


Tangis Ernest pecah begitu saja ketika dia memeluk Justin yang terkejut. Tubuhnya mematung seketika, air matanya kembai menetes saat kehangatan pelukan itu baru kembali Justin rasakan setelah sekian lama dia mengharapkan pelukan tersebut.


Barra yang darintadi anteng mainan, tiba-tiba dia merangkak sambil merayap berdiri untuk menggapai Ernest di mana Ernest refleks memeluknya serta menciumnya bergantian sama Justin.


Melihat pemandangan itu, entah mengapa membuat Moana tersenyum sekilas. Kemudian mengalihkan pandangannya ke samping sambil mengusap air matanya. Lalu, segera mengambil Barra dari tangan Ernest.


Moana tidak menyangka Barra begitu peka saat melihat Ernest berada di dekatnya, langsung mendekat. Berbeda sama Thoms, terkadang Barra malah menjauh saking takutnya dan kadang juga mendekat dengan sendirinya.


Tidak bisa di pungkiri, ikatan batin seorang ayah dan anak memanglah kuat. Ernest yang tadinya kesal melihat Barra, sekarang malah menjadi luluh ketika dia merangkak mendekatinya penuh senyuman.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2