
Felix dan Dinda kembali mengucapkan terima kasih kepada Moana, lantaran dia sudah memaafkan semua kesalahan yang pernah mereka lakukan di masa lampau.
Mereka paham, tidak mudah bagi Moana kembali dekat sama mereka layaknya seorang sahabat. Hanya saja, Dinda dan Felix tidak akan menyerah agar hubungan mereka bisa kembali membaik. Mungkin, untuk saat ini mereka harus memberikan ruang tersendiri agar Moana bisa lebih nyaman.
"Terima kasih, De ... ma-maaf, maksudnya terima kasih, Moana."
Felix terlihat begitu merindukan panggilan adik seperti dulu saat hubungan mereka masih baik-baik saja. Di mana Felix bisa dengan bebasnya memanggil Moana, tidak seperti sekarang yang harus lebih berhati-hati lagi untuk menjaga adap sopan santu di dalam lingkungan yang masih terasa sedikit asing.
Moana menganggukkan kepala perlahan sambil tersenyum. "Apakah kalian sudah menikah?" Sekilas Felix dan Dinda menatap satu sama lain, lalu kembali mengukir senyuman manis untuk Moana dalam keadaan penuh kebahagiaan.
"Wah, senangnya. Selamat ya, semoga hubungan pernikahan kalian bisa langgeng sampai maut memisahkan dan kalian segera dikaruniai anak-anak yang cantik juga tampan," ucap Moana, langsung di aminkan oleh mereka berdua.
"Aamin, terima kasih banyak atas doanya. Kami baru menikah kurang lebih satu Minggu yang lalu, hanya saja waktu itu kami mengundang kalian cuman kata Ernest kalian lagi terkena musibah. Jadi, kami harus mencoba untuk memahami semua keadaan yang penting kalian sudah kembali bersama itu sudah membuat kami bahagia."
"Di tambah juga kalian mengadakan resepsi, bertepatan sama kami yang lagi honeymoon jadi kami tidak bisa menghadiri semua itu. Bukan berarti kami tidak ingin hadir, hanya saja pada saat itu kami baru sampai dan ingin kembali menghadiri acara tersebut, tetapi kata Tante Elice tidak perlu memaksakan keadaan. Cukup doa tulus yang kalian butuhkan, sebagai pinjakan agar pernikahan kalian kali ini bisa jauh lebih baik dari sebelumnya."
Moana tetap tersenyum mendengar penjelasan Felix, dia paham sekali apa yang Felix rasakan. Mereka juga ingin sekali menghadiri acara Felix dan Dinda, tetapi pada saat itu kondisi mereka tidak memungkinkan dikarenakan Justin mengalami kecelakaan yang mengharuskan tangannya di gips untuk menjaga tulang yang bergeser supaya bisa kembali ketempat semula.
"Sudah, gapapa, santai aja. Apa yang Bunda katakan itu benar, doa kalian sudah lebih dari cukup untuk kami. Sama halnya kami yang tidak bisa menghadiri acara kalian, setidaknya kami berharap agar kalian bisa selalu bahagia. Oh, ya, apa kalian sudah makan?"
"Hem, be-belum sih, baru aja kami sampai dari bandara langsung pergi ke sini setelah honeymoon. Niatnya ke sini ingin memberikan hadiah ini untuk pernikahan kalian, serta oleh-oleh buat semua yang ada di sini. Satu lagi, kali juga mau sekalian meminta maaf karna---"
Perkataan Dinda terhenti, saat Moana langsung mengajak mereka untuk makan malam bersama. Berhubung mereka baru datang sudah bisa dipastikan saat ini perut keduanya dalam keadaan kosong. Itu artinya Felix dan Dinda datang diwaktu yang tepat, sehingga mereka bisa ikut merasakan kebersamaan yang lama sudah menghilang.
__ADS_1
"Udah, ayo, ikut aku! Kita makan malam bersama, anggaplah ini sebagai langkah baik untuk kita kembali menjalani hubungan persaudaraan mulai dari nol. Ayo, cepatlah!" ajak Moana.
Perlahan Moana berjalan mundur, sayangnya dia tidak mendengar langkah kaki yang sedang mengikuti dari arah belakang. Sampai seketika Moana langsung berbalik melihat Dinda dan Felix yang malah saling menatap satu sama lain.
"Astaga, malah diam dong, udah ayo, cepat! Nanti lauknya keburu habis di makan Juatin loh, dia semakin hari semakin gemuk," ucap Moana, tanpa harus berlama-lama segera menarik tangan Dinda.
"Sudahlah, ayo, jangan malu-malu. Mereka semua juga pasti senang kok, melihat kehadiran kalian. Kapan lagi kalian bisa nyobain masakan aku kalau bukan sekarang, hem?"
Dinda benar-benar terkejut melihat sikap Moana yang sudah mulai welcome menerima kehadiran mereka dengan nyaman. Tanpa membantah apapun, Dinda segera mengikuti ke mana Moana ingin membawanya sesekali melirik sang suami yang setia berdiri di belakang sambil tersenyum.
Mereka bertiga melangkahkan kaki menuju ruang makan, di mana semua orang sedang menikmati makan malam penuh kehangatan, semangat juga kebahagiaan. Canda tawa dan kebisingan lainnya mulai terdegar di telinga mereka bertiga yang sebentar lagi akan sampai di ruang makan.
Dalam kondisi apapun, Ernest tetap menjaga anak-anak dan tidak lupa memperhatikan walau akses geraknya terbatas.
Bisa kebayang, bukan? Betapa bahagianya Felix saat dia kembali melihat anaknya yang sekarang sudah tumbuh besar, pandai berbicara, murah senyum, baik, mandiri juga tampan. Felix tidak menyangka bisa kembali dipertemukan oleh Justin sedekat ini, bagaikan sebuah mimpi yang selalu hadir di setiap malam.
Moana tersenyum melirik Dinda yang juga membalasnya. Tidak lupa mereka berdua menatap ke arah Felix yang sangat syok ketika dipertemukan oleh sang anak. Sudah lama sekali Felix tidak bertemu sama Jusin, jadi wajar bila dia hampir meneteskan air mata kalau Dinda tidak menggenggam tangan sang suami.
Moana melepaskan tangan Dinda, lalu maju beberapa langkah sambil tersenyum menyapa semua yang lagi fokus makan malam sesekali bercanda. "Bolehkah, tamu kita ikut makan malam di sini? Kasihan loh, mereka sudah jauh-jauh datang dalam keadaan perut kosong."
"*** ... loh, Felix, Dinda? Ka-kalian sudah kembali dari homeymoon di Prancis?" tanya Elice terkejut menatap kehadiran Felix juga Dinda, sama seperti Sakha yang tidak menyangka kedatangan tamu spesial.
Felix sama Dinda hanya bisa terus tersenyum kecil menatap malu kepada semua yang ada di sana. Mereka tidak menyangka kedatangannya langsung disambut sebaik itu oleh keluarga Ernest yang sudah seperti keluarga Felix sendiri.
__ADS_1
"Kenapa enggak bilang malam ini mau datang, 'kan kalau bilang kami bisa menjemput ke bandara terus juga nyiapin makan malam spesial buat pengantin baru, astaga ... ayo, sini duduk!" titah Sakha, diangguki oleh Dinda.
Elice berdiri lalu menarik Dinda untuk duduk tepat disampingnya bersama Felix. Hanya saja, ada satu orang yang tidak suka melihat kehadiran mereka. Siapa lagi kalau bukan Justin, anak kandung Felix yang menyimpan rasa kecewa cukup mendalam.
Tatapan mata Justin membuat Felix menjadi sangat gugup, baru kali ini Justin menatap Felix seperti seorang musuh. Seakan-akan kedekatan mereka diwaktu kecil tidak berarti apa-apa bagi Justin saat dia sudah mengetahui siapa Felix sebenarnya.
"Kalau ke sini kasih tahu, biar kami tidak terkejut seperti ini. Apa lagi lauk yang di masak tidak ada yang spesial, jadi----"
"Santai aja, Om. Kami ke sini niatnya hanya ingin mengucapkan selamat kepada Ernest dan Moana atas pernikahan mereka yang kedua kalinya. Harapan kami semoga hubungan mereka semakin bahagia dari sebelumnya, sekaligus kami juga ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah kami lakukan."
Felix mencoba menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang ke sini, semua bisa menerima semua itu. Akan tetapi, tidak dengan Justin. Rasa napsu makannya tiba-tiba saja menghilang, hingga terdengar suara sendok yang terlepas dari tangan mungilnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Moana, menatap Justin penuh khawatir.
"Aku udah kenyang, Mom. Kakak ke kamar dulu ya, ngantuk!" ucap Justin, wajahnya terlihat sangat datar.
Dia langsung mendorong tubuhnya perlahan dengan meja agar membuat kursi yang dia duduki berjalan mundur. Semua itu demi memberikan jarak supaya Justin bisa turun dengan leluasa, lalu pergi begitu saja tanpa mengukirkan senyuman. Semua mata terfokus mengikuti tubuh kecil itu yang sudah pergi meninggalkan ruang makan dalam keadaan badmood.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...