Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Teman Spesial


__ADS_3

"Siapa Nona Dinda ini? Apa beliau rekan kerjamu? Terus ada apa datang ke sini?" tanya Moana serius, menatap wajah Ernest sesekali ke arah Dinda.


"Dia asisten pribadi saya, namanya Dinda. Sekaligus teman spesial bagi saya. Kenapa? Masalah? Toh, ini juga rumah saya, jadi hak saya dong mau membawa siapa saja ke sini. Bukan urusanmu!" celetuk Ernest, datar.


Betapa terkejutnya Moana atas jawaban suaminya yang memang begitu sengaja ingin menyakitinya. Akan tetapi, bukannya marah malah Moana tersenyum menatapnya dan juga Dinda secara bergantian.


"Wahh ... Bagus dong! Itu artinya kau sudah mendapatkan yang baru, jauh lebih muda dan juga cantik dariku. Jadi, sudah saatnya bukan, aku dan juga Justin untuk pergi. Mumpung tidak ada Bunda dan Ayang yang akan menahanku, anggap saja aku dan anakku kabur dari rumah. Dengan begitu kau tidak akan terkena marah!"


Senyuman yang terukir di bibir Moana mungkin bisa di bohongi, tetapi tidak sama sorotan matanya yang sedikit berkaca-kaca menahan rasa sakit di dalam hatinya.


Entah ini ujian apa lagi yang harus Moana hadapi ketika dia menyaksikan suaminya sendiri berterus terang selingkuh di hadapannya, bahkan sampai mengenalkannya tanpa rasa takut menyakitinya.


"Oh jelas dong, dia jauh lebih segalanya dari dirimu. Lihat saja, penampilanmu yang sekarang. Kau terlihat seperti orang tidak sehat, dan juga pucar. Apa lagi, bentuk tubuhmu mulai tidak seindah bentuk tubuhnya!"


"Namun, meskipun begitu. Kau tidak boleh pergi dari rumah ini, apa pun alasannya! Tapi, ingat! Saya menahanmu bukan karena masih cinta, melainkan saya tidak ingin hubungan bersama keluarga saya hancur!"


Kata-kata yang begitu sakit terdengar jelas di telinga Moana. Dinda sendiri tidak menyangka, Ernest bisa sefrontal itu mengatakan tentang hubungannya tanpa adanya rasa takut akan kemarahan istrinya.


Moana tertawa kecil seperti sedang meremehkan Ernest, padahal di balik tawanya terdapat rasa sakit yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata.

__ADS_1


"Ehh, Nona cantik. Apa kau sudah siap menjadi maduku, hem? Nanti kalau kau sudah menikah dengan suamiku, aku tidak masalah apa bila kasih sayangnya 100 persen untukmu. Asalkan, hartanya bagi 2 ya. Aku juga butuh untuk menyekolakan anakku setinggi mungkin, dan kalau Justin sudah sukses maka aku akan segera pergi dari kehidupan kalian tanpa harus pusing mikirin hidup!"


"Tenang aja, aku tidak marah kok, Bestie. Aku malah senang, kehadiranmu bisa membantuku mengurus keperluan Ernest. Jadi, nanti kamu cukup urus Erenst dan aku urus anakku serta rumah. Gimana? Simpel 'kan? Kamu tidak perlu capek, kamu hanya duduk manis dan mengangkat kakimu sudah cukup. Ya 'kan, suamiku!"


Moana tersenyum lebar menekankan setiap kalimatnya, agar bisa lebih menegaskan kalau dia baik-baik saja. Tidak sehancur yang Ernest bayangkan.


Dinda hanya terdiam, dia tidak bisa mengucapkan satu kata pun di hadapan Moana. Rasanya bibir Dinda begitu kaku, sehingga dia hanya bisa terdiam tanpa menjawab apa yang Moana katakan padanya.


Berbeda sama Ernest, dia tidak mengerti. Kenapa bisa, Moana tidak menangis atau memarahinya, sementara hal yang paling menyakiti wanita adalah ketika pasangannya ketahuan selingkuh.


Ini jauh di luar dugaan Ernest, seharusnya Moana mengamuk bagaikan seseorang yang tidak terima di madu. Akan tetapi, ini malah terbalik. Moana terlihat senang di madu, baginya kehadiran Dinda menjadi solusi terbaik yang bisa membantu mengurus suaminya. Sedangkan Moana akan fokus pada anaknya.


Baru Ernest ingin melontarkan kalimatnya, Moana langsung mengajak anaknya kembali menyelesaikan makannya yang tertunda.


Justin hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Moana, meski beberapa kali masih menoleh ke arah Ernest. Rasanya Justin kangen sekali sama pelukan Ernest ketika pulang kerja, tapi kali ini sudah lama Justin tidak merasakannya.


Felix yang masih memantau semuanya, benar-benar tidak menyangka. Jadi, apa yang dia takutkan sekarang telah terjadi. Ini yang Felix khawatirkan beberapa bulan terakhir ini, akibat rasa bersalahnya membuat kehidupan Moana dan anaknya menjadi menderita.


Felix merasa bingung, kenapa bisa Moana menjadi wanita selemah itu yang hanya menerima semua perlakuan Ernest. Tidak seperti dulu yang menangkis semua ketidak sukaan Moana terhadap perlakuan Ernest, selagi masih menjadi atasannya.

__ADS_1


"Ada apa sama Moana? Kenapa sekarang dia berubah drastis? Moana yang aku kenal dulu, bukan Moana yang saat ini aku lihat! Apa dia mengalami penekanan, sehingga dia tidak bisa pergi dari Ernest?" gumam batin Felix, tidak tega melihat nasib kehiduapan Moana saat ini.


Felix kira setelah menyatukan mereka, kehidupan Moana akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Ternyata dia salah, kehidupannya malah jauh lebih menyakiti hati dan juga mentalnya.


"Aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi, sebisa mungkin aku harus membalikan keadaan Moana. Jika perlu aku akan menjemput Moana dan menanggung semua kehidupannya, sebagai penubus dosaku padanya!" ucap Felix kembali di dalam hati kecilnya.


Di saat Felix masih mencari tahu lebih dalam tentang hubungan Ernest sama Dinda, tidak sengaja tangannya menyenggol vas bunga kecil di atas meja bupet besar hingga terjatuh.


Refleks Ernest dan Dinda langsung menoleh ke arah suara tersebut. Tanpa harus menabak-nebak, Ernest segera berjalan melihat ada apa di sana. Sementara Felix yang bingung harus ngapain, bergegas pergi tanpa suara langkah kaki sekilat mungkin.


Hanya berselang beberapa detik dari perginya Felix, Ernest tidak melihat apa-apa. Hanya ada vas bunga kecil yang jatuh, dan kembali di posiskan seperti semula.


Dinda yang penasaran pun segera mendekati Ernest dan bertanya. Setelah tidak menemukan apa-apa mereka kembali pergi menuju ruang makan, lantaran ini sudah masuk jam makan siang.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2