Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Sakit Hati Doni


__ADS_3

Beberapa tahun silam, di malam hari seorang pria paruh baya melihat ada seorang anak kecil sedang meringkukkan badan dalam keadaan tiduran di depan ruko kosong. Dengan kondisi yang seperti itu, kakek bisa nebak bahwa, anak tersebut sedang merasakan sesuatu pada tubuhnya.


Benar saja, ketika kakek turun dari mobil dalam kondisi dipayungi oleh pengawal yang setia menemaninya, tiba-tiba setelah mendekat mereka melihat tubuh anak itu menggigil, gemetar, serta wajahnya begitu pucat. Apalagi bibirnya berwarna kebiruan yang berarti anak tersebut benar-benar butuh pertolongan.


Pada saat itu kondisi hujan turun dengan sangat deras membasahi jalanan serta titik tertentu. Sang kakek segera memberikan perintah tegas supaya mereka segera membawanya masuk ke dalam mobil. Selepas itu, mobil melaju cepat melawan arus hujan menuju rumah sakit. Kakek dan anak laki-laki yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tuan Dewa dan Thoms.


Setelah menolong Naku, sang kakek bertekad untuk menjadikan anak itu menjadi cucu angkat dengan catatan Thoms harus mematuhi perintah darinya. Dikira perintah yang akan diberikan pada Thoms berupa balas budi layaknya yang ada di film-film. Mereka harus bekerja selam bertahun-tahun tanpa digaji.


Akan tetapi ini berbeda, Thoms hanya diminta untuk berlatih memakai semua senjata dan memperkuat diri dengan ilmu bela diri. Semua dapat Thoms lakukan berkat bantuan Doni, selaku asisten atau tangan kanan sang kakek untuk melatihnya dan memberikan arahan.


Selama beberapa tahun, semua terlihat berjalan lancar tanpa kendala. Namun, tepat di usia Thoms yang sudah memasuki 15 tahun. Di situlah terjadi sebuah percekcokan antaran Tuan Dewa dan Doni. Sang asisten tidak setuju atas apa yang Tuan Dewa lakukan, sebab dia ingin menyerahkan semua harta pada cucu yang diadopsi dari jalan.


"Maaf, Tuan. Saya tidak setuju atas ide konyol yang Tuan katakan barusan. Dia hanyalah cucu angkat Tuan bukan cucu kandung, seharusnya Tuan memberikan semua kekuasaan itu terhadap orang kepercayaan. Supaya, suatu saat nanti Tuan tiada semua bisnis ini tetap berjalan hingga semua mafia segan terdapat mafia kita."


Begitulah kurang lebih apa yang Doni sampaikan dengan nada sedikit emosi, tetapi harus penub sopan terhadap atasannya. Meskipun, Tuan Dewa merasa keberatan atas apa yang dikatakan oleh Doni, Dia tetap bersikeras untuk menyerahkan semua harta pada Thoms, sehingga Doni merasa tidak dihargai karena sudah berjuang berapa tahun lamanya untuk menemani sang atasan.


"Saya tahu, apa yang kamu maksud barusan. Kamu ingin semua harta saya jatuh ke tanganmu, bukan? Oh, tidak bisa! Memangnya kau siapa, hem? Kau hanya asisten yang bekerja di bawah perintahku. Jadi, terserah saya mau memberikan kepada siapa harta dan kekuasaan itu toh, bukan urusanmu!"

__ADS_1


"Setidaknya dengan adanya Thoms yang kelak akan menggantikan tahta saya di kursi ini, tetap saja. Kamu akan menjadi asisten yang akan mengarahkan anak tersebut supaya mengerti bagaimana caranya menghadapi musuh. Jika kamu yang menggantikan, saya tidak yakin. Selama bertahun-tahun saja kerjamu hanya bisa mengelabuhi musuh, itu pun kalau berhasil. Terus, kalau tidak? Bisa-bisa semua kekuasaan saya jatuh ke tangan yang tidak tepat."


"Maka dari itu, kamu hanya cocok untuk mendampingi diriku ataupun Thoms. Ditambah saya melihat semakin anak itu tumbuh dewasa, semakin besar jiwa dan semangat yang membara demi mencari musuh, serta menemukan adiknya. Kamu tidak perlu khawatir, tenang saja. Walaupun, kerjaanmu hanya menjadi pendamping tetap posisimu jauh lebih tinggi dari semua anak buah saya. Ibaratkan kamu itu kedua kaki bagi saya, selama kamu ada saya bisa melangkah dengan baik. Namun, jika tidak, saya tidak tahu cara berjalan tanpa kaki."


