
"Tu-tuan, ma-maafkan calon istri saya. Mu-mungkin saja dia sedikit terkejut, aslinya dia tidak seperti ini kok. Jadi---"
"Apakah kau masih berniat ingin menikahinya setelah melihat sisi lain dari calonmu itu?"
Ernest mendudukan Justin di kursi, tepat di dekat dia membakar daging. Justin hanya fokus pada sosis bakarnya tanpa menghiraukan percakapan mereka. Sementara Felix sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan dari atasan sekaligus Kakak baginya.
"Ma-maksud, Tuan?" tanya balik Felix.
"Lebih baik, sekarang kau pikir-pikir ulang saja. Apakah sudah yakin menikahinya atau masih ragu, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari, ketika tahu bagaimana sifat aslinya."
Peringatan dari Ernest berhasil membuat pikiran Felix menjadi tidak karuan. Rasanya dia sudah mantap untuk mempersunting Enza, tetapi hatinya kembali ragu saat menyaksikan sifat Enza berubah drastis seperti tadi.
"Sudahlah, yang ingin menikah itu Felix bukan dirimu. Jadi, enggak usah jadi kompor dalam hubungan mereka. Felix sudah besar, jadi dia tahu mana yang baik mana yang buruk baginya sendiri!" seru Sakha, datar sambil membakar sosis lainnya.
"Apa yang di katakan Ayah benar, udah perkataan Ernest jangan di masukin ke hati. Dia memang begitu, yang kenal Enza lebih lama itu kamu. Jadi, kamu harus bisa menjadi orang yang pintar dalam memilih pasangan hidup satu untuk selamanya," sahut Elice, mengusap punggung Felix.
Ernest langsung pergi mengambilkan minum untuk anaknya, lalu memberikannya. Felix hanya bisa tersenyum kikuk dan membantu semuanya untuk mengalihkan rasa canggungnya, sampai suasana kembali baik-baik saja.
Berbeda sama Moana yang sedang mengantar Enza ke kamar mandi, di mana dia menyandar di sandaran pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Kemudian matanya terus menatap Enza yang sedang membersihkan noda tersebut di wastafel.
__ADS_1
"Terimakasih, Kak. Kakak sudah membelaku di hadapan suami Kakak sendiri," ucap Enza, melirik Moana sambil mencuci tangannya.
Moana tersenyum menatap Enza penuh arti, begitu pun Enza yang terlihat seperti besar kepala karena sudah di bela oleh Moana.
Namun, tanpa Enza sadari. Kalimat yang Moana ucapkan saat ini benar-benar berhasil membuatnya terkejut.
"Jangan senang dulu, Nona. Aku mengatakan seperti itu, bukan berarti aku sedang membelamu. Hanya saja, aku menghormati semua keluargaku dan tidak ingin merusak acara kebersamaan ini. Apa lagi sampai persahabatan suamiku dan Kak Felix rusak, cuma karena wanita sepertimu!"
"Untung saja baru pasangan, bagaimana jika sudah menjadi istri? Pasti saat kalian punya anak, lalu anakmu muntah tepat di hadapanmu pasti sudah di hajar habis-habisan, bukan?"
"Huhh, semoga saja Kak Felix segera di sadarkan sama Tuhan, kalau calon istrinya bukan wanita yang baik. Apa lagi wanita yang akan di jadikan seorang istri, ternyata memiliki sifat yang cukup dramatis bagaikan sinetron!"
Moana pergi meninggalkan Enza, di mana wajah Enza masih terlihat syok. Dia kira Moana telah membelanya dan berpihak padanya, tetapi dia salah. Di belakang mereka semua, Moana malah memiliki rencana lain untuk menyampaikan apa yang tidak dia suka dari Enza. Ibaratkan membalas apa yang Enza lakukan pada anaknya.
"Idishh, apaan sih itu orang, gaje banget dah! Sebenarnya di sini yang dramatis siapa? Dia atau aku? Toh, dia di depan semua orang membelaku. Lah, sekarang malah menjelek-jelekkan. Aneh!"
Enza mendumel di dalam dirinya sendiri, lalu kembali membersihkan noda di gaunnya yang perlahan mulai menghilang. Hanya saja masih ada sedikit noda saos yang membekas, dan bisa di hilangkan ketika gaun di cuci bersih menggunakan sabun khusus.
Di saat Enza sudah selesai dan baru ingin melangkah keluar kamar mandi. Kini, malah di kejutkan oleh ke datangan Moana yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum.
__ADS_1
Enza melongo kesal, di mana mulutnya membuka lebar dan matanya melotot saat melihat ke arah tubuhnya sendiri.
"Upss, sorry. Aku tidak sengaja, tadinya mau memberikan minum untukmu. Ehh, malah tumpah. Aduhh, maaf ya. Ohya, udah enggak usah khawatir. Juallah baju anakku ini, pasti nanti kau bisa membeli baju 10 kali lipat dari gaun yang saat ini di gunakan, sesuai sama perkataan suamiku."
Moana dengan sengaja malah menumphkan sirop berwarna merah tepat di gaun berwarna putih milik Enza, sehingga jelas sekali banyak bercak noda merah menempel di gaunnya.
Wajah Enza yang benar-benar emosi langsung saja mendorong Moana sampai hampir saja terjatuh. Lalu, Moana melihat Enza malah pergi ke arah luar. Itu artinya Enza memilih pergi meninggalkan kediaman rumah keluarga Ernest, akibat kedatangannya tidak di hargai oleh semuanya.
Moana tersenyum miring, kemudian kembali ke tempat acara. Felix merasa bingung saat melihat Moana sendirian, langsung saja dia mulai mendekatinya dan menanyakan tentang keberadaan Enza.
Dengan wajah yang sangat sedih, Moana hanya bisa mengatakan bahwa Enza pergi karena ada urusan mendadak saat dia menerima telpon. Sedikit berbohong, tetapi itu jauh lebih baik. Dari pada acara mereka menjadi gagal, lantaran ulah Enza berhasil membuat Ernest dan juga Justin tidak seceria waktu sebelum kehadirannya.
Mereka semua kembali meneruskan acaranya dalam suasana yang begitu ceria, bahkan Felix terlihat begitu mempercayai Moana tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu pada tunangannya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung