Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kebahagiaan Enza


__ADS_3

Di dalam mobil Enza terdiam dia berpura-pura ketakutan sambil menangis layaknya seseorang yang habis di culik. Melihat Enza seperti itu, membuat Thoms membuka kacamatanya lalu menyuruh sang supir untuk melanjutkan perjalanannya.


Di tengah-tengah perjalanan, Thoms menoleh ke arah Enza yang sedang melihat ke arah samping. Sesekali terdengar suara isakan sisa tangisannya.


"Sekarang kau mau di anter ke mana? Saya tidak punya banyak waktu lagi!" tanya Thoms, mendapat tatapan dari Enza.


"Saya tidak tahu, Tuan. Di sini, hidup saya sudah tidak aman. Saya tidak ingin menikah dengan pria bangkotan itu. Saya masih muda, hidup saya masih panjang. Jadi, saya tidak mau menyia-nyiakannya. Kalau pun saya harus menjadi pembantu Tuan, saya siap. Saya terima dengan senang hati, asalkan saya tidak menikah sama pria tua itu!"


Mendengar jawaban dari Enza, membuat Thoms pusing. Bukan karena dia tidak kasihan, melainkan Thoms tidak mengerti harus membawa Enza pergi kemana. Sementara dia harus kembali ke Amerika, karena semua pekerjaan sedang menunggunya.


"Tidak bisa, Nona. Saya harus kembali ke negara saya!" tegas, Thoms.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa ikut Tuan ke mana pun Tuan pergi, saya siap. Saya mohon Tuan, bantu saya. Bawa saya pergi dari sini, saya tidak mau di kejar-kejar sama pria tua itu. Saya ingin hidup bebas Tuan, tidak masalah saya menjadi pembantu atau apa pun. Asalkan Tuan bisa membawa saya kabur dari negara ini, saya mohon. Saya mohon!"


Enza mengemis kepada Thoms, sebab Enza tahu jika Thoms seperti memiliki kekuasaan yang bisa menyembunyikan jati dirinya dari pencarian Felix dan juga Ernest.


Tidak tahu harus berkata apa lagi, Thoms menyetujuinya dan membawanya pergi saat tahu kalau Enza memiliki paspor untuk ke luar negeri karena dia adalah mantan modeling.


Thoms sedikit terkejut dengan kisah Enza yang menceritakan kalau dia adalah seorang model, bahkan beberapa karyanya Enza tunjukkan melalui ponselnya.


Di situ Thoms baru bisa percaya sepenuhnya, pantas saja ketika melihat postur tubuh Enza membuat Thoms tidak percaya kalau dia bukan orang biasa.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kau ingin ikut dengan saya. Ada beberapa syarat yang harus penuhi, sanggup?" ucap Thoms, melirik ke arah Enza.


"Apa syaratnya, Tuan? Katakan, saya akan menyanggupi semuanya!" tanya Enza, antusias.


"Pertama, jangan pernah memberikan alamat lengkap di mana kamu tinggal nanti. Kedua, jangan pernah menanyakan mengenai pekerjaan saya, ke mana saya pergi dan sebagainya. Lalu yang terakhir, jangan pernah ingin tahu tentang kehidupan atau masa lalu saya. Paham!"


Tanpa berpikir panjang, Enza segera menganggukan kepalanya sangat cepat sambil tersenyum, "Ya, Tuan. Saya janji, saya tidak akan melanggar semua. Terpenting saya bisa bebas dari semua masalah itu, karena saya tidak mau hidup bersama pria yang tidak saya cintai!"


"Saya pegang janjimu, jika salah satu saja ada yang kau langgar, maka taruhannya adalah nyawamu sendiri. Saya tidak akan pernah memberikan ampunan bagi orang yang sudah berkhianat, mengerti?"


"Ya, Tuan. Saya janji itu! Terima kasih, karenaTuan sudah membantu saya!" ucap Enza sambil tersenyum.


Rasanya Enza benar-benar beruntung, karena dia di pertemukan dengan pria yang sangat baik. Apa lagi ketika melihat penampilannya membuat Enza semakin yakin, kalau Thoms bukanlah pria biasa yang tidak memiliki kekuasaan.


Namun, yang lebih-lebih mengejutkannya lagi. Thoms sama sekali tidak memperlakukan Enza bagaikan seorang pembantu, dia malah memberikan kebebasan untuknya seperti seorang Nyonya besar. Kapan pun Enza inginkan, dia bisa menyuruh semua orang yang ada di sana untuk melakukan sesuatu supaya semua keinginannya bisa di turuti.


Begitulah, cerita karangan yang Enza sampaikan pada Thoms. Sehingga dia hanya bisa tersenyum menatapnya, kemudian Thoms langsung mengalihkan obrolan mereka berdua.


"Baiklah, aku paham sekarang. Ya sudah, mari kita makan sebelum makanannya menjadi dingin," jawab Thoms mengukir senyuman di bibirnya.


Enza mengangguk kecil, lalu tangan mereka pun perlahan saling melepaskan satu sama lain kemudian menggantinya dengan menggenggam alat makan satu sama lain.

__ADS_1


Senyuman demi senyuman mereka lemparkan bersamaan dengan suapan pertama yang mulai masuk ke dalam mulutnya.


Mereka menikmati makan malamnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya ada senyuman dan juga tatapan mata mereka yang tidak ingin lepas satu sama lain. Sesekali, Thoms menggenggam tangan Enza sambil mengunyah makanannya.


20 menit berlalu, mereka telah selesai menyantap makan malamnya. Perlahan Thoms menggeser kursinya sambil berdiri. Mata Enza hanya bisa memperhatikan apa yang akan Thoms lakukan.


Ternyata, Thoms berlutut di hadapan Enza sambil menjulurkan tangannya untuk mengajaknya berdansa bersama. Tangan Enza spontan menutup mulutnya yang terbuka lebar, bersamaan dengan kedua matanya yang membola besar.


Tanpa menolaknya, Enza menggapai tangan Thoms sambil berdiri bersama-sama. Thoms membawa Enza untuk mengikuti setiap langkah yang akan dia pijakkan.


Setibanya di tempat khusus, lantunan melodi yang sangat romantis terdengar jelas di telinga mereka. Thoms segera memposisikan tubuhnya untuk menatap Enza, di mana kedua tangan Enza di arahkan untuk merangkul leher Thoms. Sementara kedua tangan Thoms berada di pinggang Enza.


Satu demi satu kaki mereka mulai melangkah bersamaan mengikuti lantunan melodi tersebut. Senyuman tidak pernah pudar sedikit pun dari bibir mereka, berbagai macam gerakan mereka lakukan penuh kebahagiaan.


Suasana hati Enza sudah tidak bisa di jelaskan lagi, dia benar-benar telah di buat oleh Thoms berada di atas awan sampai lupa untuk turun. Begitu juga Thoms, dia menikmati gerakan Enza yang sangat lihai.


Sampai tidak terasa, entah bagaimana caranya. Tiba-tiba saja mereka menari sambil menyatukan kedua bibirnya tanpa adanya penolakan satu sama lain. Sudah jelas, jika memang keduanya telah memiliki perasaan yang sama.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2