Perkataan seperti itulah yang berhasil membuat hati Doni terluka. Sebenarnya, niat Tuan Dewa mungkin sedikit benar, hanya saja penyampaian kalimat yang tidak dibenarkan. Sehingga, kata demi kata yang diungkapkan telah membekas di dalam hati Doni. Dia berpikir bahwa, Tuan Dewa tidak mengerti arti kata balas budi. Kesetiaan yang selama ini Doni pertahankan seperti tidak dianggap bagaikan sampah olehnya.


Tanpa disadari, terbesit pikiran yang negatif untuk melenyapkan Tuan Dewa tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Namun, semua itu masih simpang siur lantaran Doni tidak ingin tertangkap basah oleh ketua mafia karena banyak dijaga ketat oleh bodyguard tidak sembarangan.


Kau lihat saja, Tuan. Aku bisa pastikan hidupmu perlahan akan menderita, bahkan sampai kau tidak menyadari jika semua itu adalah ulahku. Jikalaupun, apa yang terjadi padamu bisa ketahuan, kalian tetap tidak akan menyadari akulah dalangnya!


Tunggu saja tanggal mainnya, perlahan-lahan semua games itu akan aku mulai dengan sangat seru dan mengakhirinya tanpa meninggalkan jejak kekalahan sedikit pun. Dan untuk Thoms, akan aku buat dia sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana cinta kasih itu hadir sebagai pelengkap hidupnya. Aku harus menanamkan kebencian terhadap semua orang, termasuk perempuan. Dengan begitu, dia tidak bisa menyadari pentingnya cinta di dalam hidupnya!


Singkat cerita, setelah beberapa bulan pasca kejadian itu. Doni selalu memaksa otaknya untuk bekerja lebih cepat dari biasanya, hingga terbesitlah ide yang cukup membahayakan. Di mana Doni berniat untuk mencampurkan sebuah racun khusus untuk membuat tubuh Tuan Dewa melemah, serta penyakit-penyakit mulai bermunculan.


Sebuah racun itu Doni dapatkan dari tangan ke tangan tanpa sepengetahuan siapa pun. Pria tersebut mendapatkan racun yang terbilang cukup langka dengan harga fantastis demi tujuan besarnya. Dia rela mengeluarkan 40 persen tabungan untuk membeli sebotok racun berukuran 60 mililitter.


Racun tersebut berbentuk seperti air tanpa warna, sehingga ketika tercampur oleh makanan atau minuman yang Tuan Dewa konsumsi tidak akan merubah rasa, warnanya, dan tidak menimbulkan aroma aneh. Itulah hebatnya racun yang dapat membun*uh siapa pun orang setelah mengonsumsinya, tetapi membutuhkan proses tidak secepat racun biasa. Jadi, tidak akan ada yang mencurigai Doni.

__ADS_1


1 Minggu kemudian, setelah Tuan Dewa mengonsumsi racun tanpa sepengetahuannya. Lama kelamaan tubuh kekar, kuat, juga berwibawa perlahan mulai terlihat seperti badan pada usianya. Maklum saja, Tuan Dewa sudah berusia sekitar 47 tahun. Akan tetapi, dia selalu menjaga kesehatan dengan baik karena itu harga mahal sebagai seorang ketua mafia.


Usia boleh tua, tetapi fisik tetap harus kuat. Hanya saja, kali ini Tuan Dewa merasa semakin hari tubuhnya semakin melemah, padahal sebelum ini keadaannya baik-baik saja sehat bugar.


"Kenapa ya, Don. Akhir-akhir ini saya merasa kaya lemes banget, padahal beberapa kali saya tidak ikut terjun langsung hanya memantau kalian dari jarak jauh. Cuma, entah mengapa rasanya kaya orang capek banget. Perasaan seberat apa pun saya bertarung dengan dua mafia sekaligus, tubuh saya tidak akan pernah selemah ini. Apa ini karena umur?"


Tuan Dewa mencurahkan apa yang dirasakan beberapa hari ini kepada Doni, ketika mereka sedang duduk santai memantau pwrkembangan Thoms yang sedang giat-giatnya belajar menggunakan senjata.


Gimana rasanya, enak? Ini belum seberapa, Tuan. Rasa sakit yang sudah Tuan goreskan di hati saya, jauh lebih sakit berkali-kali lipat dari apa yang Tuan rasakan sekarang. Racun itu baru menunjukkan sedikit kehebatannya, tetapi tidak akan membuatmu tiada dalam jangka waktu yang lama.


Doni mengatakan semua itu di dalam hati sambil menoleh ke arah Tuan Dewa yang sedang duduk memperhatikan Thoms. Tidak sengaja mata Tuan Dewa langsung berhasil membuat Doni mengalihkan pandangannya ke arah depan tanpa ekspresi melihat Thoms berlatih menggunakan senjata.


Tuan Dewa merasa ada yang aneh dengan sikap Doni. Namun, kembali lagi. Doni adalah orang kepercayaan, jadi tidak mungkin Tuan Dewa berpikir buruk mengenai asistennya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2