
Melihat Moana terdiam membuat Dinda dan Felix semakin bingung. Mereka berpikir Moana terdiam karena bingung harus menjelaskan seperti apa mengenai pekerjaan Thoms. Padahal, nyatanya Moana terdiam akibat terkejut saat memikirkan pekerjaan sang kakak.
"Naa, kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Felix, menyadarkan Moana.
"Hahh? I-iya, Kak. Kenapa?" tanya Moana balik, wajahnya terlihat syok penuh kebingungan.
"Kalau Kakak tidak mau memberitahu kami, ya, gapapa, kok. Kami tidak akan memaksa Kakak untuk mengatakannya," ucap Dinda, merasa tidak enak saat melihat reaksi Moana tidak seperti apa yang mereka kira.
"Ya, sudah. Lupakan saja, Naa. Aku hanya---"
"Katakan padaku, Kak. Apa Kakak kenal Kak Thoms? Terus kenapa Kakak bisa menyimpulkan kalau Kak Thoms itu seorang Mafia? Apa buktinya Kakak bisa mengatakan itu?"
Lagi-lagi pertanyaan beruntun dari Moana membuat mereka terdiam saling menatap satu sama lain. Felix takut, jika mengatakan pada Moana maka nyawa mereka telah menjadi taruhan. Akan tetapi, kalau tidak menanyakannya itu bisa membahayakan Moana yang belum mengetahui tentang Thoms.
"Kenapa sekarang kalian diam, tadi nanya sama aku tentang Kak Thoms. Terus kenapa saat aku nanya balik kalian pura-pura terkejut? Jangan bilang, kalau ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku. Iya, benar begitu?"
Tatapan menyeramkan dari Moana membuat Dinda tidak berani melihat lebih mememilih untuk mengalihkan pandangan. Sedangkan Felix, masih terlihat seperti memikirkan apa yang harus dikatakan dan bagaimana cara menyampakannya. Dikarenakan kejadian yang mereka alami beberapa jam lalu, sungguh menguras tenaga juga mental.
"Jawab, aku, Kak. Apa kalian begini karena diancam oleh Kak Thoms, iya? Jika kalian tidak mau berbicara, aku tidak akan pernah mau melihat wajah kalian lagi Paham?"
Moana berdiri dari kursinya dalam kondisi penuh emosi, kali ini Moana tidak main-main. Dia benar-benar terlihat marah karena Dinda atau Felix tidak ada yang ingin bercerita kejadian tersebut.
"Aku hitung dari satu sampai tiga, kalau kalian masih diam, jangan salahkan aku. Jika aku---"
__ADS_1
"Oke, aku akan cerita. Dengan satu syarat!" seru Rio menatap penuh keseriusan.
"Apa syaratnya?" tanya Moana.
"Setelah aku menjelaskan semua padamu, apa kamu bisa menjaga keselamatan kami? Paling tidak, keaelahan istriku. Apa kamu sanggup melindunginya?"
"Ya, aku sanggup. Aku tidak akan membuat kalian berada di dalam bahaya. Percayalah!"
"Baiklah, jadi begini ...."
Dinda meminta Moana untuk duduk kembali di tempatnya agar sedikit tenang. Lalu, Felix kembali menceritakan semua yang terjadi beberapa jam lalu. Di mana Thoms datang membawa beberapa anak buahnya untuk menemui mereka. Tidak hanya itu, Thoms juga memberikan ancaman kepada Felix dan Dinda agar tidak memberitahu soal kejadian tersebut.
Wajah Moana semakin terlihat tegang, lantaran mendengar cerita yang cukup ekstream dari Felix juga Dinda. Hanya saja, Felix menceritakan kejadian itu menggunakan kata-kata yang jauh lebih baik supaya tidak membuat Moana menjadi syok.
Moana tidak menyangka kalau Thoms bisa melakukan semua itu. Ya, memang Moana tahu kalau Thoms pernah berniat untuk melenyapkan Felix karena kesalahan yang sudah diperbuat kepada Moana dan Justin.
Hanya demi sang ponakan, Thoms menurunkan egoinya untuk melenyapkan Felix. Akan tetapi, setelah mendengar semua penjelasan dari mereka membuat pikiran negatif Moana yang dulu kembali muncul.
"Ji-jika semua anak buah Kakak memiliki senjata, i-itu tandanya mereka memiliki bisnis ilegal?" guman kecil Moana, tetapi masih bisa terdengar.
"Aku kurang tahu, memangnya kamu tidak tahu tentang pekerjaan kakakmu sendiri? Bukannya kurang lebih 1 tahun kamu dan anak-anak tinggal bersama dia, lantas kenapa kamu tidak menanyakan prihal itu?" tanya Rio, bingung.
"Aku pernah menanyakan tentang pekerjaan Kakak, hanya saja Kakak tidak ingin menjelaskan secara detail. Kakak hanya bilang, kalau pekerjaannya itu membantu orang-orang yang lemah, tertindas juga miskin. Sehingga, akan ada banyak musuh yang selalu berusaha untuk menggagalkan niat baik itu dengan cara menghancurkan kakakku."
__ADS_1
Mendengar jawaban yang Becca katanya, malah membuat mereka semakin bingung. Dari sini saja sudah bisa dipastikan kalau Moana memang tidak sedetail itu untuk mengetahui pekerjaan sang kakak.
"Ya, sudah, Kak. Jika memang Kakak tidak mengetahui tentang itu, tak apa. Kami hanya ingin menjaga keselamatan Kakak, jangan sampai Tuan Ernest atau keluarganya melakukan kesalahan. Sedikit saja ada yang menyakiti Kakak atau kedua anak Kakak, orang itu pasti akan menerima akibatnya dan kami tidak ingin semua itu terjadi pda keluarga kecil Kakak."
Moana menatap ke arah Dinda yang saat ini berusaha tersenyum, meski jantungnya masih berdekat keras ketika mereka harus kembali mengingat kejadian sebelumnya.
"Ma-maafkan semua kesalahan Kakakku yang sudah hampir mencelakakan kalian, aku tidak tahu soal ini. Aku juga sudah pernah bilang sama Kak Thoms untuk jangan menyentuh Kakak, mau bagaimanapun Kakak tetap ayah kandung Justin. Aku tidak mau ada kebancian diantara kita lagi, sudah cukup aku hidup dengan perasaan takut, cemas dan sebagainya. Aku pengen hidup tenang itu aja."
"Mungkin, habis dari sini aku akan berbicara sama Kak Thoms. Kalian tenang saja, aku tidak akan membahayakan nyawa kalian. Aku sangat berterima kasih sama kalian karena sudah menceritakan semua kejadian ini. Dengan kalian mengatakan kejadian ini, aku bisa tahu kalau Kak Thoms sedang menjalankan misi yang tidak baik. Pantas saja, semudah itu melumpuhkan semua musuhnya hanya dengan sekali tembak."
"Sebenarnya aku sudah lama menebak tentang pekerjaan ini, hanya saja keadaan membuatku kembali percaya kalau Kak Thoms bukanlah komplotan mafia yang Kakak katakan barusan. Namun, jika memang Kak Thoms seperti itu. Aku sebagai adik harus segera mengingatkannya agar Kakak tidak semakin berlarut-larut berada di dalam kubangan lumpur itu!"
Felix dan Dinda hanya bisa menganggukan kepalanya. Mereka sangat setuju dengan apa yang akan Moana lakukan, semua itu bukan untuk mengadu domba adik dan kakak. Melainkan, mereka tidak ingin Thoms semakin terjerumus di dalam kegelapan sehingga akan ada banyak bahaya-bahaya mendekat.
Disela-sela mereka hampir selesai berbicara, Justin masuk bersama dengan yang lain setelah selesai makan di kantin. Tidak lupa Justin memberikan satu bungkus makanan untuk Moana dan satunya lagi Justin berikan pada Dinda tanpa tersenyum.
Tidak tahu kenapa ketika Felix melihat wajah Justin yang sedang mengambek padanya malah membuat Felix terkekeh di dalam hati. Justin terlihat seperti orang yang marah biasa, bukan membencinya seperti apa yang Justin katakan. sedikit bingung sih, tapi itulah Justin. Kebaikan hatinya tidak mengizinkan Justin untuk tumbuh penuh dendam.
Mereka semua berbicara satu sama lain menanyakan soal kesehatan Felix, sedangkan Moana makan bersama Dinda sesekali di temani oleh Justin yang memang doyan sekali menyemil. Barra yang sudah cukup tidurnya, langsung kembali terbangun. Ernest segera memangkunya mengajak bercanda sesekali memberikan cemilan khusus untik Barra.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...