Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kecurigaan Elice & Sakha


__ADS_3

"A-aduh ...." Moana memegangi perutnya yang terasa begitu menyakitkan.


Sebenarnya rasa sakit yang timbul itu, bukan karena dia mengalami sesuatu yang menyakiti anaknya. Melainkan, hanya pergerakan sang ank yang ada di dalam kandungannya.


"Sa-sayang, kenapa? Ada apa dengan perutmu?" tanya Elice, khawatir.


"Cucuku gapapa, 'kan? Cucuku baik-baik aja, 'kan? Atau kita ke rumah sakit aja, ayo!" sahut Sakha yang terlihat begitu mencemaskan keadaan cucunya.


Moana yang sedikit terkejut akan reaksi kedua mertuanya, hanya bisa tertawa kecil sambil duduk dan mengusap perutnya.


"Bunda sama Ayah enggak perlu khawatir, Moana hanya kaget saja kok. Soalnya pas Moana baru saja ingin duduk, tiba-tiba dia nendang cukup keras hehe ...."


"Astaga, Moana! Uhh ... Untung saja jantung Bunda tidak copot. Bunda kira ada apa sama perutmu, mana Bunda udah panik banget lagi."


"Hehe ... Maaf, Bun. Habisnya Moana juga kaget, lagian dia nendangnya enggak bilang-bilang. Bunda rasain aja nih, sini ...."


Moana menarik tangan Elice, kemudian menempelkan ke arah perutnya sambil meraba dimana letak kaki anaknya.


Tak lama saat semuanya terdiam penasaran, tiba-tiba Baby di dalam perut Moana kembali menendang meskipun tidak sekencang tadi.


Mata Elice membola besar, sebab dia bisa merasakan sentuhan dari cucu pertamanya yang selama ini di nantikan.


Tidak ingin kalah dari istrinya, Sakha pun berdiri dari tempat duduknya langsung mencari posisi untuk merasakan apa yang istrinya rasakan.


Namun, sayangnya dia tidak bisa merasakannya. Sehingga Elice terus meledeknya dan mengatakan bahwa dia tidak menyukai Opanya, sebab Opanya sudah menyakiti hati Mommynya.


Di situ wajah Sakha terlihat lesu, padahal dia ingin sekali merasakannya. Apa daya, keberuntungan belum ada di pihaknya.


Ernest yang baru saja turun dari atas kamarnya, menjadi bingung ketika mendengar teriakan Bunda dan Ayahnya yamg terdengar begitu nyaring sampai ke kamarnya.


"Ada apa dengan wajah Ayah? Terus tadi ada suara keributan apa di sini?" tanya Ernest langsung duduk di sebelah Moana.

__ADS_1


Elice yang masih merasa bahagia langsung menceritakan semua kepada anaknya. Bagaimana respon cucunya kepada dirinya dan juga suaminya. Setelah mendengar semua itu, Ernest terlihat biasa saja.


Namun, tanpa di sadari matanya melirik ke arah Moana yang tersenyum sambil mengusap perutnya. Begitu Moana menatapnya, Ernest malah mengalihkan pandangannya pada makanan.


"Oh gitu, ceritanya?" ucap Ernest, membuat kedua orang tuanya langsung menatapnya.


Mereka tidak menyangka kalau respon Ernest, bisa sesingkat itu kepada istrinya ketika tahu kalau anaknya sudah mulai aktif.


"Hanya itu?" tanya Sakha, melongo.


"Terus apa lagi? Kalau dia sudah aktif bagus dong, tandanya dia sehat." jawab Ernest sambil mengambil nasi goreng.


"Kamu bisa berbicara seperti itu, apa karena kamu merasakan apa yang Bunda rasakan? Atau jangan bilang, kamu memang tidak pernah memperhatikan istri dan juga anakmu?"


Pertanyaan dari Elice berhasil membuat Moana tersendak minumannya sendiri. Begitu juga Ernest, dia tanpa sengaja menjatuhkan sendoknya tepat diatas piringnya.


Kedua orang tua Ernest mencoba untuk memperhatikan gerak-gerik menantu dan juga anaknya. Sebenarnya mereka sudah menyadari kalau ada yang tidak beres dengan mereka berdua.


"Kenapa diam? Bunda nanya sama kamu, apakah kamu pernah merasakan apa yang Bunda rasakan barusan!" tanya Elice, wajahnya terlihat begitu datar.


"Eee ... I-itu Eee--"


Belum selesai Ernest mengatakan apa yang mau di ucapkan, Moana malah berpura-pura untuk merasa mual.


Semua itu Moana lakukan, supaya dia bisa


melindungi suaminya agar tidak mendapatkan tekanan oleh kedua orang tuanya.


Moana memang sangat kesal dengan suaminya, akan tetapi saat Ernest berada di posis ini. Rasanya di tidak tega, jika Ernest harus jujur kalau dia sama sekali tidam pernah menyentuh Moana sedikitpun setelah pernikahan itu terjadi.


Setelah di rasa kondisinya mulai membaik. Moana pun kembali menyudahi sandiwaranya, lalu makan bersama dalam keadaan tenang.

__ADS_1


Namun, tidak berhenti dari situ. Ketika Moana dan Ernest sudah selesai dengan aktifitasnya di pagi hari. Mereka langsung berkumpul di ruang keluarga, sebab ada yang ingin Elice bicarakan pada mereka berdua.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Suasana yang tadinya terlihat bisa saja, seketika menjadi tegang. Lirikan mata Elice benar-benar berhasil membuat menantu dan anaknya langsung merinding.


Moana menundukkan kepalanya ketika dia tahu pasti ada kesalahan yang mereka lakukan, sehingga mertuanya menatap mereka berdua bagaikan predator.


"Bunda sama Ayah mau ngomong apa?" tanya Ernest. Dia mulai memberanikan diri untuk menanyakan semua itu, meski jantungnya sendiri berdebar tidak karuan.


Elice melirik ke arah suaminya sekilas, kemudian dia langsung menanyakan apa yang sudah dia tahan semalaman.


"Moana, jawab Bunda dengan jujur. Selama 1 bulan ini, apa yang Ernest lakukan padamu?"


Degh!


Moana langsung mengangkat kepalanya, dimana matanya membola. Dia tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh Elice saat ini. Akan tetapi, Moana seperti menangkap sesuatu. Bila Elice telah mengetahui tentang rumah tangga mereka yang tidak beres.


"Ma-maksud Bunda apa?" tanya Moana, terbata-bata.


"Jawab saja pertanyaan Bunda, bagaimana sikap Ernest 1 bulan ini sama kamu?" tanya Elice kembali, penuh penekanan.


Ernest yang sangat terkejut atas sikap Bundany, tanpa di sengaja dia malah membuka kartu AS-nya sendiri di depan kedua orang tuanya.


Berbeda sama Moana, dia terlihat lebih hati-hati untuk menyusun kata-kata yang akan dia keluarkan demi menjaga perasaan kedua mertua dan juga suaminya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2