Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Memberikan Justin Pengertian


__ADS_3

Melihat Thoms dan Sakha kembali berpelukan dengan saling memaafkan kesalahan satu sama lain membuat semuanya merasa senang. Elice meneteskan air mata penuh senyuman, sama seperti Naya.


Rasanya Ernest benar-benar bersyukur akhirnya, hubungan kedua orang tua dan sang kakak ipar kembali membaik. Inilah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh Ernest dan Moana, dikarenakan keluarga mereka sudah tidak dipenuhi dendam seperti sebelumnya.


Moana menangis ketika melihat suasana di kamar sebelah sangat mengharukan, di mana sang kakak telah menunjukkan sikap tanggung jawabnya atas apa yang sudab diperbuat.


"Mommy nangis?" tanya Justin, tak sengaja matanya beralih menatap Moana dengan rasa bingung.


Moana spontans mematikan panggilan tersebut, lalu menutupnya serta melepas handset di telinga dan menaruhnya di atas meja samping bangkar Barra.


"E,enggak kok, Sayang. Mommy gak nangis, udah Kakak terusin main sama Adenya, ya," jawab Moana tersenyum sambil menghapus sisa air mata yang akan terjatuh.


Justin bangun dari posisi tiduran menjadi duduk setelah menemani Barra menonton video film animasi anak-anak kecil. Kemudian, menatap intens mata sang mommy layaknya detektif handal.


"Mommy bohong sama Justin, 'kan? Kalau Mommy gak nangis, terus kenapa matanya memerah dan bengkak gitu? Please, Mom. Justin udah besar, Justin bukan Barra yang bisa Mommy bohongi. Jadi, jujurlah. Justin takut Mommy kenapa-kenapa, lagian Daddy, Opa, sama Oma kenapa lama banget sih, di kamar pa ... Pria itu!"


Wajah Justin yang awalnya terlihat serius, seketika berubah menjadi gugup. Hatinya masih terbesit rasa sayang yang kuat terhadap paman yang sudah dianggap sebagai papahnya sendiri. Namun, di sisi lain Justin masih tidak terima atas kejahatan yang dilakukan oleh Thoms beberapa hari lalu yang hampir menewaskan adik serta opanya.


"Sini, Sayang." Moana meminta Justin untuk mendekatinya. Sang anak perlahan melangkahkan kaki melewati kaki sang adik, lalu turun dari bangkar dan duduk dipangkuan sang mommy sambil memeluk sedikit menggerakkan tubuh mereka.


"Kakak tahu gak, Mommy lagi seneng banget. Makanya, tadi yang Kakak lihat itu sebenarnya bukan air mata kesedihan, tetapi air mata kebahagiaan. Kakak tahu kenapa alasannya?" tanya Moana tersenyum.

__ADS_1


"Gak, emang kenapa Mommy senang? Apa Mommy menang arisan? Daddy beliin Mommy hadiah? Mommy ulang tahun? Apa Mommy ...."


"Ssstt ... Bukan, Sayang. Semua yang Kakak katakan salah," jawab Moana membuat Justin terdiam sejenak.


"Terus apa?" tanya Justin, kembali.


"Mommy senang karena ...."


"Karena?" Wajah Justin terlihat begitu penasaran ketika sang mommy selalu menggantungkan kata-katanya.


"Karena Papah Thoms dan Opa Sakha sudah kembali baikan, yeey hehe ...."


Moana tertawa kecil, membuat tubuh Justin langsung menegang. Anak itu kembali mengingat ketika wajah Sakha mengalami babak belur akibat ulah Thoms, sama seperti sang adik yang saat ini masih di rawat lantaran mentalnya sedikit terguncang.


"Mommy tahu kok, Kakak pasti masih kecewa sama Papah, bukan? Cuma, semua ini hanya salah paham kok, bukan apa-apa. Sama seperti dulu yang Daddy lakukan sama kita, masa Kakak bisa memaafkan Daddy, tapi Kakak gak bisa memaafkan Papah. Apa Kakak lupa, selama ini yang Papah loh, yang berjasa untuk membahagiakan kita. Papah juga yang menemani Kakak dan Ade bahkan selalu melindung kita, ketika Daddy hanya bisa menyakiti kita,"


"Masa iya, sih, Kakak gak ada niatan untuk maafin Papah. Kasihan Papah loh, pasti dia sedih banget. Emang Kakak mau buat Papah sama kaya Ayah Felix yang mengalami depresi akibat rasa bersalah berlarut-larut atas kejahatan mereka yang sudah menyakiti Kakak? Jika iya, gapapa. Kakak terusin aja amarah di hati Kakak, setelah itu akan timbul rasa dendam hingga Kakak lupa mana yang baik dan mana yang buruk."


