
"Sayang, astaga. Kamu buat Bunda takut aja, kamu gapapa, 'kan?" tanya Elice di samping bangkar Moana sambil mengusap kepalanya.
Moana hanya melirik Elice dan Sakha tanpa berkata apa pun. Perlahan air matanya menetes saat Moana memilih untuk tidur, akibat kepalanya yang terasa begitu pusing.
"Kamu capek, ya? Ya sudah, bobo ya, Cantik. Bunda di sini nungguin kamu sampai kamu bangun, cepet sembuh menantuku. Muachh!"
Elice mencium kening Moana sambil mengusap air matanya sendiri, lalu dia duduk di kursi tunggal samping bangkar dalam keadaan tangan satunya menggenggam Moana satunya mengelus kepalanya.
"Sabar ya, Sayang. Ingat apa kata dokter, mungkin dia butuh waktu untuk menerima semua ini. Aku tinggal sebentar, aku mau lihat Justin. Aku ingin mengecek keadaannya dulu, kalau bisa aku akan pindahkan Justin dan Moana di satu ruangan yang sama. Jadi, kita bisa menjaga mereka bersam-sama."
Sakha tersenyum, saat Elice menganggukan kepalanya menatap suaminya. Tangan Sakha terangkat untuk mengusap sisa air mata istrinya dan mencium keningnya. Kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Elice kembali memperhatikan Moana, lantaran dia tidak tega melihat menantunya seperti ini. Wajah ceria yang biasa hadir, sekarang tergantikan oleh kedataran Moana tanpa ekspresi.
"Ma-maafkan, Moana, Bun. Mo-moana tahu ini pasti sangat menyakitkan untuk Bunda dan Ayah, tapi ini yang terbaik buat Moana. Mungkin, dengan begini Moana bisa menjaga kesehatan Moana agar bisa segera pulih dan mengurus Justin. Moana tidak mau terlihat lemah di depan kalian, Moana takut apa bila Ernest tidak bisa menerima Justin. Maka di saat itu juga Moana harus menjalani kehidupan baru bersama Justin, dan itu pasti sangatlah berat. Maka dari itu, Moana sedang mengumpulkan keberanian agar kelak Moana bisa menjadi wanita yang kuat dan juga mandiri!"
Moana meneteskan air matanya saat dia berbicara di dalam hatinya. Elice yang tidak bisa melihat keadaan Moana, malah ikut menangis sambil mengusap air mata menantunya.
__ADS_1
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Jika di rumah sakit di penuhi oleh air mata, berbeda di sebuah kediaman keluarga Ernest. Suara pecahan vas bunga, atau apa pun itu cukup terdengar di seluruh penjuru.
Semua penjaga serta pembantu rumah menjadi bingung, sebab mereka tidak tahu kenapa Ernest pulang ke rumah dalam keadaan marah dan juga di penuhi oleh emosi.
Apa pun yang ada di depannya, berhasil Ernest hancurkan tanpa terkecuali. Sehingga pecahan itu benar-benar berserakan di mana pun dan membuat pembantunya segera membersihkannya sebelum pecahan beling mengenai tubuh majikannya.
Ernest pergi ke kamarnya, kembali mengamuk. Kemudian dia berjalan ke arah kamar mandi, dan langsung berdiri di bawah kucuran air yang berasal dari shower.
Berulang kali Ernest menunju dinding cukup keras, sampai tangannya menjadi memar serta berda*rah. Teriakan Ernest mewakilkan hatinya yang sangat hancur.
"Aku sudah berusaha berbuat baik kepada mereka semua, tapi apa balasan mereka padaku? Mereka malah membo*dohiku, mengkhianatiku dan juga mengecewakanku. Hancur, Tuhan. Hancur!"
"Saat ini aku sudah sangat mencintai istri dan juga anakku. Hanya saja, ujianmu telah merenggut semua kebahagiaanku itu. Pantas saja dari semenjak Justin ada di dalam kandungan, aku tidak merasakan kedekatan apa pun dengannya. Malah, Felix yang terlihat akrab dengan Justin sampai aku merasa iri kepadanya."
"Namun, setelah semua terungkap. Hatiku sangat hancur, kenapa bukan dari sebelum aku mencintai Moana dan Justin, kenapa harus sekarang! Kenapa hiks ...."
__ADS_1
"Aku benar-benar kecewa dengan Felix, dia sudah aku anggap sebagai sahabat sekaligus saudara bagiku. Nyatanya, dia malah merencanakan semua ini bersama Moana. Jika memang dia mencintai Moana, kenapa bukan dia yang menikahinya. Kenapa harus aku yang bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah aku lakukan!"
"Dan Moana, kamu adalah wanita pertama yang berhasil membuatku jatuh cinta. Meskipun cinta itu memerlukan waktu yang cukup lama, tapi kamu bisa menghadirkannya hanya bermodalkan kesabaran dalam menghadapi semua sikap cuekku ini. Cuman, yang aku tidak habis pikir, kenapa kamu bisa bersekongkol dengan Felix untuk menjadikanku mainan kalian. Ada apa ini Moana? Apa jangan-jangan, cinta yang selalu kamu berikan padaku, adalah kepalsuan. Iya?"
"Jika benar, kalian berdua memang sangat jahat! Aku kecewa sama kalian, aku kecewa. Arrghh ... Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia, satu persatu harus merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Dan kau Moana, aku akan segera mengurus berkas perceraian kita serta aku akan memasukkan berkas penipuan ke kantor polisi, biar kalian semua menderita!"
Ernest berteriak sekeras mungkin, sampai suaranya bergema ke mana-mana. Akan tetapi, semua penjaga rumah tidak ada satu pun yang bisa menyimak apa yang terjadi pada Ernest. Mereka hanya mengira bila Ernest seperti ini, karena merasa khawatir atas hilangnya Justin.
Padahal di balik hilangnya Justin, itu memberikan Ernest sedikit cahaya agar bisa membuka semua mata hatinya untuk mengetahui siapa Justin sebenarnya.
Setelah selesai mengoceh, Ernest segera mandi dalam keadaan yang masih sangat kesal. Lalu, mengganti baju yang cukup rapi secepat mungkin. Sehabis itu Ernest kembali pergi ke suatu tempat meninggalkan rumah serta kamar yang berantakan.
Melihat kepergian Ernest, pembantunya segera membersihkan kamar serta rumah agar tidak sampai melukai majikannya. Saat semua sudah bersih, pembantu itu segera menghubungi nomor Elice untuk memberitahu keadaan Ernest sesuai permintaannya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung