Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kanaya Farizka


__ADS_3


Di sebuah jalan yang sangat gelap, hanya ada satu penerangan dari satu lampu yang mewakilkan tempat tersebut mampu membuat bulu kuduk seseorang merinding dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Huhh, sepertinya aku salah lewat jalan. Di sini memang sangat sepi, cuman mau gimana lagi. Aku harus cepatnya sampai ke tempat itu untuk menemui ayah, kalau tidak pasti ayah akan melukaiku lagi."


"Pokoknya aku harus berani, karena hanya jalan ini yang cepat sampai di sana. Kalau aku takut yang ada malah jadi lama sampainya, lagian juga ayah ngapain sih, ngajak aku ketemuan di tempat ini. Bikin orang merinding aja, hahh ... Sabar Naya, sabar. Mau bagaimana pun dia keluarga satu-satunya yang kamu punya saat ini, jadi kuat-kuatin ajalah, ya!"


Seseorang yang sedang berjalan di dalam kegelapan adalah Naya, pelayan wanita yang bekerja di restoran tanpa tidak disengaja Naya sedikit menarik perhatian Thoms.


Beberapa saat lalu, sebelum Naya pulang bekerja, sang ayah kembali mendatangi Naya di restoran seperti bisa. Dia meminta Naya datang ke tempat yang sudah dijanjikan, hanya demi memberikan uang untuk membayar hutang yang sudah ditagih.


Naya barusaha menenangkan ayah sambungnya meminta agar sang ayah tidak membuat onar dan dia telah berjanji akan segera menemui sang ayah selepas pulang kerja. Demi memberikan uang tersebut, apa lagi sang ayah paham betul kalau hari ini Naya gajian. Sehingga, dia memiliki peluang besar untuk memoroti anaknya sendiri.


Seharusnya, di hidup Naya yang sudah berusia dewasa dia hanya fokus bekerja, membahagiakan orang tua dan memikirkan masa depan. Akan tetapi, kali ini tidak. Naya seperti dituntut untuk bisa menghidupi ayah sambung demi membalas hutang budi karena semasa hidup sang ibu selalu di nafkahi oleh sang ayang, walaupun tidak sepenuhnya dia bertanggung jawab atas keperluan rumah tangga.


Sifat, kebiasaan juga lingkungan yang buruk memang menjadi salah satu patokan sang ayah memiliki hidup yang salah. Selepas istrinya meninggal, sang ayah semakin menjadi-jadi untuk bermain judi, ngerokok, mabuk dan memakai obat-obatan. Intinya kehidupan itu membuat Naya kesulitan mengendalikan emosi sang ayah. Sampai-sampai dia selalu di siksa jika tidak bisa memberikan uang untuk bersenang-senang.


Maka dari itu, apapun yang dia minta Naya selalu usahakan walaupun di dalam hati dia sudah sangat lelah. Ingin rasanya Naya menjauh dari ayah sambungnya, tetapi tidak bisa. Ini bukan kewajiban Naya, karena itu bukan ayah kandung melainkan sambung. Jadi, tidak seharusnya Naya menghidupinya seperti ini dalam artian Naya hanya di jadikan sebuah alat penghasil uang untuk sang ayah.



Kanaya Farizka, wanita cantik dengan usia 23 tahun harus menghadapi kehidupan yang sangat pahit melebihi brotowali. Mungkin, ketika sang ibu masih ada hodupnya tidak terlalu berat seperti sekarang. Setelah sang ibu tiada, rasanya dia benar-benar sudah lelah untuk menjalani kehidupan.

__ADS_1


Belum lagi, tingkah sang ayah yang memang hanya bisa menyiksa batin juga mental secara terus menerus berhasil membuat Naya hampir frustasi. Syukurnya mental dia masih kuat, jadi dia tidak sampai lepas kendali dan sedikit menghormati ayah sambung.


Sesampainya di simpang jalan, Naya langsung mencari sang ayah sambil mengawasi semua tempat gelap tersebut. Sang ayah membawa Naya pergi ke tempat gudang penyimpanan yang sudah lama kosong. Di sana hanya ada satu penerangan yang sangat redup, sehingga Naya tidak bisa melihat apapun di sana.


"Ayah ... Ayah di mana? Ini Naya, ayah. Naya udah di sini, ayah cepetan keluar. Naya takut!" ucap Naya sedikit gugup penuh ketakutan.


Naya terus berusaha mengedarkan kedua mata. Meskipun gelap, dia tetap memaksa matanya untuk melihat semua yang ada di sana agar memastikan bahwa dia tetap aman seorang diri. Lalu, Naya berputar perlahan tanpa berhenti mencari serta memanggil sang ayah yang tidak tahu di mana keberadaannya.


