
Lagi-lagi Naya menangis sesegukkan hanya sekedar meminta maaf serta mengatakan terima kasih berulang kali kepada Thoms. Jika bukan karena Thoms, kemungkinan Naya tidak bisa menyelamatkan hidupnya seperti dulu.
Bagi Naya, Thoms adalah malaikat penyelamat yang Tuhan kirim untuk menjaganya dari bahaya yang ingin mendekat. Naya tidak peduli siapa Thoms, terpenting Naya tahu bahwa Thoms bukanlah pria yang memiliki sifat seperti ayah sambung tidak tahu diri itu.
Tubuh Thoms langsung kaku tidak bisa digerakan sama sekali. Jantungnya mulai berdebar begitu cepat layaknya seseorang yang habis melakukan lomba balap lari. Napas Thoms terasa sesak, tetapi bukan karena dipeluk, melainkan ada sesuatu yang tidak bisa Thoms jelaskan menggunakan kata-kata.
Kini, wajah yang biasa terlihat datar tanpa ekspresi sedikit saja seketika berubah kemerah-merahan persis seperti anak kecil yang lagi malu-malu kucing. Perasaan ini tidak tahu kenapa terasa sangat berbeda dari biasanya, padahal Thoms sangat sering dipeluk oleh seorang wanita ketika sedang memadu kasih. Akan tetapi, kali ini Thoms merasa benar-benar aneh juga asing.
A-astaga, a-ada apa dengan jantungku? Ke-kenapa rasanya seperti ini? Pe-pelukan ini membuatku seperti tersengat aliran listrik yang entah dari mana asalnya. A-apa karena dia orang asing? Akhh, tidak juga. Biasanya aku tidur dengan siapapun rasanya tidak semenegangkan ini. Cuman kenapa ketika dia berada di sampingku malah membuatku deg-deg'an gini, a-apa jangan-jangan aku menaruh hati padanya?
Hyaakk ... tidak, tidak tidak! Mana mungkin aku jatuh cinta hanya karena pelukan, hahh dasar lemah! Baru juga di peluk udah langsung baper, seakan-akan dia ini kekasihmu. Bangun, Thoms, bangun. Dia memelukmu bukan berarti menyukaimu, melainkan karena dia sangat berterima kasih atas pertolongan yang sudah kau berikan padanya. Sampai sini paham?
Suara hati Thoms benar-benar gelisah juga sedikit tidak karuan. Maklum saja, Thoms baru kali ini merasakan perbedaan di dalam hati tidak seperti biasanya ketika bermain wanita.
Sementara Naya, dia masih belum menyadari atas aksinya yang membuat Thoms merasa resah. Apa lagi si dedek yang bersarang di dalam celana, kembali terbangun setelah sekian lama tidak bangun lagi. Padahal tidak di sentuh oleh Naya, tetapi getaran hati juga aliran listrik yang menyengat tanpa disengaja telah memanggil si dedek untuk bangun.
Sudah cukup, Thoms. Hentikan semua ini atau kau akan kembali menambah traumanya yang semakin mendalam! Ingat, dia wanita baik-baik jadi jangan kau nodai seperti wanita yang pernah tidur dengamu. Paham!
Susah payah Thoms mengendalikan sesuatu dalam tubuhnya yang sekarang sudah dalam mode on. Di mana sang dedek benar-benar tidak tahu kondisi, hanya dengan dipeluk dia telah memberontak ingin memasuki sarang. Akan tetapi, Thoms berusaha keras untuk mengalihkan pikiran serta gerakan tubuh yang hampir menyentuh Naya.
Segera mungkin Thoms menyudahi semua aksi Naya yang sangat meresahkan. Dia berdehem cukup keras membuat Naya langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Thoms.
__ADS_1
"Ekhem, ekheem ...."
Naya langsung mendongak ke atas melihat wajah Thoms yang sangat memerah, saat menyadari aksinya. Naya segera melepaskan pelukan itu dari tubuh Thoma yang terasa kekar berisikan oto-otot yang begitu kencang.
"Ehh, ma-maafkan saya, Tuan. Sa-saya tidak sengaja, sekali lagi maafkan saya!" Naya langsung menundukkan kepalanya sambil memilin-milin baju rumah sakit akibat rasa malunya.
Baru pertama kali Naya memeluk seorang pria seperti ini, rasanya dia terlalu nyaman sampai-sampai tidak mengetahui apa bila pelukan yang Naya berikan malah membuat sang dedek menunjukkan pesonanya.
Setelah pelukan Naya dilepas, Thoms langsung bisa bernapas dengan lega. Akan tetapi, tanpa Thoms ketahui mata Naya melirik ke arah gundukan celana yang menarik perhatiannya.
"Tu-tuan, a-ada apa dengan celanamu? Ke-kenapa dia bengkak seperti i-itu? A-apa bu-burungnya sedang sakit?" tanya Naya membuat Thoms menyadari hal tersebut dan langsung menutupi si dedek menggunakan kedua tangannya.
Thoms berbalik membelakangi Naya dalam keadaan wajahnya yang sudah semakin memerah. Rasa malu yang benar-benar tidak terbendung berhasil membuat Thoms gugup untuk menjawab apa yang Naya tanyakan.
"Ti-tidak, saya tidak apa-apa. Sa-saya ingin ke-ke kamar mandi dulu!" Thoms perlahan berjalan miring membelakangi Naya persis seperti kepiting. Saat Thoms ingin membuka kamar mandi, Naya kembali menghentikannya.
"Tuan, lebih baik periksakan ke dokter saja. Burung Tuan itu sedang sakit, kalau dia tidak sakit pasti tidak akan bengkak seperti itu. Ini pasti gara-gara Tuan kurang hati-hati kalau pakai celana, siapa tahu dia terjepit resleting atau bisa juga karena celana Tuan yang kesempitan membuat dia tidak bisa bernapas. Dari jadi penyakit yang berbahaya, lebih baik saya panggilkan dokter ya?"
"Saya bilang tidak, ya, tidak! Burung saya baik-baik aja, dia hanya sedang ingin di manja bukan berarti sakit. Mengerti?"
Thoms langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk memuntaskan sesuatu yang harus dia keluarkan. Jika tidak, si dedek kecil pasti tidak akan kembali seperti bentuk aslinya yang masih imut-imut menggemaskan.
__ADS_1
"Hahh? A-apa tadi yang dia bilang, ingin dimanja? Emang iya, Tuan?" tanya Naya menatap ke arah bodyguard yang sedang berusaha menahan tawanya.
Bodyguard tersebut hanya mengedikkan kedua bahunya saking tidak bisa membuka mulut yang dari tadi sedang menahan tawa.
"Hahh, aku tidak percaya. Masa iya sih, burung Tuan Thoms ingin dimanja jadinya seperti itu? Jelas-jelas itu besar sekali, seperti habis disengat ta----"
Naya menghentikkan ucapannya saat mendengar suara-suara yang sangat asing ditelinga. Sementara bodyguard tersebut sudah tidak kuat menahan tawa segera pergi keluar begitu saja.
Bodyguard itu tertawa geli sampai membuat ketiga temannya yang berjaga di sana menjadi bingung. Sesekali dia mulai menjelaskan apa yang telah terjadi di dalam tadi, baru juga diceritakan mereka langsung ikut tertawa bersama. Meskipun tawa mereka tidak terlalu kencang, tetap saja membuat salah satu suster mencoba untuk menghentikan mereka karena telah mengganggu pasien yang lain.
"Akhhh, hahhh, huhh, hahh ...." Suara merdu Thoms terdengar sampai keluar yang semakin meyakinkan Naya kalau burung Thoms sedang sakit.
"Nahkan, dia menjerit kesakitan. Wahh, ini sih, udah fixs kalau burung Tuan lagi sakit. Pokoknya aku harus segera memanggil dokter, kasian Tuan di dalam pasti sedang kesakitan, aku harus cepat-cepat!"
Naya mulai panik saat mendengar Thoms terus mengeluarkan suara-suara aneh. Tombol merah kecil yang ada di dekat bangkarnya langsung Naya pencet berulang kali untuk memanggil dokter.
Padahal Thoms di dalam sudah berusaha menahan suara indahnya agar tidak terdengar sampai keluar kamar mandi. Akan tetapi, kamar mandi rumah sakit dan rumah Thoms berbeda jauh. Sehingga tanpa Thoms sadari dia telah menunjukkan suara-suara khas ketika sedang memanjakan si dedek kecil yang jantan.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...