Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Tidak Percaya


__ADS_3

Semua orang langsung duduk dalam keadaan tenang. Awalnya Sakha hampir kehilangan napas akibat penyakit jantung yang diderita mulai kambuh, kini sudah kembali normal setelah meminum obat yang selalu dikonsusmsi tanpa ketinggalan.


"Sebenarnya semua ini ada apa, Tuan? Apa salah Ayah saya, kenapa Tuan hampir membunuhnya? Bukankah kita semya baru saling mengenal, lantas kenapa Tuan bisa mengatakan Ayahku sebagai musuh?"


Ernest mulai mengatakan pertanyaan yang membuat Thoms langsung menatap tajam ke arahnya dengan penuh kebencian.


"Kau mau tahu, kenapa saya bisa bilang begitu, hahh?" tanya Thoms disertai penegasan disetiap kalimatnya


Niat awal Thoms dan Nay datang ke rumah Ernest hanya sekedar berpamitan kepada Moana dan kdua ponakan karena mereka harus segera kembali ke luar negeri. Akan tetapi, siapa sangka Thoms malah bertemu musuhnya yang sudah lama dia cari ke mana-mana


"Katakan, Tuan. Apa salah Ayah saya?"


"Ayahmu, adalah pria yang sudah membu*nuh ibu dari istrimu. Kau tahu itu!"


Degh!


Semua orang terkejut bukan main lantaran mendengar kata-kata Thoms yang sangat mengerikan. Ernest memang sudah tahu bagaimana masa lalu Moana, tetapi tidak dengan Sakha serta Elice yang hanya tahu keluarga Moana tewas karena kecelakaan.


"Kenapa kalian diam semua, hahh? Kenapa!"


"Bukannya tadi kalian sendiri yang meminta saya untuk menjelaskan kesalahan apa yang sudah dia lakukan, terus kenapa di saat kalian tahu kalian terdiam. Kaget? Atau, tidak percaya?"


Kata-kata Thoms membuat mereka semua menoleh ke arah Sakha. Di mana pria paruh baya itu langsung mendadak gugup, dahinya mulai berkeringat dingin sampai bibirnya ikut bergetar untuk mengatakan sesuatu yang masih tertahan akibat syok.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak percaya Ayah mertuaku yang sudah membu*nuh Mamih!"


Moana membantah semua perkataan sang kakak. Dia benar-benar tidak percaya jika mertuanyalah orang yang sudah membuat Moana terpisah dari Thoms, serta menjadikan mereka berdua hidup tanpa orang tua.


Bolanya Moana terlihat sangat memerah. Rasa marah, benci, juga kekecewaan semuanya bercampur aduk menjadi satu. Moana tidak tahu harus percaya sama Thoms atau tidak, sebab dia masih belum bisa menerima kenyataan yang baru terungkap.


"Tidak mungkin, Tuan. Dia bukan pembu*nuh! Suami saya dari dulu sampai saat ini selalu bekerja keras untuk menghidupi keluarga kecilnya tanpa memberikanku uang kotor!"


"Dia rela jatuh bangun demi mencapai kesuksesan ini, meskipun dia jarang sekali pulang. Suami saya tetap bertanggung jawab!"


"Maaf, Tuan. Saya sebagai istrinya tidak terima atas tuduhan yang sudah Tuan berikan! Kata-kata yang Tuan keluarkan sangatlah menyayat hati keluarga saya. Untu itu, saya mohon dengan hormat pada Tuan. Jangan pernah menyebarkan hoax tentang suami saya!"


Thoms hanya tersenyum lebar mendengar kata-kata mutiara yang keluar dari istri seorang pembu*nuh. Wajar mereka syok dan tidak percaya atas perkataan yang Thoms ucapkan. Apalagi dari tadi mereka tertawa bersama melihat tingkah lucu Justin dan Barra.


Namun, hanya dalam hitungan menit kebahagiaan itu berubah drastis membuat semuanya masih tidak bisa berpikir dengan jernih. Thoms tidak heran atas tanggapan yang mereka berikan karena jika dia ada di posisi mereka juga akan melakukan hal yang sama.


"Tanyakan pada suamimu, apakah yang saya bilang ini benar atau tidak!"


"Lihatlah, dia! Jadi, laki-laki kok, melempem kaya kerupuk tengik. Ke mana jiwa psikopatnya yang sangat sombong itu, kenapa sekarang menciut. Haha ... Dasar pecun*dang!"


"Dulu kau begitu gagah dengan penutup wajahmu itu, dengan harapan tidak ada satu orang yang akan mengetahuimu selain bosmu! Lalu, sekarang? Berpura-pura menjadi orang baik, bijak, bertanggung jawab. Gitu?"


"Cihh! Kau tidak pantas menjadi orang baik, bahkan tanah sekali pun menolakmu! Jadi, jika kau mati suruhlah keluargamu membuang jenazahmu pada hewan-hewan buas di hutan liar yang kelaparan haha ...."

__ADS_1


Suara tawa yang keluar dari mulut Thoms terdengar begitu menyeramkan. Tatapan matanya bukan lagi tatapan seorang manusia, melainkan iblis yang perlahan mulai keluar dari tubuh Thoms.


Ernest tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat Thoms terus menghina sang ayah. Pria lumpuh tidak berguna itu, benar-benar bingung harus mempercayai siapa diantara Thoms dan Sakha.


Semua cerita yang Thoms ceritakan pada Moana, kembali di sampaikan Moana kepada Ernest. Sehingga Ernest tahu betul bagaimana kisah cerita tragisnya kema*tia keluarga Moana yang di bun*nuh secara ke*ji.


Sementara Elice, terus berteriak meminta Thoms untuk berhenti menghina suaminya dengan ucapan yang sangat menyakitkan hati. Elice sampai menggoyangkan tubuh suaminya untuk berbicara agar Thoms tidak terus menghinanya.


Selain itu, Moana dan Nay terdiam dengan segala pemikiran yang sama. Walaupun mereka geram atas tingkah Thoms yang terus merendahkan Sakha, tetapi tetap saja mereka berdua ingin mengetahui bukti akurat yang membuat Thoms sampai sepercaya itu untuk menuduh Sakha.


"Apa buktinya, kalau memang Ayah Sakha adalah pembu*nuh Mamih? Apa yang membuat Kakak begitu percaya, sedangkan Kakak tidak melihat bagaimana wajah pembu*nuh itu? Katakan pada Moana, jelaskan semuanya tanpa bertele-tele!"


"Moana yakin, Ayah Sakha bukanlah pembu*nuh Mamih ataupun Papih! Kali ini Kakak pasti salah paham padanya, bagi Moana Ayah Sakha dan Bunda Elice adalah mertua yang baik. Hanya mereka yang bisa menyayangi Moana seperti anaknya sendiri, bahkan mereka rela kehilangan anaknya sendiri dari pada Moana dan kedua cucunya. Jadi, tidak mungkin mereka pelakunya!"


Thoms tersenyum melihat adik kecilnya terus membela pembu*nuh kedua orang tua mereka. Thoms berusaha menahan amarah di dalam hati dengan mengepalkan tangan hingga urat-urat besar terlihat sangat jelas.


Tanpa berlama-lama lagi, Thoms langsung menyangkal semua tuduhan yang mereka anggap omong kosong, sebagai bukti fakta nyata. Sampai-sampai mereka semua terdiam membeku, menatap Sakha yang hanya bisa terdiam tanpa bersuara sedikit pun.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...



__ADS_2