"Aa ... Ayah belum datang? Naya udah bawa uang yang ayah minta, cepatlah datang. Naya takut sendirian, Naya rasa ada seseorang yang sedang mengawasi Naya. Naya takut ayah, Naya takut. Ayah di mana?"


Naya berusaha terus memanggil sang ayah dalam keadaan tubuh yang sudah tegang serta mata yang terus melihat ke semua arah. Ketakutan itu membuat Naya gugup hingga nada bicaranya terdengar terbata-bata.


Seseorang memang sedang memantau pergerakan Naya, tanpa Naya sadari orang tersebut menyamar di dalam kegelapan. Naya memang sudah merasa dari tadi ada orang yang mengikutinya, makanya Naya sedikit berlari demi menyampai tempat tersebut. Hanya saja, sang ayah tidak kunjung datangembuat Naya semalin ketakutan.


Suara Naya sedikit meninggi disertai penekanan. Dia benar-benar tidak nyaman, karena Naya merasa kalau banyak mata yang saat ini sedang melihatnya. Hanya berselang beberapa detik, Naya hampir menangis. Barulah sang ayah datang dalam keadaan seperti orang yang habis mabuk.


"Hai, anakku tersayang! Bagaimana, hem? Mana uangku? Sudah kau dapatkan, bukan?" ucap sang ayah, membuat Naya terdiam mematung.


Untuk yang pertama kalinya, sang ayah merangkul kencang pundak Naya dari belakang sambil tersenyum melirik ke arah anaknya. Lalu tangan yang satu lagi mengadah untuk memberikan kode kepada Naya.


Rasa takut semakin membuat badan Naya mulai bergetar. Dia kembali mengingat di mana ayah sambungnya hampir mele*ceh*kan Naya ketika beberapa bulan lalu. Awalnya Naya ingin menjauhi sang ayah, tetap susah. Sang ayah tidak pernah membiarkan melepaskan Naya karena bagi dia, Naya adalah mesin ATM yang akan menghasilkan uang melimpah.


"Le-lepaskan ta-tangan, ayah! A-atau aku tidak akan mem-memberikan uang itu pada ayah!" ucap Naya berusah mengancam sang ayah demi mempertahankan dirinya.

__ADS_1


"Oh, tidak bisa. Kamu kira aku ini anak kecil, digertak dikit menciut, gitu? Haha ... Naya, Naya. Sudah berasi kamu mengancam ayahmu, hem? Berani!"


Tangan sang ayah yang sedang merangkul Naya sedikit ditekan, membuat leher Naya tercekik sampai batuk-batuk. "Uhukk ... Uhukk ... A-ayah, le-lepasin tangan ayah. Ra-rasakanya uhukk ... Sa-sakit banget, ayah!"


"Uhh, sakit, ya? Hem, sayang-sayang. Maafin ayah ya, ayang tidak sengaja. Mana sini, coba ayah lihat lehernya, kalau ada lupa bisa kita obati bersama. Gimana?"


Naya berusaha melepaskan tangan sang ayah yang menyentuh leher. Bukan menyentuh dalam artinya mengecek, melainkan seperti mengelus yang seolah-olah memancing hasrat di dalam tubuh Naya. Akan tetapi, Naya tidak bisa. Tenaga sang ayah begitu kuat, mungkin karena pengaruh obat juga minuman keras.


"Lepasin, ayah! Naya tidak suka diginiin, Naya akan kasih uang yang ayah minta dua kali lipat. Asalkan lepaskan tangan ayah!"


Mendengar pengancaman berupa uang yang dilipat gandakan oleh Naya, ayah sambungnya langsung melepaskannya dan segera menyandari di tiang dekat mereka sambil tangan satunya mengadah. Naya refleks menjauh sedikit, kemudian mengeluarkan uang dari tas kecil sesuai sama apa yang dia katakan.


"Ini, uang buat ayah. Naya balik dulu, ingat ayah! Ini yang terakhir, Naya sudah capek selalu diperas sama ayah. Intinya Naya sudah tidak bisa lagi memberikan uang buat ayah, kebutuhan Naya banyak, apa lagi hutang Naya sama bos itu udah tidak bisa di hitung. Jika Naya kaya gitu terus, sudah pasti hidup Naya tidak akan maju. Naya juga pengen usaha sendiri, tidak hanya menjadi pelayan. Naya juga pengen jadi bos, untuk itu. Cukup sampai di sini Naya bantu ayah, selebihnya ayah usaha sendiri!"


Kata kata yang terlontar membuat sang ayah sakit hati. Gejolak amarah di wajahnya sangat terlihat, membuat dia tidak bisa mengontrol kembali. Di saat Naya hampir melangkah pergi, tangannya ditarik keras oleh sang ayah hingga jatuh ke dalam pekukan.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2