Moana terus mencoba memberikan pengertian terhadap putra pertamanya supaya tidak memendam semua kemarahan yang kelak akan menjadi kebencian di hatinya. Justin tidak berkutik sama sekali, bibirnya seakan terkunci dengan semua perkataan sang mommy yang ada benarnya.


"Asal Kakak tahu ya, apa yang Kakak lakukan pada Ayah Felix itu sangat-sangat menyakiti hatinya. Coba deh, Kakak ingat-ingat lagi, waktu itu Kakak ingin sekali memeluk Daddy Ernst ketika baru pulang kerja, tetapi Daddy menolak semua itu. Gimana perasaan Kakak, pasti sakit, 'kan? Itu sama seperti yang Ayah Felix dan Papah Thoms rasakan saat ini. Harusnya Kakak bersyukur punya orang-orang yang sangat menyayangi Kakak melebihi anak mereka sendiri,"

__ADS_1


"Usia Kakak dan Ade jauh berbeda, Kakak jauh lebih dewasa daripada Ade. Jadi, pasti Kakak sudah paham dong, apa yang Mommy katakan ini? Ingat, loh, Kak. Ayah Felix sampai detik ini masih menjalani pengobatan untuk memulihkan mentalnya sama seperti apa yang Barra alami ini sama kaya Kakak juga. Pasti Kakak bisa merasakan bukan, gimana gak enaknya tidur dengan bayangan menakutkan itu. Sama seperti Ayah Felix dan Papah Thoms, mereka tidur dengan bayangan kesalahan di masa lalu yang belum usai."


Moana tidak peduli apa yang dikatakan ini akan melukai hati sang anak atau tidak, setidaknya dia dapat memberikan pelajaran kepada Justin supaya tidak egois untuk mengambil keputusan yang sebenarnya masih bisa mereka selesaikan secara kekeluargaan.


Mata Justin memerah menahan tangis yang memang sangat menyakitkan, saat dia harus kembali mengingat kejadian di masa lalu. Di mana Daddy Ernest kesayangannya dulu membuat mereka tersiksa, sedangkan Ayah Felix yang dia benci begitu menyayanginya melebihi Ernest. Semetara Papah Thoms, orang yang selama ini menyelamatkan mereka dari kehancuran mental, fisik, juga kema*tian.


"Apa Kakak gak kasihan sama Ayah Felix yang sangat menyayangi Kakak dari Kakak ada di perut Mommy, hem? Terus juga, apa Kakak gak bisa memaafkan kesalahan Ayah Felix dan Papah Thoms? Kakak boleh marah kok, Mommy tidak melarangnya. Akan tetapi, Mommy mohon. Marah yang ada di dalam hati Kakak tidak boleh berlarut-larut supaya Kakak bisa menjadi contoh baik untuk Ade,"


"Apa yang terjadi sama keluarga kita itu bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Kalau memang Kakak sudah siap bertemu dengan mereka dan berbicara sama mereka, nanti Mommy sama Daddy akan mengundang mereka datang ke rumah. Gimana? Kakak mau 'kan, memaafkan mereka? Atau, Kakak membutuhkan waktu untuk bisa memikirkan semuanya?"


Justin tidak dapat berbicara apa-apa. Dia malah memilih untuk merubah posisinya dan memeluk Moana hingga menangis di dalam dekapan ternyaman yang selama ini Justin rasakan.


Moana paham dilema yang dirasakan sang anak, sehingga tidak mudah baginya untuk memaksakan keadaan sebelum sang anak dapat memulihkan hatinya yang masih banyak menyimpan rasa sakit.


Mungkin, sekarang Moana harus lebih hati-hati dan perlahan memberikan pengertian supaya mental sang anak tidak semakin terganggu akibat tekanan yang diberikan. Untuk saat ini, Moana cuma terdiam menenangkan anak pertamanya dari kesedihan.


Setelah itu, Moana meminta maaf lantaran sudah membuatnya menangis seperti ini. Beberapa menit, kondisi Justin sudah jauh lebih membaik. Dia kembali mengajak kedua anaknya bercanda hingga tertawa bersama, membuat Ernest beserta kedua orang mertua yang sudah kembali dari kamar sebelah ikut merasa senang mendengar mereka bertiga tertawa lepas tanpa beban.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2