Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Hukuman Atau Janji?


__ADS_3

"Terima kasih, Boy. Papa seneng banget dengar kamu bilang begini, rasanya semua beban yang Papa rasain selama ini hilang begitu saja. Sungguh, Papa bangga punya ponakan yang udah Papa anggap sebagai anak sendiri bisa melakukan hal sepert ini luar biasa. Didikan Mommymu sangat hebat, benar-benar hebat. Sekali lagi terima kasih, Boy. Papa tidak tahu harus bicara apa lagi sekalin terima kasih, terima kasih, terima kasih."


Thoms tidak henti-hentinya mengucapkan kata terima kasih selama memeluk Justin. Naya menghapus air mata sang kekasih dibalik pelukan itu supaya memberikan kode bahwa dia tidak perlu menangisi semua ini.


"Syukurlah, Tante senang dengarnya kalian bisa baikan lagi. Semoga ini yang terakhir kalinya kalian berantem, marahan, dan jauh-jauhan, ya. Tante mau kita semua bahagia terus, oke? Tak apa jika memang Justin hanya bisa memaafkan Papa, itu sudah lebih dari cukup. Kepercayaan yang Justin punya untuk Papa nanti seiring berjalannya waktu akan timbul kembali. Terpenting tidak ada lagi kesedihan, kejahatan, dan harus selalu penuh dengan kasih sayang."


Nasihat Naya membuat Thoms tersenyum, lalu dia mengelap air matanya sampai bersih dan kembali melepaskan pelukan itu sambil menatap Justin.


Anak tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri melihat wajah mereka berdua secara bergantian. Entah tatapan penuh arti apa yang diberikan Justin kembali, sehingga membuat suasana kembali menjadi tegang.


"Kenapa, Sayang? Kok, lihatin Tante sama Papa seperti itu? Ada apa?" tanya Naya, bingung.


"Ada yang salah dengan kami?" tanya Thoms, tidak mengerti arti dari tatapan sang ponakan.


"Tadi Papa bilang katanya Papa siap dihukum atas semua kesalahan Papa sama Mommy, Ade, dan semua orang. Iya, 'kan?" tanya Justin kembali, membuat Thoms menganggukan kepala sesekali melirik ke arah Naya yang hanya menyimak saja.


"Oke, kalau gitu Justin punya hukuman satu ... Dua ... Ti ...." Justin berpikir sambil menghitung berapa hukuman yang harus Thoms jalani sebaik mungkin demi mengambil hati sang ponakan dan kepercayaannya kembali, "Nah, ya, tiga hukuman. Gimana, mau? Harus maulah, orang Papa yang bilang siap dihukum. Jadi, deal?"


Tatapan mata Thoms langsung tertuju pada Naya, membuat Naya mengangkat kedua bahu sekilas dikarenakan wanita itu pun tidak tahu menahu. Semua itu hanya akan menjadi urusan mereka berdua saja, sedangkan Naya cuma menjadi saksi bisu antara janji paman dan ponakan. Hanya itu saja, tidak lebih.


"Gimana, Pa? Kalo gak mau, berarti Papa bohong, Papa ingkari janji Papa yang bilangnya siap dihukum, siap menerima apa tadi ya, konisten, konsinten, kontelsen apalah pokoknya itu Justin lupa."


"Konsisten?" tanya Thoms dan Naya secara bersamaan.

__ADS_1


"Nah, ya, itu. Gimana, gimana, gimana, gimana, gimana?"


Thoms menghembuskan napas secara kasar, kemudian tersenyum menganggukan kepala menatao sang ponakan, "Baiklah, apa hukuman yang Papa akan terima darimu. Katakan saja, Papa siap untuk menjalaninya asalkan kita kembali baikan."


"Oke, deal?" Tangan Justin menjulur dengan wajah yang begitu senang menatap sang paman.


Baru ini Thoms kembali melihat wajah sang ponakan sebahagia itu hanya untuk menghukum dirinya. Dibilang kejam ya, tidak juga, karena memang inilah yang harus Thoms terima sesuai sama apa yang dikatakan. Dari awal dia sudah menawarkan diri siap menjalani hukuman apa pun selagi semua orang mampu memaafkan semua kesalahannya.


