Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Cedera Akibat Terkilir


__ADS_3

Ernest terdiam sejenak menatap wajah anak serta istrinya yang sangat tulus untuk memaafkan juga menerima Ernest kembali berkumpul bersama mereka.


"Te-terima kasih, Sayang. Daddy terharu mendengar kata-kata Justin barusan, padahal daddy sudah sangat menyakiti kalian, tapi kalian bisa memaafkan daddy semudah itu. Sekali lagi daddy minta maaf, daddy janji daddy akan jadi daddy terbaik buat Justin juga Barra. Daddy tidak mau mengecewakan kalian seperti dulu lagi," ucap Ernest, menteskan air matanya.


"Daddy jangan nangis lagi ya, Justin sama mommy udah maafin daddy, kok. Ya 'kan, Mom?"


Moana menganggukan kepalanya perlahan sambil menatap suaminya penuh senyuman. Di saat mereka sedang menikmati suasana yang bahagia akibat rasa terharu terhadap sikap Justin, tiba-tiba saja sang dokter datang membawa hasil ronsen Justin.


Perasaan Moana serta Ernest langsung kembali tegang, mereka benar-benar takut apa bila anaknya mengalami patah tulang yang tidak bisa lagi di sembuhkan. Jika benar, maka kesedihan mereka akan semakin bertambah setelah mengetahui kondisi Ernest yang masih belum tahu kapan sembuhnya.


"Permisi, Tuan, Nyonya. Hasil ronsen sudah keluar, bisa saya mulai untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan kondisi tangan pasien?" ucap dokter, tersenyum kecil.


"Silakkan, Dok!" ucap Moana.


Ernest hanya bisa menyimak dari bangkar sebelah Justin sambil menjaga Barra yang masih tertidur. Kemudian dokter menjelaskan tentang kondisi Justin.


"Baik, Nyonya. Jadi, begini Tuan, Nyonya. Kondisi pasien baik-baik saja, patah tulang yang kita khawatirkan ternyata tidak ada. Kesakitan yang pasien rasakan akibat tangannya sedikit terkilir, membuat tulangnya sedikit bergeser."


"Tenang saja, itu tidak berbahaya. Tulangnya bisa kembali sempuna setelah melakukan beberapa terapi ringan untuk mengembalikan kondisi tulang seperti semula. Hanya saja pasien harus menggunakan gips kurang lebih dua sampai tiga bulan yang akan mendatang, jika sudah aman maka gips bisa di lepas sesuai dengan kondisi pasien."


"Saya minta tolong kepada Tuan dan Nyonya untuk menjaga pasien dengan baik. Jangan perbolehkan untuk melakukan hal yang berat agar tangan yang sedang cedera tidak banyak melakukan pergerakan, semakin banyak bergerak maka semakin membuat tulangnya bergeser. Ini semua demi kesembuhan pasien agar bisa lebih cepat."


Penjelasan yang dokter berikan benar-benar membuat Moana dan Ernest bisa bernapas sangat lepas, tidak seperti sebelumnya. Seakan-akan hidupnya sudah kembali saat mereka telah mengetahui kalau kondisi anaknya tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan.

__ADS_1


Betapa senangnya mereka saat mendapatkan kabar baik ini, padahal mereka hampir saja putus asa ketika sang dokter menduga bahwa Justin mengalami patah tulang. Akan tetapi, nyatanya Justin hanya cedera akibat pergeseran tulang yang tergilir.


"Saya akan lakukan yang terbaik sesuai arahan dari dokter, setidaknya anak saya bisa kembali pulih itu yang terpenting bagi saya," ucap Ernest, diangguki oleh sang dokter.


"Siap, Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik, kalau perlu bawa ke dokter spesialis tulang saja agar kesembuhan pasien bisa cepat dan tidak akan memakan waktu berbulan-bulan," jawab sang dokter membuat Moana dan Ernest saling menatap satu sama lain.


"Jika itu saran yang terbaik, maka kami akan mencari spesialis tulang yang bagus. Sebentar lagi kami juga akan pindah negara, jadi saya mohon selama kami berada di sini tolong lakukan yang terbaik sampai kami pindah. Bisa?" titah Moana.


"Bisa, Nyonya. Sebisa mungkin kami akan lakukan yang terbaik demi kenyamanan pasien." Senyuman sang dokter membuat mereka tenang, apapun yang akan dilakukan mereka hanya bisa mengikuti prosedur saja. Selebihnya nanti, mereka akan mencari dokter tulang terbaik setelah kembali ke tanah air.


"Baiklah, jika semuanya sudah mengerti. Saya pamit, masih ada kerjaan yang harus diselesaikan. Permisi, Tuan, Nyonya. Cepat sembuh ganteng, jangan banyak gerak, ya."


Dokter tersebut mengusap kepala Justin sambil tersenyum lebar, memberikan suport agar Justin lebih bersemangat untuk kesembuhannya. Justin menganggukan kepalanya membalas senyuman dari dokter.


"Terima kasih, dokter. Justin pasti sembuh, kok. 'Kan Justin anak pinter, harus kuat. Kalau Justin lemah nanti siapa yang bela daddy kalau daddy di jahatin lagi, kasihan daddy. Jadi, Justin harus sembuh."


"Dokter akan selalu berjuang buat kesembuhan Justin, jadi Justin harus makan yang banyak dan minum obatnya. Oke?"


"Oke, dokter. Terima kasih, dokter juga jaga kesehatan ya biar enggak sakit. Kalau dokter sakit nanti Justin enggak sembuh-sembuh hehe ...."


Sang dokter tertawa kecil ketika Justin mengajaknya bercanda. Setelah itu dokter dengan asistennya pergi keluar dari kamar rawat, sedangkan Justin langsung di minta beristirahat selesai minum obat.


...🌟🌟🌟🌟🌟...

__ADS_1


Di sebuah markas kecil, ketiga keluarga sudah terkumpul bersama anak-anaknya. Di mana Edo serta kedua temnnya sudah kembali ke dalam pelukn kedua orang tuanya.


Kedatangan Thoms membuat kedua orang tua mereka semua terkejut, tidak menyangka anaknya bisa berurusan oleh mafia besar yang sudah terbukti kejahatannya.


Suara sepatu pantofel yang terdengar semakin dekat berhasil mencabik-cabikkan perasaan mereka semua. Edo beserta kedua temannya sangat takut ketika tahu kalau Justin adalah salah satu keluarga dari King Mafia yang sangat sadis.


Thoms berdiri tepat di depan mereka semua yang duduk di lantai dalam kedaan sudah menangis penuh ketakutan. Perlahan kaca mata hitam, Thoms buka untuk bisa lebih menatap mereka secara instens satu persatu.


Hanya dengan tatapan saja mereka sudah gemetar, bagaimana tidak. Yang ada di dalam pikiran mereka saat ini hanya satu, mereka ingin hidup tanpa harus menumbalkan nyawa untuk membalas semuanya. Mereka takut jika tubuhnya akan disayat atau dikuliti oleh anak buah Thoms untuk dijadikan hewan kurban.


"Tu-tuan, maafkan kami, maafkan anak kami. Kami mohon, jangan bu*nuh kami. Kami masih ingin hidup, Tuan. Kami mohon, kami rela melakukan apapun bahkan menjadi budak asalkan kami tetap di berikan kehidupan!"


"Ya, Tuan. Maafkan anak kai, mereka hanya anak-anak yang belum tahu apa-apa, jadi saya mohon jangan biarkan mereka te*was di tanganmu, Tuan."


"Jika Tuan bersedia, ambillah semua harta kami. Kami rela, terpenting kami bisa hidup bersama keluarga kami tanpa harus menjadi korban. Saya mohon!"


Suara permohonan dari kedua orang tua Edo dan teman-temannya sudah terdengar sangat pasrah. Mereka hanya menginginkan hidup seperti biasanya tanpa harus menyerahkan nyawanya sendiri.


Namun, Thoms yang mendengar rin*tihan air mata mereka semua hanya bisa tersenyum miring. Mungkin, Edo dan kedua temannya memang bisa di katakan masoh anak dibawah umur, tetapi mereka tidak memiliki pendidikan yang bagus dari kedua orang tuanya. Sampai akhirnya keponakan dari King Mafia kejam telah menjadi salah satu korban pembullyannya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2