Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Perasaan Sensitif Ernest


__ADS_3

Jantung Ernest berdegup kencang membuat aliran da*rah sedikit menjadi tidak karuan, sengatan listrik mulai mengenai tubuhnya hingga membuat Ernest sontak terkejut.


Sebuah tangan berhasil memegang si Gatot dengan mere*masnya secara perlahan. Spontan Ernest menoleh ke arah sampingnya di mana Moana sudah berbalik mendekatkan tubuhnya seperti memeluk sang suami. Hanya saja tangannya malah bermain mesra dengan si Gatot yang masih dalam mode on.


Tangan kecil dengan jari-jari yang lentik panjang-panjang, berhasil membuat si Gatot semakin manja. Rasa sesak di dada mampu mengganggu aliran napas Ernest yang semakin tidak beraturan.


"Sa-sayang ...." Suara Ernest terdengar sangat parau ketika Moana masih bermain bersama Gatot yang terasa sesak, ingin segera keluar dari sangkarnya.


Moana masih memejamkan katanya, meskipun tangannya sudah berkelana ke mana-mana. Mulai dari dada bidang sang suami, kemudian kembi turun bermain dengan si Gatot dan kembali lagi ke leher dan mengelus rahang keras Ernest.


Tangan yang tidak biasa memanjakan suaminya untuk beberapa tahun pernikahan pertamanya, kini seakan-akan telah ahli untuk memancing hasrat sang suami agar kembali naik. Entah, Moana belajar dari mana bisa melakukan semua itu. Terpenting dia hanya mengapresiasikan kepada sang suami, bukan pria lainnya.


Moana kembali merekatkan tubuhnya ke sang suami hingga wajah Moana sendiri berhasil menemukan tempat ternyaman. Yaitu, di dekat leher Ernest sampai membuatnya bisa merasakan helaan napas dari sang suami ketika Ernest menoleh ke arahnya.


Sementara itu, pundak Ernets sebelah kanan bisa merasakan empuknya boba yang sudah lama tidak bisa sentuh. Apa lagi cengkraman tangan Moana kepada si Gatot sungguh luar biasa. Usapan lembut, rema*san kecil terus Moana berikan membuat Ernest menggigit bibir bawahnya.


Jika orang normal, kemungkinan kedua kakinya spontan bergerak untuk menahan si Gatot lantaran sengatan listrik mulai menjalar naik ke atas tubuhnya. Akan tetapi, kedua kaki Ernest yang belum bisa digerakkan tidak mampu menahan rasa tersebut, sampai Ernest harus berulang kali menarik napas yang semakin menyesakkan dada.


Dada Ernest semakin bergerak cepat, bersamaan dengan kedua mata yang mulai sayu membuat Ernest kembali menoleh ke arah wajah Moana. Dia kembali mencoba mengeluarkan suaranya walaupun terasa berat.


"Sa-sayang, a-apa ya-yang kamu la-lakukan ini? Ka-kamu tidak lagi tidur, 'kan? Kamu sengaja melakukan ini untuk memancingku, iya?"


Moana perlahan membuka matanya, melirik ke arah mata sang suami sambil tersenyum. Kemudian, Moana mulai menduselkan kepalanya mendekati kuping Ernest.

__ADS_1


"Bagaimana sentuhan tanganku, apakah enak Tuan Ernest tercinta?" tanya Moana dengan suara pelannya yang dibuat sedikit berdayu-dayu. Persis seperti godaan betina yang sedang memancing sang jantang.


"Ta-tanganmu memang enak, lebih enak lagi apa bila dia masuk ke dalam Apemmu yang tembem itu, Sayang ...." Suara khas yang sudah lama tidak Moana dengar, langsung menusuk telinga hingga membuat tubuhnya sedikit bergetar akibat merinding.


"Ti-tidak, aku tidak mau! A-aku ngantuk, bye!" Baru saja Moana ingin berbalik membelakangi Ernest, tiba-tiba tangannya ditarik oleh sang suami membuat tubuh Moana kembali menabrak pundak Ernest.


"Aakhhh ... Apaan sih, Ernest! Aku mau ti---" Moana menghentikan perkataannya saat merasakan begitu lembut usapan tangan Ernest mulai dari pipi turun ke rahang.


"Jika kau ngantuk, kenapa berani-beraninya menggota si Gatot, hem?" tanya Ernest, sorotan matanya benar-benar sudah dipenuhi oleh hasrat yang sudah lama tidak dia salurkan.


"A-awalnya aku ha-hanya ingin bercanda, niatnya mau mengerjaimu. Ta-tapi ...."


"Tapi, apa, Sayang. Hem?"


"Tapi ...."


