
"Permisi, maaf mengganggu waktunya Tuan, Nyonya dan Nona semua. Saya mendapatkan kabar bahwa, pelaku sudah diamankan di tempat yang rahasia. Saya juga mendapatkan informasi, kalau ternyata bodyguard itu adalah bodyguard kesayangan Tuan besar. Dia melakukan semua itu karena merasa iri kepada Tuan, untuk lebih lanjut Tuan bisa menanyakan sendiri. Sekali lagi maafkan saya telah menganggu kenyamanan semuanya. Saya pamit, permisi ...."
Pria yang tidak lain adalah bodyguard Thoms, langsung segera ke luar ruangan Naya untuk kembali tempatnya setelah informasi yang diterima telh disampaikan.
Moana dan Naya spontans saling pandang memandang satu sama lain. Isi kepala mereka ternyata sama. Seandainya Thoms telah berhasil mengamani orang itu, maka jiwa iblis Thoms akan kembali keluar bagaikan macan yang sedang kelaparan.
"Ternyata, selama ini aku melihara tikus yang tidak tahu diri. Padahal, aku telah menganggap tikus itu seperti panutanku karena dia sudah bekerja lama bersama Kakek. Cuma, dibalik apa yang sudah dia berikan padaku itu hanya sekedar basa-basi. Sungguh, menarik!"
"Sepertinya aku harus segera menemuinya dengan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya dan akan mengantarkan dia ke tempat istirahat yang sangat nyaman. Sekarang Thoms, paham apa.yang Kakek ucapkan waktu itu. Musuh kita tidak hanya ada di belakang, atau samping. Akan tetapi, musuh juga bida berada di depan kita dengan berbagai macam topeng wajah yang dia perlihatkan."
"Thoms mengerti, dia merasa iri karena semua ini Thoms yang mendapatkannya. Cuma, Thoms merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan. Semoga ini semua hanya dugaan Thoms saja."
Thoms tersenyum kecut setelah mendengar penjelasan itu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya, adalah ketakutan terbesar Naya dan Moana. Mereka berdua tidak ingin Thoms kembali melukai tangannya demi mengedepankan emosi. Meskipun, mereka paham bagaimana rasa sakit hati Thoms saat dikhianati oleh anak buahnya sendiri. Sama seperti Moana yang tidak terima oleh orang itu karena hampir membu*nuh bayi tidak berdosa.
Untung Tuhan masih baik pada Barra sehingga dia diberikan beberapa kali pertolongan agar hidupnya yang masih sangat panjang tidak berakhir mengenaskan.
"Tu-tuan ... Bolehkah aku bertanya?" Bibi Naya bergetar, mencoba memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu dalam keadaan emosi Thoms yang lagi nai-naiknya.
Thoms berbalik menatap Naya, lalu berjalan maju beberapa langkah mendekati bangkar tanpa melepaskan pandangannya.
__ADS_1
"Silakkan, tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan. Aku akan menjawab sebisaku."
Perasaan Naya sedikit ragu, tetapi dia harus bisa mengatakannya demi membuat Thoms kembali menjadi orang yang jauh lebih baik.
"A-apakah Tuan mencintaiku?" tanya Naya. Bola matanya terlihat sangat serius menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Thoms.
Melihat adanya ketegangan diwajah mereka berdua, perlahan Moana menggeser tubuhnya agar mereka bisa berdekatan satu sama lain. Moana berdiri melihat Thoms mulai duduk di samping bangkar Naya, lalu memegang tangannya.
Romantis sih, tetapi tetap saja bagi Moana dan Naya sikap Thoms yang seperti itu malah membuat keduanya merasa takut. Apalagi Moana tidak ingin mendengar kata-kata pahit yang keluar dari bibir sang kakak melukai hati Naya. Tahu sendiri, bagaimana gengsinya Thoms ketika menyembunyikan tentang perasaan terhadap Naya.
Namun, kejadian tidak terduga benar-benar terjadi. Thoms mencium tangan Naya penuh kelembutan sambil mengusap pipinya sambil tersenyum. Setelah itu, Thoms menjawab satu pertanyaan itu dengan kata-kata yang sangat manis.
Naya menggelengkan kepala kecil terus mencari kebenaran itu dari sorotan mata Thoms yang tidak sedikit pun beralih darinya.
"Nah, justru itu. Kalau kamu ingin tahu aku mencintaimu atau tidak, tanyakan pada hatimu. Dialah yang bisa menjawabnya karena hatimu bisa merasakan apakah aku mencintaimu atau tidak. Sejauh ini, aku tidak pernah merasakangetaran hati sekencang ini ketika melihat wanita lain ada di dekatku. Bahkan, aku sampai meneteskan air mata hanya demi menangisimu. Padahal, aku kenal kamu hanya selewatan, tetapi entah mengapa. Saat aku pertama kali melihatmu bertengkar di restoran itu hatiku langsung memberikan sinyal."
"Beberapa anak buahku saja heran, kenapa aku bisa sejinak ini dan sepenasaran itu terhadap dirimu. Sebab, tujuan hidupku hanya dua. Pertama membalaskan semua dendam orang tuaku, dan terakhir menemukan keberadaan adik kandungku. Selebihnya tidak ada, kalaupun aku ingin memikirkan masa depanku itu setelah semuanya tercapai. Jika tidak, aku tidak akan memikirkan diriku sampai kapan pun."
"Namun, bersamamu aku merasa berbeda. Ya, aku akui aku bukan pria yang baik buat kamu. Aku bukan pria yang gentle buat mengungkapkan perasaanku, dan aku bukan tipe pria yang romantis. Hanya saja, aku bisa menjadi apa pun demi membahagiakanmu. Ini janjiku pada Tuhanku sendiri, tidak lagi padamu. Janji denganmu aku bisa saja mengingkari, tetapi dengan Tuhanku. Aku tidak mungkin mengingkarinya, sebab akan ada banyak konsekuensi yang akan aku terima bila aku menyakiti wanita yang sangat aku cintai ini."
__ADS_1
Thoms tersenyum mengusap pipi Naya. Gadis itu mulai meneteskan air mata mendengar kata-kata yang sangat indah ditelinganya. Walaupun cara Thoms mengungkapkan tidak seromantis pria lain, tetapi inilah cinta murni. Tidak banyak kata cinta terucap bagaikan ABG lebay, tetapi buktilah yang akan menjawab semua itu.
"Tidak perlu menangis, sudah saatnya kamu bahagia. Penderitaan di masa lalumu, sudah cukup menghabiskan mutiara-mutiara yang berjatuhan ini. Sekarang, jadikan mutiara itu sebagai senyuman indah yang tidak akan pernah pudar sampai kapan pun. Mungkin, aku bukan pria yang kamu minta kepada Tuhan, tetapi aku bisa berusaha menjadikanmu wanita yang Tuhan kirim sebagai anugerah untukku."
"Terima kasih, Tuan. Tuan sudah membuktikan padaku kalau kebahagiaan itu memang ada. Sudah lama aku menantikan kebahagiaan ini di saat semua ujian terus menerpa hidupku. Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih Tuan sudah hadir di dalam hidupku dengan membawa pelangi yang kelak akan selalu menghiasi hari-hariku dengan warna cantiknya. Tidak ada lagi kegelapan yang harus aku takutkan, saat Tuan akan selalu bersamaku. Terima kasih, aku sangat mencintai Tuan."
"Tida perlu berterima kasih, jalan ini sudah sebagai ketetapan takdir Tuhan. Satu lagi, jangan panggil aku Tuan karena kita bukan atasan dan bawahan. Akan tetapi, berikan aku panggilan khusus agar aku tahu bahwa, calon istriku ini telah menerima semua kekuranganku sebagai calon suamimu."
"Baiklah, aku akan mengganti kata Tuan menjadi ...."
Naya menghentikan perkataannya membuat Moana dan Thoms menjadi penasaran. Rasanya Moana sangat senang karena bisa menjadi saksi bersatunya cinta mereka. Melihat wajah keduanya begitu bahagia, tidak ada kata-kata yang Moana sampaikan selain mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua.
Hanya saja, rasa penasaran keduanya semakin kuat saat Naya menggantungkan sebuah panggilan yang aka diberikan pada Thoms sebagai tanda cinta mereka.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...