Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Masa Lalu Belum Usai


__ADS_3

"Terimakasih selama ini kamu sudah membuatku jatuh cinta sedalam-dalamnya, hingga tidak ada satu wanita pun yang aku lirik selain dirimu. Dan, terimakasih karena kamu sudah menemaniku selama bertahun-tahun ini sampai kita hampir saja menikah."


"Namun, maaf. Aku tidak bisa lagi meneruskan hubungan ini, cukup semuanya sampai di sini. Bukan berarti aku sudah tidak cinta lagi sama kamu, tetapi hatiku sangat sakit saat mendengar cerita ini. Bila aku mendengar keburukanmu dari mulutmu sendiri atas kejujuranmu, mungkin aku bisa pikirkan kembali. Akan tetapi, aku tahu semua ini dengan mata kepalaku sendiri. Sehingga, aku tidak bisa lagi menjalani cinta yang hanya bisa membuatku sakit!"


"Untuk itu, aku akan membatalkan semua pernikahan kita dan kita bisa hidup masing-masing. Di mana kamu bisa mengejar impianmu sendiri, dan aku bisa mengerjar keinginanku sendiri. Maaf, apa bila selama ini aku tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu dan maaf jika aku belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Tapi, satu yang harus kamu tahu. Rasa cinta ini jauh lebih besar dari rasa sayangku pada diriku sendiri. Hanya saja, kamu telah berhasil menghancurkan semuanya sampai aku tidak tahu lagi. Apakah kelak, aku akan kembali mencintai seseorang atau tidak untuk selamanya!"


"Jadi, mulai saat ini. Kita sudah tidak ada hubungan lagi, baik persahabatan atau pun dunia percintaan. Kita kembali ke masa di mana kita tidak mengenal satu sama lain, semua itu jauh lebih baik dari pada aku harus melihat wajah kalian yang akan terus membuatku kembali terluka! Semoga kalian berdua bisa menyelesaikan masalah kalian berdua, karena masalahku sama kalian sudah selesai. Terimakasih, aku pamit!"


Felix tersenyum sambil mengusap air mata yang menetes perlahan dan meninggalkan mereka berdua dalam keadaan diam mematung.


Pijakkan kaki terus berlari, sampai akhirnya memasuki sebuah lift dalam keadaan suasana yang begitu sepi. Di situlah air mata Felix runtuh, dia tidak bisa lagi menahan apa yang dia rasakan saat ini.


Semua persahabatan dan juga cintanya telah hancur menjadi satu, seakan-akan ini adalah sebuah karma yang dia dapatkan saat ada satu masalah yang terus menghantuinya belum bisa di selesaikan.


Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka, Felix kembali menahan air matanya dan tersenyum kecil ketika dia harus berjalan melewati beberapa orang yang ada di lobi Apartemen.


Setelah itu Felix berjalan sedikit berlari kecil, lalu memasuki mobilnya dalam keadaan pintu di tutup dengan begitu keras.

__ADS_1


"Aarrghhh ... Kenapa semuanya terjadi di saat gua udah mempersiapkan semuanya, kenapa, Tuhan. Kenapa!"


"Apa ini sebuah karma yang harus gua dapatkan dari seseorang yang dulu pernah gua sakiti? Apa ini balasannya? Tapi, kenapa harus sekarang. Padahal sedikit demi sedikit gua udah menebus semuanya, hanya saja ada satu yang gua tidak bisa jelaskan semuanya. Gua takut, gua takut! Hiks ...."


"Gua memang pantes mendapatkan semua ini, kalau saja gua bisa menjadi pria sejati tidak mungkin gua harus lari dari semua kenyataan pada saat itu! Niat gua ingin menjaga satu perasaan, tetapi gua sendirilah yang harus menanggung semua ini!"


"Jika memang, gua tidak pantas untuk bahagia, gua terima. Gua memang layak di sakiti, hanya saja. Bantu gua untuk menebus semua dosa-dosa yang sudah gua perbuat dulu, semua orang berhak berubah, jadi gua mohon berikan kesempatan buat gua untuk memperbaiki semuanya kembali, apa bila waktunya telah tiba nanti!"


Felix menangis sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi di dalam mobil, terlihat sekali dia begitu emosi bukan karena dia harus membatalkan semua niat baiknya untuk berumah tangga. Akan tetapi, ada suatu masalah yang sepertinya belum dia tuntaskan di masa lalu. Sehingga, bayang-bayang dan juga karma untuknya terus nememani di setiap langkah kakinya.


Di rasa perasaannya sudah mulai sedikit lebih tenang, Felix langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan extra kencang, layaknya membelah dunia yang sangat gelap ini.


Mungkin, jika ini malam terakhir dia hidup itu akan jauh lebih baik dari pada di selalu di hantui oleh rasa bersalahnya yang tidak pernah bisa dia ungkapkan.


Hanya butuh beberapa menit, akhirnya Felix sampai di parkiran Apartemen dan langsung berjalan tanpa ekspresi menuju lantai di mana dia tinggal selama ini.


...🌟🌟🌟🌟🌟...

__ADS_1


Lain cerita sama Enza dan produsernya yang masih cekcok satu sama lain untuk saling menyalahkan. Keduanya merasa benar, tetapi tidak ada satu pun yang ingin mengakui kesalahannya.


"Semua gara-gara lu, pernikahan gua sama Felix jadi gagal. Lu benar-benar tidak tahu diri, gua udah berusaha membuat lu senang dan puas. Tapi, kenapa lu malah mengatakan seolah-olah gua yang salah, hahh! Padahal nyatanya lu yang lebih dulu memaksa gua demi semua karier yang lu janjikan itu, dasar baji*ngan!"


Enza berteriak kencang di dalam Apartemen sambil memukul produsernya dengan sangat kencang, dia tidak terima pernikahannya batal hanya karena penjelasan yang di berikan produsernya.


"Asal lu tahu ya\, gua juga udah bosen sama lu. Meskipun lu jalani hubungan sama gua\, tapi gua tahu lu juga masih sering celap-celup bersama pria lainnya yang lu anggap menguntungkan\, bukan? Jangan lu kira gua kaya Felix yang bisa lu bod*dohin dan tidak tahu apa yang lu lakuin di belakang\, hehh ... dasar ja*lang!"


Enza terdiam, dia bingung kenapa bisa semua kunci AS dia ketahuan oleh produser itu. Sementara dia sendiri saja tidak pernah melakukan aksinya sampai ketahuan, hanya kali ini. Itu pun Felix yang langsung mengetahuinya.


Produser itu tersenyum miring sambil duduk di kursi panjangnya, lalu menghidupkan sebatang rokok demi mengademkan pikiran yang sangat kacau. Akan tetapi, matanya tidak berhenti untuk terus memperhatikan gerak-gerik Enza yang mulai gugup.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2