Namun, melihat Moana terdiam. Pikiran Ernest malah berkeliaran ke mana-mana. Kondisi Ernest yang sulit bergerak membuat dia selalu merasa kecil hati. Kekurangan pada fisiknya, berhasil menurunkan sifat kepercayaan pada Ernest.


"Apa karena aku lumpuh, jadi kamu bisa seenaknya mempermainkan si Gatot? Apa kamu lupa, Sayang. Yang lumpuh ini hanya kakiku, bukan si Gatot. Jadi, apapun yang menyentuhnya akan langsung membuatnya terbangun."


"Tapi, ya, sudahlah, tidak apa-apa. Aku paham kok, aku memang tidak bisa membuatmu puas seperti sebelumnya. Jadi, kamu bisa mengerjaiku sepuasmu jika itu bisa membuatmu senang."


"Aku sadar, fisikku yang tidak sempurna ini pasti lama kelamaan akan membuatmu dan anak-anak menjadi malu. Cuman, aku tidak masalah. Setidaknya aku tetap akan membuktikan, bahwa kelumpuanku ini tidak akan membuat kalian repot untuk mengurusku layaknya anak kecil yang butuh perhatian. Aku bisa mengurus diriku sendiri, karena aku masih punya dua tangan yang sehat."

__ADS_1


"Kalau memang kamu tidak puas dengan fisiku, tidak apa-apa. Aku tidak akan marah kok, kalau perlu kamu mencari kepuasan pada pria lain pun tidak masalah. Aku terima semua itu, mungkin ini sebagai balasan karma yang harus aku terima karena sudah sangat menyakiti kalian. Sekali lagi maafkan suamimu yang tidak berguna ini, aku----"


Moana langsung menutup mulut Ernest yang sudah banyak berbicara mengenai keburukan dirinya sendiri. Gelengan kepala dari Moana adalah sebuah kode supaya Ernest tidak lagi berbicara seperti itu.


Ini semua di luar ekspetasi Moana. Sebenarnya dia menghentikan semua itu hanya karena malu, lantaran Ernest memberikan julukan pada goanya yaitu si Apem. Sehingga, rasa malu berhasil menghentikan semua kepuasan yang ingin Moana berikan pada sang suami.


Maklum saja, Ernest baru menerima semua musibah itu karena menyelamatkan anak sambungnya. Jadi, dia masih belum bisa menerima fisik yang tidak sempurna itu untuk sementara. Walaupun, dokter mengatakan kelumpuhan itu hanya sesaat dan bisa kembali disembuhkan.


Akan tetapi, Ernest malah beranggapan kalau dia akan lumpuh sampai waktu yang tidak bisa ditentukan berapa lamanya. Semua keterbatasan itu malah membuat perasaan Ernest menjadi sedikit sensitif. Apapun yang sedikit menyentuh kondisi fisik Ernest, maka dia akan langsung bereaksi. Menganggap bahwa semua orang hanya merasa kasihan serta memanfaatkan kelemahan fisik yang terbatas.


Entah mengapa, saat Moana melihat tatapan mata Ernest membuat dia merasa sangat bersalah karena sudah mempermainkan perasaan suaminya. Moan baru menyadari, apa bila fisik yang seperti ini membuat Ernest lebih sensitif. Jadi, sebisa mungkin dia harus menghindarkan semua itu demi menjaga perasaan juga mental Ernest agar tidak semakin lemah.


Mereka terdiam saling bertatapan satu sama lain. Moana menggelengkan kepalanya, kemudian melepaskan tangan dari mulut Ernest. Lalu, menyampaikan permintaan maaf karena sudah membuat Ernest bersedih.


"Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Jujur, awalnya aku ingin membuatmu senang karena aku yang akan memulai permainan di malam pertama kita. Namun, saat kamu memberikan julukan itu pada milikku disitulah aku mulai merasa malu dan sedikit gugup. Aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya atau tidak, jadi aku urungkan kembali. Bukan bermaksud untuk menghinamu. Sekali lagi maafkan aku, karena sudah melukai hatimu, Sayang. Maaf!"


Berulang kali Moana mengutarakan rasa bersalahnya agar Ernest bisa kembali tersenyum dan tidak selalu menganggap bahwa fisiknya itu lemah. Semua orang yang memiliki keterbatasan, pasti akan memiliki kelebihan yang sewaktu-waktu bisa terlihat.


Buktinya, meskipun Ernest lumpuh untuk sementara. Dia tetap berusaha mengerjakan semua yang dia bisa kerjakan seorang diri tanpa merepotkan sang istri. Kecuali, ada sesuatu yang sulit dia jangkau barulah Ernest akan sangat membutuhkan pertolongan sang istri.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2