"Deal!" jawab Thoms tegas sambil menjabat tangan ponakannya sambil tersenyum kecil.


"Emang apa sih, hukumannya? Kok, Tante jadi penasaran nih, ayo, cepatan kasih tahu jangan sampai Tante mati penasaran nih, hihih ...." Naya tertawa membuat Justin pun ikut terkekeh.


"Hihi, oke, oke, jadi hukumannya adalah ...."


Thoms dan Naya langsung memasang wajah penuh keseriusan untuk menunggu jawaban anak kecil itu yang dari tadi melirik mereka penuh godaan. Justin terkekeh kecil semakin membuat keduanya merasa kesal.


Setelah Naya melirik tajam, barulah Justin mengungkapkan hukuman-hukuman yang akan diberikan pada Thoms dengan wajah serius.


"Hukuman Papa ada tiga. Pertama, Papa boleh pergi selesaon kerja itu cuma pulang harus tetap sehat tanpa luka sedikit pun. Kedua, Papa sama Tante harus menikah setelah 1 MinggunPapa pulang dari kerjaan itu dan tidak lagi kerja jadi orang jahat. Kalau Papa melanggar satu hukuman itu, Justin tidak mau lagi ketemu Papa. Titik!"


Thoms dan Naya langsung menelan air liurnya masing-masing. Mereka berdua bingung, apakah ini bisa bibilang hukuman atau janji? Cuma, balik lagi. Namanya anak kecil, sesuka hati dia saja memberikan hukuman pada sang paman.


Setidaknya dari cara dia memberikan hukuman itu, Thoms dan Naya mampu melihat betapa khawatirnya Justin terhadap sang paman yang akan pergi jauh. Rasa sayang yang dimiliki sangatlah besar, membuat pria itu merasa terharu.

__ADS_1


"Oke, Paman janji. Tapi, itu hanya ada dua hukuman, satu lagi apa?" tanya Thoms, penasaran.


Sepolos itukah anak kecil? Sampai-sampai sebuah janji yang harus ditepati, dirubah menjadi hukuman yang harus dijalani oleh pamannya sendiri. Ternyata, ponaka dan paman sama, sama-sama gengsi dalam menyatakan kasih sayangnya sehingga dia jadikan itu sebagai hukuman hihihi ....


Seperti itulah isi hati Naya saat ini. Dia cuma tersenyum menyaksikan kedua pria yang saling memendam rasa tanpa keberanian terus terangul untuk mengungkapkannya. Namun, apa yang Justin katakan juga mewakilkan isi hati kekasih pamannya sehingga dia hanya menyimak saja.


"Hukuman ketiga adalah ...."


"Adalah ...," ucap Naya dan Thoms secara kompak.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Hari sudah semakin larut, membuat mereka segera masuk ke dalam rumah dengan raut wajah Justin begitu senang. Sementara Naya dan Thoms terlihat datar dengan memikirkan hukuman ketiga yang sudah diberikan sang ponakan.


Justin tertidur dengan nyenyak tanpa bebasn dalam keadaan tersenyum, sedangkan mereka berdua kesulitan tidur akibat memukirkan hukuman itu. Entah kenapa, hukuman ketiga sangatlah berat untuk dijalani dan kenapa juga Naya harus dilibatkan. Sungguh, menyebalkan. Ternyata Justin dan Thoms sifatnya tidaklah jauh berbeda untuk membuat orang merasa kesal.


Pagi hari, semua berkumpul di meja makan seperti biasa lnya untuk melakukan aktifitas sarapan bersama. Thoms dan Naya cenderung kebanyakan diam, lantaran mereka berdua masih sangat bingung sesekali melirik ke arah Justin. Di mana anak itu malah menggoda keduanya dengan menaik-naikan kedua alis berulang kali. Thoms dan Naya terus berusaha sabar, apa pun itu mereka harus menjalani hukuman ketiga yang sudah diberikan.


Selepas itu, semua duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi dan nyemil bersama. Sampai akhirnya semua orang terkejut atas apa yang Thoms lakukan hingga membuat kedua mata semua orang hampir copot.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2