
"Sudah, tidak perlu menangis lagi. Lebih baik kau istirahat, saya pul---"
"Ma-maaf apa bila ada perkataan saya yang menyakiti, Tuan. Seharusnya saya berterima kasih atas kebaikan yang Tuan lakukan, jika bukan karena Tuan mungkin saya sudah tidak tahu lagi akan melanjutkan hidup bagaimana lagi. Apa yang Tuan katakan itu benar, saya terlalu bo*doh kalau hanya menghandalkan pekerjaan itu. Saya akan segera keluar dari sana serta mencari pekerjaan yang baru, agar saya tidak lagi di hantui oleh perasaan takut akibat pria itu!"
Setelah mendengar nasib wanita itu yang cukup malang, entah mengapa Ernest malah kepikiran untuk memberikan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar baginya.
"Siapa namamu?" tanya Ernest, cuek.
"Sa-saya ... Adinda Celina Jester, Tuan, " ucap Dinda.
"Baiklah, ini ada kartu nama saya. Nanti kalau kau sudah keluar dari rumah sakit, segera hubungi saya. Jangan lupa untuk selesaikan pekerjaanmu di sana, saya akan berikan tawaran pekerjaan yang gajinya berkali-kali lipat dari pekerjaan di situ!" jawab Ernest, wajahnya terlihat datar.
Dinda bingung harus menjawab apa, dia hanya bisa mengatakan terima kasih berulang kali. Karena hanya itu yang bisa dia katakan, tanpa harus mengatakan kalimat lainnya.
"Sudah cukup, saya pusing mendengar kata terima kasih darimu! Saya pamit, dan untuk masalah rumah sakit ini, kau tidak perlu khawatir. Saya sudah membayar lunas biaya di sini sampai kau keluar. Saya pergi, jangan lupa kabarin jika kau butuh pekerjaan!"
Dinda menganggukan kepalanya, tangis bahagia menetes di sela senyumannya sambil melihat kepergian Ernest yang sudah menghilang bersamaan dengan pintu tertutup rapat.
Semua ini di luar dugaan Dinda, dia tidak tahu ini adalah pertolongan dari Tuhan atau memang semua sudah bagian dari takdirnya bertemu dengan Ernest.
Dinda kembali memejamkan matanya saat merasakan kepalanya yang sangat pusing akibat beban pikiran yang terus berputar. Apa lagi rasa ketakutan selalu menghantuinya, Dinda hanya bisa berharap. Semoga pertolongan dari Ernest ini bisa membuat hidup Dinda jauh lebih baik.
__ADS_1
Adinda Celina Jester, wanita berusia 25 tahun yang bekerja sebagai pelayan di sebuah Night Club demi untuk menyambung hidupnya. Dinda hidup seorang diri lantaran semua keluarganya sudah tiada, jadi nasibnya harus lontang-lantung hanya demi mencari makan dan membiayai kehidupan sehari-harinya
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Keesokan paginya, jam 6 pagi. Sakha sudah sampai di rumah meninggalkan istrinya untuk mengambil pakaian yang sudah di siapkan oleh pembantunya.
Hari ini adalah hari libur, Ernest yang sampai rumah pukul 3 pagi dalam kondisi kepala pusing akibat minuman membuatnya masih tertidur pulas.
Sakha masuk ke dalam kamar anaknya, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. Dia tidak habis pikir, Ernest bisa tertidur pulas tanpa memikirkan kondisi istri dan juga anaknya di rumah sakit.
Sakha kembali ke luar kamar sambil menunggu anaknya terbangun. Tidak lupa dia meminta pembantunya untuk menyiapkan makanan yang akan dia bawa serta cemilan dan yang lainnya.
Setelah semuanya siap, dan sudah masuk ke dalam mobilnya. Sakha yang baru saja selesai bersiap-siap langsung duduk di ruang tengah menunggu anaknya.
Namun, saat Ernest turun dari tangga dia melihat Ayahnya duduk santai sambil menonton televisi serta menikmati kopi di pagi hari.
"Ayah? Ka-kapan Ayah pulang?" ucap Ernest, mendekati Sakha.
"Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Sakha melirik anaknya yang duduk di sofa tunggal sambil memijit kepalanya.
"Biasa aja!" jawab Ernest, cuek.
__ADS_1
"Baguslah, kau di sini bisa tidur enak. Sedangkan Bundamu di sana, menangis seharian memikirkan kondisi istri dan juga anak---"
"Stop mengatakan kalau anak itu adalah anakku, karena nyatanya dia bukanlah anakku!"
Ernest membentak Sakha, lantaran dia sudah tidak lagi menganggap bahwa Justin adalah bagian dari hidupnya. Sakha mendengar semua itu, langsung menoleh dengan tatapan datar.
"Sudah berani kau membentak Ayahmu sendiri, hem? Sejak kapan anakku bersikap sekasar ini sama orang tuanya? Setahuku, Ernest yang terbilang cuek dan dingin tidak sedikit pun berani untuk membentak bahkan menyakiti perasaan kedua orang tuanya!"
"Namun, kali ini? Kau sudah jauh dari Ernest yang aku kenal! Asal kamu tahu saja, kejadian yang sebenarnya terjadi tidak seperti apa yang kamu pikirkan saat ini! Kau itu salah paham dengan istrimu sendiri, karena dia tidak terlibat dengan semua rencana Felix!"
Ernest terdiam sejenak, jantungnya terasa di hantam oleh sesuatu. Akan tetapi, dia masih tidak percaya sama perkataan Ayahnya sendiri. Ernest malah lebih mempercayai pikirannya sendiri.
"Alaahh ... Bulshit! Ayah jangan percaya dengan permainan taktik mereka, mereka itu semuanya penipu! Siapa tahu saja Felix sengaja menghamili Moana, demi untuk menguasai hartaku!" ucap Ernest, berdiri sambil menekankan kata-katanya.
Sakha yang gereget mendengar perkataan anaknya, segera bangkit dan menamparnya untuk pertama kali. Di sini Sakha tidak menyesal, karena baginya Ernest sudah kelewatan.
Jika memang dia marah ataupun kecewa, itu memang wajar karena Ernest baru mengetahui sekilas tentang jati diri Justin. Akan tetapi, yang tidak wajar adalah cara berbicara Ernest yang telah menghina istrinya sendiri. Padahal Ernest tidak tahu cerita yang sesungguhnya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung