Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kecurigaan Thoms


__ADS_3

Di saat Naya terdiam, satu kalimat kembali membuat Naya terkejut bukan main. Entah, malaikat apa yang Tuhan kirim padanya saat ini. Dia benar-benar sangat bingung juga penasaran, lantaran apa yang Thoms lakukan persis seperti bunglon yang bisa berubah-ubah sesuai keadaan.


"Tidak usah pikirkan hutangmu, besok pagi kamu bisa telpon atasanmu berikan dia alasan yang kuat untuk melepaskanmu menjadi karyawannya, lalu tanyakan semua jumlah hutang yang sudah kamu pindah dan mintalah nomor rekeningnya. Saya akan membayar lunas semua hutangmu, tapi dengan satu syarat!"


"Syarat lagi, Tuan? Astaga, hidupmu ribet sekali, Tuan!" tanya Naya, benar-benar kesal.


"Mau atau tidak?" ucap Thoms, penuh penekanan.


"Ckk, ya, ya, ya. Cepatlah katakan apa syaratnya? Awas aja kalau aneh-aneh!" sahut Naya dengan ancaman yang membuat Thoms menggelengkan kepalanya kecil.


"Dasar aneh, ditolongin malah ngancem!" seru Thoms.


"Nyenyenye ... Dahlah, apa syaratnya?" tanya Naya.


"Dalam waktu 1 tahun ke depan kau harus bekerja menjadi asisten pribadiku tanpa gaji. Ke mana pun saya pergi, kamu harus tetap ikut kecuali saya yang tidak mengizinkannya. Bagaimana?"


"Haahh? Ja-jadi asisten Tuan tanpa gaji?" pekik Naya, terkejut bukan main.


"Ya, jika kamu menyetujuinya semua urusanmu di sini akan selesai dalam waktu kurang lebih 1 hari. Setuju?"


Naya langsung terdiam, banyak pikiran yang saat ini mulai memenuhi isi kepalanya. Jika satu tahun ke depan dia tidak mendapatkan gaji sama sekali, lantas bagaimana Naya bisa menyambung hidup? Dari mana dia akan membeli makan, minum, pakaian, atau kebutuhan lainnya, sementara dia tidak memegang uang sepeser pun?


Itulah yang mengganjal di dalam pikiran Naya sekarang. Dia hanya bisa mengoceh di dalam hati tanpa mengeluarkan suara sedikit saja, apa lagi Naya tahu kehidupan di luar negeri itu sangatlah mahal. Jadi, tidak mungkin dia bisa bertahan tanpa uang ditangannya.


Namun, siapa sangka. Apa yang Naya pikirkan saat ini bisa langsung ditebak oleh Thoms, padahal Naya tidak mengatakan apa-apa karena dia lagi memperhitungkan kehidupannya ke depan.

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir, semua kebutuhan sandang, papan dan panganmu akan saya penuhi tanpa terkecuali. Kau tenang saja, saya tidak menggajimu selama 1 tahun bukan berarti saya berniat menyiksamu bagaikan kuda. Hanya saja, itu sebagai balas budi karena saya tidak mau rugi menolongmu tanpa imbalan. Setuju?"


Tidak ada jalan lain, Naya hanya menyetujui apa yang Thoms katakan. Hati Naya seperti benar-benar sudah begitu percaya kalau hidupnya akan berubah jauh lebih baik saat bersama Thoms.


Naya sempat berpikir, Thoms seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda. Pertama dia bisa menjadi iblis yang sangat mendukung dendam Naya dan terakhir Thoms juga bisa menjadi malaikat tak bersayap untuk meringankan semua beban hidup yang selama ini Naya pikul seorang diri.


"Baiklah, saya mau bekerja sama dengan Tuan. Asalkan Tuan bisa menghidupi say---"


"Apa-apaan ini, saya harus menghidupimu? Ohh, jangan mimpi Nona Naya yang terhormat! Saya mengatakan semua itu karena tidak mau rugi, semua yang saya berikan pada Nona bukan semata-mata saya mengikhlaskannya. Justru saya lakukan perjanjian itu supaya apa yang saya berikan padamu tetap bertimbal balik, mengerti Nona?"


Senyuman Thoms terlihat begitu mengejek Naya. Dia tidak menyangka, ternyata Thoms membantunya bukan karena memiliki hati yang baik. Akan tetapi, dia memang berniat untuk menjadikan Naya budak yang bisa dia suruh sesuka hati.


Naya benar-benar menyesel karena berpikir bahwa Thoms ini adalah malaikat yang Tuhan kirim untuk menyelamatkan hidup Naya dari pria yang bertahun-tahun menumpang hidup.


Namun, nyatanya Thoms hanya manusia licik berkedok malaikat. Dia sama sekali tidak ingin merasa dirugikan lantaran sudah membantu Naya sampau sejauh ini, tetapi dibalik itu semua dia hanya ingin melakukan semua ini demi membuat Naya agar selalu ada di dekat Thoms.


"Cihh, dasar pria perhitungan! Dahlah, aku mau tidur. Capek, ngaladenin orang macam Tuan sama aja kaya lagi ngeladeni ibu-ibu yang gak mau uang bulananya dipotong."


Naya langsung membereskan kotak makan yang sudah habis, lalu menaruhnya di atas meja samping bangkar kemudian minum. Setelah itu langsung merebahkan tubuhnya secara perlahan membelakangi Thoms.


"Ckk, dasar wanita tidak tahu terima kasih!" ucap Thoms berdiri menjauh dari bangkar Naya.


"Kau, pria perhitungan!" sahut Naya.


"Ya, ya, ya. Terserah! Lebih baik asaya tidur dari pda ngurusin wanita bawel sepertimu, udah gak tahu terima kasih, maunya seenaknya pula. Aneh!"

__ADS_1


Thoms mulai berjalan menuju sofa panjang yang berukurang besar, cukup untuk dia merebahkan tubuh yang terasa sedikit pegal. Sementara Naya, dia tidak lagi membalas perkataan Thoms. Dia lebih memilih diam untuk kembali memikirkan semua kehidupan yang akan dia jalani kedepannya dengan bantuan Thoms.


Satu harapan Naya, dia hanya ingin merasakan hidup tenang tanpa lagi merasakan kesulitan ekonomi yang membuat dia harus menjadi bahan omongan tetangga. Tidak lupa, Naya pun menginginkan keluarga kecil yang penuh kasih sayang. Tidak peduli bagaimana masa lalu calon suami Naya kelak, terpenting dia bisa menerima Naya seutuhnya dan memulai hidup bahagia.


Bayangan masa indah keluarga kecil yang dia inginkan itu mulai membuat Naya merasa tenang, sampai tidak terasa Naya sudah memasuki alam bawah sadarnya. Berbeda sama Thoms, dia malah terlihat susah tidur akibat satu kejadian yang mengganjal di dalam pikirannya.


Thoms menoleh ke arah Naya yang sudah membelakanginya, tidak lama Thoms mendengar suara dengkuran halus dari Naya. Itu artinya Naya sudah tertidur pulas, membuat Thoms merasa sedikit tenang.


Thoms tiduran diatas sofa dalam keadaan terlentang dengan kedua bola mata menatap ke atas langit. Beberapa kali dia mencoba memejamkan matanya, tetapi tetap tidak bisa. Semua bayang-bayang masa lalu kembali berputar membuat Thoma teringat akan satu hal.


"Tanda itu?" ucap Thoms lirih.


"Kenapa tanda itu hampir sama persis seperti tanda di tangan kanan Tuan Sakha? Apa jangan-jangan dia ...."


"Akhh, tidak mungkin! Jika Tuan Sakha pelakunya, kenapa dia tidak mengenali wajahku?"


Thoms mulai bertanya-tanya di dalam hati kecilnya. Dia masih tidak percaya kalau apa yang sekilas dia lihat itu bukanlah kebenaran. Tidak mungkin seorang Sakha tidak mengenalinya, jika memang Sakha pelaku tersebut pasti dia akan merasa gugup ketika bertemu dengan Thoms.


Apa lagi mantan seorang Mafia pasti tidak akan pernah ketinggalan berita untuk melihat perkembangan mafia-mafia yang ada diluar negeri. Akan tetapi, sikap Sakha sama sekali tidak menunjukkan kejanggalan yang membuat Thoms sampai menaruh curiga terhadapnya.


Namun, tidak hanya berhenti di situ. Thoms keluar dari kamar Naya, lalu menghubungi salah satu orang kepercayaan yang ada di markas untuk mencari tahu tentang sisilah keluarga Ernest sebenarnya. Walaupun Thoms percaya, Sakha bukan pelakunya tetap saja hati Thoms masih gelisah sebelum dia menemukan jawaban yang sangat akurat tentang tanda atau ciri khas orang yang lagi Thoms cari selama ini.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2