Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Benda Keramat


__ADS_3

Tangan Moana langsung menangkap tangan Ernest dan menaruhnya di pipi bagaikan bantalan pipinya, bersamaan dengan itu Ernest mendengar suara yang sangat menyentuh hatinya.


"Jangan tinggalin aku, aku mohon, Sayang. Aku mohon! Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Jadi, aku tidak mau kamu pergi. Aku mau kita sama-sama terus, Ernest. Please, jangan tinggalin aku!"


"Aku tahu, aku bukan wanita yang baik untukmu. Tapi, aku janji aku akan membuktikan kalau cintaku sama kamu ini benar-benar tulus dari lubuk hatiku, bukan sekedar omong kosong. Aku janji, Sayang. Aku tidak akan menyebalkan lagi, asalkan kamu tidak meninggalkanku dan Justin. Aku mohon, aku mohon hiks ...."


Suara kicauan khas orang mengigau berhasil membuat Ernest tidak bisa berkutik. Dia benar-benar syok saat mendengar semua perkataan Moana di saat tertidur.


Jika Moana mengatakan seperti itu sampai terbawa suasana mimpi, otomatis Ernest bisa merasakan kalau semua ini berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam. Artinya Moana tulus mengatakan semua itu, bukan sekedar kebohongan yang bisa di ucapkan ketika dia tersadar.


Kelihatan banget, bila Moana sedang bermimpi. Dia sangat takut kehilangan Ernest, air matanya pun menjadi bukti kuat. Tidak semua orang bisa bermimpi sambil menangis, walaupun Ernest tahu jika mimpi sama seperti bunga tidur. Akan tetapi, kali ini berbeda. Seakan-akan mimpi Moana itu memang nyata.


Bahkan setelah mendengar semua itu, jantung Ernest langsung berdebar sangat kencang. Rasanya dia seperti habis lari maraton dengan jarak yang sangat jauh, hingga membuat napasnya terasa sesak.


"A-ada a-apa ini? Ke-kenapa dia bisa bermimpi tentang diriku?"


Ernest sangat syok mendengar semua kata-kata yang Moana ucapkan, ini bukan masalah soal mimpi. Melainkan kata-kata indah yang tidak pernah Ernest dengar sebelumnya dari mulut Moana secara langsung.


"Tu-tunggu. Tadi, dia bilang apa? Di-dia telah mencintaiku? I-itu artinya dia sudah memiliki perasaan padaku? Sejak kapan? Terus kenapa dia tidak jujur? Apa karena dia gengsi untuk mengakuinya?"


"Hyaak ... Tidak, tidak, tidak! Kenapa juga aku musti mikirin kata-kata itu, toh itu cuman mimpi bukan nyata. Jadi, stop kege'eran Ernest!"


"Jika benar dia mencintaiku, kenapa harus menyatakannya melalui mimpi? Kenapa tidak secara langsung? Dasar aneh, tinggal ngomong aja susah!"


Ernest terus bergerutuki kekesalannya terhadap mimpi Moana. Padahal di dalam hatinya dia ingin mendengar Moana mengatakan semua itu secara langsung. Akan tetapi, tanpa dia sadari dia sendiri pun sangat-sangat gengsi untuk menyatakannya perasaannya sendiri.


Akhirnya, Ernest kembali mebangunkan Moana sampai dia terbangun. Sedikit terkejut, tetapi Moana langsung duduk dalam keadaan mengusap air matanya.

__ADS_1


Hanya saja, tanpa di duga Moana malah memeluk Ernest dan menangis sesegukan. Dia benar-benar takut banget akan kehilangannya.


"Please, jangan tinggalin aku, aku janji. Aku akan jadi istri yang baik buat kamu, asalkan kamu tidak meninggalkan aku. Aku mohon, hiks ...."


Untuk menutupi rasa gugup di dalam hatinya, Ernest malah memasang wajah kesal atas apa yang dia lakukan padanya.


"Astaga, Moana. Anakmu kegenjet ini!" pekik Ernest, membuat Moan refleks langsung menyudahi aksinya dan segera mengambil alih anaknya lalu memeluknya.


"Ma-maafkan Mommy sayang, Mommy tidak sengaja. Jangan nangis ya, uhh tututu ... Mau mimi, hem? Baiklah,"


Tanpa melihat Ernest yang ada di hadapannya, Moana langsung membuka beberapa kancing bajunya dan segera mengeluarkan sumber makanan Justin.


Seketika Mata Ernest langsung membola besar, bersamaan dengan air liurnya yang di telan secara kasar. Ernest tidak menyangka istrinya sebar-bar ini hanya karena dia melupakan keberadaan suaminya.


"Uhh, sayang. Ternyata kesayangan Mommy laper, iya? Uhh, tututu ... Mam yang banyak ya sayang, biar cepat besar. Nanti kalau udah besar bisa main bola sama Daddy, mau?"


"Astaga, Ernest. I-itu air li-liurmu!" ucap Moana terkejut melihat air liur Ernest yang hampir menetes.


Dengan cepat Ernest langsung mengelap air liurnya menggunakan tangan bersamaan dengan tubuhnya yang membelakangi Moana.


"Lain kali kalau mau nyusuin itu lihat kondisi, jangan asal main ngeluarin benda keramat. Paham, tidak?" ucap Ernest, gugup. Wajahnya memerah akibat menahan rasa malunya.


Sementara Moana yang baru menyadari segera membelakangi Ernest. Dia pun sama-sama terkejut, atas sikapnya yang sembarangan mengeluarkan benda keramat.


"Ma-maafkan aku, aku--"


"Jangan bilang kamu sengaja mengujiku, supaya kamu bisa tahu bagaimana reaksiku. Apakah aku ini normal atau tidak, begitu?"

__ADS_1


"Ti-tidak, a-aku tidak sengaja. Maaf, habisnya aku refleks. Jadi---"


"Bagaimana jika aku kelepasan, hahh? Apa kamu mau bertanggung jawab memberikannya?"


Entah keajaiban dari mana yang membawa Moana bisa mengatakan sesuatu, berlawanan dengan apa yang Ernest pikirkan.


"Ya, kalau memang kamu mau. Ya, sudah tinggal bilang, nanti aku pasti kasih kok."


Jawaban yang sangat di luar ekspetasi Ernest. Dia tidak menyangka bila istrinya semudah itu mengatakannya, sementara dirinya malah menjadi tremor ketika mendengarnya.


"Be-beneran ka-kamu ma-mau ngasih?" tanya Ernest, melihat tangannya yang mulai tremor.


"Ya, bener kok. Kalau mau bareng sama Justin, sini! Aku siap menampung dua bayi hihi ...."


Moana terkekeh kecil saat dia geli sama jawabannya sendiri. Padahal itu taktik bagi Moana untuk membuat Ernest takluk padanya, meskipun dia harus menahan rasa malu yang cukup berat.


"Hyaak ... Dasar wanita me*sum!" pekik Ernest langsung lari ke arah kamar mandi.


Melihat aksi Ernest yang salah tingkah, membuat Moana tertawa puas. Ternyata sangat mudah untuk memancing suaminya, mungkin dengan Moana bersikap seperti ini lama-kelamaan Ernest pasti akan luluh sendirinya.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2