Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kesembuhan Tangan Justin


__ADS_3

Sang dokter tersenyum menatap Thoms yang terlihat mengkhawatirkan kekasihnya. Loh, kok, kekasih? Ya, itulah. Akibat kata-kata cinta yang terucap dari bibir Thoms secara tidak sengaja, sang dokter dokter telah mengira kalau Nay adalah kekasih atau dambaan hatinya.


"Ba-bagaimana keadaan gadis itu? Apakah semuanya baik-baik aja?" tanya Thoms, sebisa mungkin untuk tetap tenang, walaupun hatinya sudah tidak karuan.


"Tuan tidak perlu khawatir, keadaan kekasih Tuan sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Detak jantungnya juga sudah mulai normal, hanya saja dia harus menjalani perawatan intens untuk beberapa hari demi ke depan demi menstabilkan tubuhnya yang masih terasa lemas."


Penjelasan dari dokter tersebut mampu membuat kedua mata Thoms melotot lebar sampai hampir saja terjatuh jika dia tidak mengedipkannya.


Thoms benar-benar tidak menyangka, dokter tersebut bisa berpikir sejauh itu karena bibir Thoms sendiri yang tidak sengaja melepaskan kata-kata cukup ekstream. Sehingga, membuat semua yang ada di sana langsung berpikir mengarah ke situ.


Setelah itu, mata Thoms mulai melirik ke arah dokter, suster, dan beberapa anak buahnya secara bergantian. Kali ini Thoms sudah benar-benar kehilangan imagenya lantaran telah membuat mereka berpikir terlalu jauh.


Melihat mereka semua benar-benar sudah salah paham terhadapnya, tanpa basa-basi dia harus segera menyelesaikan semua kesalah pahaman agar kembali percaya, kalau Thoms tidak seperti apa yang ada di dalam pikiran semua orang.


"Ke-kekasih? A-apa maksud Anda? Dia itu bukan kekasih saya, paham kalian!"


"Saya hanya menolong dia dari kasus pele*cehan yang hampir terjadi padanya, tetapi dia bukanlah kekasih saya. Mengerti!"


"Sekali saja kalian masih berpikir kalau dia, kekasih saya. Maka, hidup kalian akan berada di dalam bahaya!"


Sang dokter mengangguk kecil sambil meminta maaf atas perkataannya yang tidak berkenan di hati Thoms. Akan tetapi, tanpa mereka tahu pria itu malah merasa ada sesuatu di dalam hati ketika sang dokter mengatakan semua itu.


Seakan-akan hati Thoms merasa begitu nyaman ketika mendengar kata yang diucapkan oleh dokter. Hanya saja Thoms tetap berpegang teguh pda pendiriannya untuk menangis semua perasaan yang ada. Dia tidak ingin sampai perasaan itu terus mengembang hingga membuat balas dendamnya akan terhambat.


"Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Kalau begitu saya pamit, Nona Kanaya akan segera kami pindahkan ke ruangan inap untuk beberapa hari ke depan."

__ADS_1


"Berikan kamar yang paling bagus di sini! Saya tidak ingin dia di campur oleh orang-orang penyakitan lainnya. Mengerti!"


"Baik, Tuan. Saya akan urus semuanya, permisi!"


Dokter langsung membungkukkan badannya sedikit untuk memberikan salam, lalu pergi kembali memasuki ruangan UGD agar bisa segera mengurus perpindahan kamar Nay yang lebih nyaman.


...🌟🌟🌟🌟🌟 ...


Di rumah kediaman keluarga Ernes terdengar suara yang sangat bahagia. Di mana Justin sudah bisa menggerakkan tangannya seperti orang normal kembali, sehingga dia tidak perlu lagi menggunakan gips yang harus memperlambat akses geraknya.


Kebahagiaan di keluarga itu terus bertambah setelah hubungan Moana dan Ernest semakin membaik. Mereka hanya perlu fokus pada Ernest yang harus melakukan terapi demi kesembuhan kedua kaki yang perlahan sudah menunjukkan perkembangan.


"Yeeey, cucuku sudah sembuh. Aaa ... Oma senang sekali melihat Justin tidak harus menggunakan kain itu. Sini, sini peluk Oma dulu!" pinta Elice, terharu melihat cucu kesayangan sudah kembali membaik.


"Justin juga senang, sekarang Justin sudah bisa meluk Oma. Enggak kaya waktu itu, cuman bisa satu tangan hihi ...."


"Siap, Oma. Justin akan selalu ingat pesan Oma."


"Hem, cucuku sayaang ...."


Elice memeluk Justin begitu lembut sambil mencium pipinya berulang kali. Terlihat sekali betapa sayangnya Elice kepada Justin tanpa harus membedakan tentang statusnya.


Elice tidak pernah peduli semua itu karena untuknya Justin dan Barra tetaplah cucu kesayangan, tidak bisa dibantah kembali.


Melihat suasana itu membuat hati Moana tersentuh, sungguh beruntungnya Moana bisa mendapatkan keluarga sebaik ini. Mungkin, jika Moana bersikeras dengan egonya sampai kapan pun dia tidak akan bisa kembali mendapatkan keluarga seperti ini.

__ADS_1


Di saat Justin berpelukan sama Elice, Barra juga tidak tinggal diam. Dia sudah mulai lengket dipangkuan Sakha sambil bercanda.


Senyuman di wajah Ernest mewakilkan isi hati yang sedang bahagia melihat semua sudah kembali tersenyum penuh kegembiraan. Seandainya kejadian itu tidak menyadarkan keegoisan di dalam Ernest, kemungkinan besar apa yang dia saksikan hari ini tidak akan bisa dilihat untuk selamanya.


"Apa kamu bahagia, Sayang?" tanya Moana dengan lembut.


Ernest segera menoleh ke arah sang istri sambil tersenyum, matanya sudah mulai berkaca-kaca membuat Moana menggelengkan kepala.


"Sstt, enggak boleh nangis, Sayangku. Kita sudah bahagia, jadi tidak perlu ada tangisan. Aku capek mendengar kata maaf darimu yang tidak pernah terlewakan setiap malam karena masa lalu."


"Berapa kali aku sudah bilang, masa lalu biarlah berlalu. Kita fokus masa depan untuk membesarkan anak-anak kita agar mereka tumbuh menjadi anak yang baik, penyayang, dan tidak lupa dengan Tuhannya."


"Aku mohon, hilangkan penyesalan itu. Aku tidak mu kamu terus berlarut di dalamnya. Ingatlah! Aku dan anak-anak sudah ada di sini, jadi kita harus selalu bahagia. Aku hanya bisa berharap tidak akan ada badai lagi yang hadir hingga membuat hubungan kita memburuk. Aamin ...."


Moana menyandar ditubuh suaminya dengan mengukir senyuman termanis. Ernest tidak bisa berkata panjang kali lebar selain kata terima kasih yang diucapkan pada sang istri sambil mencium keningnya.


Kemudian, mereka semua kembali bermain bersama menikmati suasana kebahagiaan yang terus datang menyelimuti keluarga kecil Moana dan Ernest. Berbeda sama Thoms yang sedang gelisah untuk menemui Nay di dalam kamar barunya.


Entah, ada apa dengan Thoms, wajahnya terlihat sangat gugup. Akan tetapi, dia tetap memberanikan diri untuk melihat keadaan Nay sambil mencari tahu semua kata-kata yang Nay ucapakan pertama kali ketika terbangun dari kema*tian.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...



__ADS_2