
Moana bisa menyaksikan betapa takutnya Justin pada paman yang selama ini telah dianggap sebagai papanya, sebelum Ernest mengakui semua yang sudah terjadi.
Melihat trauma yang ada di dalam diri Justin, Thoms perlahan memberikan jarak 1 kursi dari tempatnya duduk sekarang. Itu semua dia lakukan demi kenyamanan Justin. Thoms merasa sangat-sangat bersalah, tetapi belum bisa berpikir keras bagaimana cara memperbaiki semua ini. Fokusnya hanya satu, semoga keadaan Kanaya baik-baik saja.
Perlahan Moana mengusap paha Justin, kemudian tangan satunya mengelus tangan sang anak, "Kenapa, Sayang? Kenapa takut sama Papa, hem? Papa tidak sejahat yang Jistin lihat tadi, percaya sama Mommy. Papa itu kakaknya Mommy, jadi mana mungkin Papa jahat sama kita."
"Ta-tapi, Mom. Ta-tadi Papa jahat sama Ade, Papa mau sakiti Ade. Te-terus, Papa juga udah nyakitin Opa sampai Opa terluka dirawat. Se-sekarang Ta-tante cantik itu juga udah masuk rumah sakit karena Papa. Jadi, Papa itu sudah pasti orang jahat, Mom. Kenapa Mommy belain Papa, dia itu bukan orang baik. Lihat saja, semuanya masuk rumah sakit karena Papa!"
"Untung Ade gapapa, coba kalau Ade masuk rumah sakit kaya Opa sama Tante cantik itu. Justin bisa pastikan, Justin tidak mau kenal Papa dan Justin akan membalas apa yang Papa lakuin sama Ade!"
Moana melirik ke arah Thoms, begitu juga Thoms. Mereka saling bertatapan karena teringat akan ucapan yang Naya katakan sebelum dia dibawa ke rumah sakit. Apa yang nama bicarakan benar-benar sama seperti ucapan Justin saat ini.
Untung saja kejadian itu belum sempat terjadi, seandainya sudah mereka tidak akan bisa membayangkan apa yang Thoms kecil rasakan kembali dirasakan oleh Justin.
Moana kembali tersenyum menatap sang anak, mengusap pipi san tangan secara bersamaan. "Dengarkan Mommy ya, Sayang. Saat ini Justin masih sangat kecil untuk memahami semuanya. Nanti jika Justin sudah bisa memahami keadaan, Mommy akan ceritakan kalau apa yang dilakukan oleh Papa bukan karena Papa orang jahat. Akan tetapi, ada pemicu lain yang membuat Papa bisa melakukan sejauh ini."
"Mommy tahu, anak Mommy ini anak yang paling baik, hebat, dan juga bijaksana. Mommy mohon, Justin harus bisa mengerti, ya. Dulu Justin bisa melewati rasa takut dari Daddy, sekarang Justin juga harus bisa melewatinya untuk Papa. Justin paham 'kan, apa yang Mommy bicarakan ini?"
Justin menoleh ke arah Ernest, di mana sang daddy tersenyum menganggukan kepalanya sambil merangkul Justin serta mencium pucuk kepala. Setelah itu, mata Justin melirik ke arah Thoms yang terlihat begitu frustasi memikirkan tentang keadaan Naya di dalam.
__ADS_1
Thoms membungkukkan badan, menjambak keras rambutnya menggunakan kedua tangan sambil menangis netapan ke arah lantai. Kali ini Thoms merasa bod*doh, bisa-bisanya dia dikendalikan oleh anak buahnya sendiri yang tidak bertanggung jawab. Sehingga, hasutan kebencian terus berkorban di dalam hati Thoms sampai hampir melukai semua orang yang dia sayang.
Justin menatap Moana seperti meminta jawaban apa yang terjadi pada Thoms. Hanya saja, Moana malah memberikan isyarat agar Justin menanyakan hal itu langsung kepadanya tanpa harus diwakili. Hitung-hitung, Moana ingin kembali mendekatkan sang anak pada pamannya supaya tidak lagi merasa ketakutan.
"Dekati Papamu, ajak dia berbicara. Kasihan, Papamu lagi sedih karena Tante cantik sakit. Daddy yakin kok, Papamu tidak akan menyakitimu lagi. Dia pasti sudah sadar apa yang dilakukannya tadi adalah sebuah kesalahan besar. Jadi, peluklah Papamu. Berikan dia semangat supaya tidak merasa sendirian. Ayo, Daddy sama Mommy akan berjaga-jaga di sini."
Ernest memberikan pengertian terhadap sang anak yang masih ketakutan melihat Thoms. Jangankan memeluknya, menatap wajah Thoms pun Justin masih begitu takut.
Tidak lama dokter datang untuk mengecek keadaan Justin dan Barra. Tidak mungkin mereka semua meninggalkan Thoms seorang diri di sini dalam keadaan masih terlihat menyesal. Ernest mengambil keputusan supaya Moana menemani anak-anak supaya bisa dicek sikisnya supaya tidak akan menimbulkan trauma berkelanjutan.
Sementara itu, Ernest menemani Thoms sampai keadaan mulai membaik. Moana menyetujui semua itu, walaupun hatinya sedikit takut jika mereka berdua akan kembali berkelahi. Cuma, melihat kondisi sudah mulai membaik Moana menuruti apa yang dikatakan suaminya.
Ernest duduk di samping Thoms, mengusap punggungnya membuat pria itu langsung menoleh ke arah samping.
"Tenanglah, Kak. Aku yakin gadis itu baik-baik saja, melihat dari caranya menolongmu. Aku bisa menyimpulkan kalau dia bukanlah wanita yang lemah, percayalah! Tuhan akan memberikan keajaibannya, selagi Kakak mau meminta pada-Nya."
"Bagaimana bisa aku berdoa, sedangkan tanganku terdapat banyak dosa. Pasti, Tuhan pun enggan menerima doaku."
"Tuhan bukan manusia, jadi Kakka tidak perlu takut. Dulu aku juga malu berdoa sama Tuhan, sebab aku merasa dosaku sudah terlalu banyak saat aku menyakiti istriku sendiri. Namun, siapa sangka? Saat aku kembali mendekatkan diri pada-Nya. Maka, sesulit apa pun rintangan bisa aku lewati hanya tinggal memohon pada-Nya, merendahkan kepala serendah-rendahnya, kemudian berdoa melalui hati kecil yang paling dalam."
__ADS_1
"Apakah itu langsung berhasil? Jika memang itu berhasil aku akan melakukannya sekarang juga demi Naya. Aku tidak mau kehilangannya, aku pengen Naya kembali bersamaku. Aku janji aku akan melepas semua ini demi dia!"
Ernest tersenyum, kemudian duduk menatap ke arah pintu sambil sedikit membungkukkan badan dan menggenggam tangannya sendiri.
"Untuk masalah berhasil atau tidaknya, kita serahkan pada Tuhan. Dia tahu mana yang terbaik buat kita atau tidak. Terpenting kita memiliki niat untuk berubah, kita punya tekat mewujudkannya dan berjuang ma*ti-ma*tian meskipun, dari banyaknya doa hanya sebagian kecil yang Tuhan wujudkan. Tetap kita harus merasa senang karena beban kita perlahan mulai diringankan."
"Jadi, saranku. Jika Kakak ingin meminta doa, pintalah sebanyak-banyaknya tanpa berhenti. Entah, doa mana yang lebih dulu terwujud tetap saja satu persatu akan terlihat hasil dari perjuangan. Dan, untuk masalah janji Kakak itu. Cukup ucapkan di dalam hati, niatkan dan lakukan. Tidak perlu Kakak berkoar-koar, sebab pria yang dipegang janjinya, ucapannya, bukan sekedar omong kosong. Kakak paham apa yang aku katakan ini?"
Tidak bisa berkata apa-apa lagi, Thoms langsung memeluk adik iparnya. Lalu, mengucapkan kata maaf berkali-kali sampai Ernest bosan untuk mendengarkan permintaan maaf serta rasa penyesalan terdalam.
Sekarang hubungan Ernest dan Thoms sudah kembali membaik. Mereka tidak lagi seperti beberapa saat lalu, atau kemarin-kemarin yang cuek bebek tanpa menghiraukannya.
Di saat mereka sudah kembali berteman, kini ada satu perkataan dari salah satu mereka yang berhasil membuyarkan suasana itu. Kira-kira apa yang ditanyakan, dan siapa yang bertanya?
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...