Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Mengantar Dinda Pulang


__ADS_3

Pada malam hari, tepatnya pukul 7. Felix baru saja pulang dari kantornya menuju ke rumah yang sudah hampir 1 Minggu lebih dia tinggalkan.


Di pertengahan jalan, hujan turun dengan sangat deras. Di mana Felix melihat seorang wanita sedang duduk di sebuah halte untuk berteduh. Akan tetapi, Felix seperti mengenalinya, sehingga mobilnya berhenti tepat di depan halte sambil membuka kaca di sebelah kirinya.


Mata Felix menyipit, melihat wanita itu yang juga menatapnya dalam keadaan bingung. Sebab, wanita tersebut berpikir bahwa mobil yang berhenti di dekatnya adalah seseorang yang akan menculiknya.


Namun, saat keduanya sudah menyadari bahwa mereka saling mengenal. Felix langsung memanggilnya sedikit berteriak dari dalam mobilnya.


"Dinda, ngapain kamu di situ?" tanya Felix, menyipitkan matanya.


"Loh, Tu-tuan Glad? I-ini saya lagi nunggu hujan reda sambil memesan driver," ucap Dinda menunjukkan ponselnya.


"Hujannya semakin deras, saya antar saja!" titah Felix.


"Ti-tidak perlu, Tuan. Saya lagi coba-coba pesan driver, cuman belum ada yang nyangkut,"


Dinda berdiri sedikit mendekati mobil Felix agar suaranya terdengar sampai ke telinga Felix, meski dia harus berjaga jarak agar tidak sampai terkena cipratan air hujan.


"Kau lihat saja, hujannya sangat deras. Pasti semua driver tidak ada yang mau menerima penumpang, karena resikonya terlalu besar. Banyak pohon tumbang di mana-mana karena hujan angin, lebih baik kamu ikut saya biar nanti saya yang antar pulang. Kalau kamu diam aja di sini nunggu hujannya reda, mau sampai kapan? Tengah malam, gitu?"


"Itu malah lebih bahaya lagi buat wanita sepertimu, sekarang cepatlah naik! Saya tidak punya banyak waktu, kalau saya hitung sampai 10 kamu tidak naik, maka saya tidak akan menanggung resiko jika ada apa-apa denganmu di sini!"

__ADS_1


Wajah Dinda terlihat sangat kebingungan, lantaran apa yang di katakan Felix memang benar adanya. Beberapa kali Felix menoleh ke semua arah untuk memastikan keamanan bagi dirinya sendiri. Ketika tidak menemukan siapa pun, bahkan jalan phn sangat sepi membuat Dinda sedikit ketakutan.


Awalnya Dinda terlihat pemberani, tetapi berkat ucapan Felix malah berhasil membuatnya ketakutkan. Sementara Felix terlihat santai sambil menghitung agar memastikan apakah Dinda akan ikut dengannya atau tidak.


Setelah hitungan ke-9, tiba-tiba terdengar suara petir yang sangat menggelegar bersamaan dengan sebuah kilatan yang menyala. Di situ Dinda spontans langsung berlari terburu-buru memasuki mobil dalam keadaan mengejutkan Felix.


"Aaaaa ...." teriak Dinda, memejamkan kedua matanya sambil merangkul lengan Felix.


Jatung Felix langsung berhenti di persekian detik, lalu kembali bekerja ekstra cepat lantaran tubuhnya mulai terasa kaku atas aksi Dinda yang sedikit menegangkan.


Perlahan Felix mencoba untuk menetralkan napasnya yang mulai tidak beraturan. Kemudian, Felix menoleh ke arah Dinda di mana dia masih setia memegangi tangan Felix tanpa melepaskannya.


"Ekhem, ekhem ...." Felix berdehem berulang kali, seperti memberikan kode pada Dinda.


"O-oke, sa-saya akan antar kamu pulang, ta-tapi bisakan lepaskan tanganmu ini. Sa-saya kurang nyaman!" jawab Felix.


Dinda yang baru menyadari akan kesalahannya segera melepaskan tangannya, sambil meminta maaf. Kemudian, Felix memintanya untuk memakai sabuk pengaman. Setelah itu Felix kembali melajukan mobilnya secara perlahan di sela-sela badai hujan melanda.


Terlihat sekali, Dinda memeluk sabuk pengaman dalam keadaan gemetar. Hanya saja, Felix berusaha untuk menenangkannya agar bisa mengalihkan ketakutannya.


Setibanya di rumah kontrakan Dinda, Felix baru saja ingin kembali pulang ke rumah tiba-tiba saja mobilnya tidak bisa di jalankan. Padahal bensi masih full, saat di cek ternyata ada mesin mobil yang sedikit konslet akibat hujan badai.

__ADS_1


"Astaga, ada apa sih sama ini mobil! Kenapa harus bermasalah di saat tidak tepat kaya gini, terus gimana caranya aku pulang?" tanya Felix pada dirinya sendiri. Wajahnya terlihat kesal ketika menatap mesin mobilnya dan juga hujan yang semakin deras tanpa henti.


"Ada apa, Tuan? Apakah mobilnya bermasalah?" tanya Dinda, penasaran.


"Entahlah, sepertinya bulan ini saya lupa memanjakannya. Jadi, ngambek!" jawab Felix, terus menatap mobilnya.


"Te-terus gimana, Tuan? Hujannya semakin deras, apa Tuan nunggu di rumah saya dulu. Nanti saya coba bantu pesankan driver buat Tuan pulang ke rumah," sahut Dinda, langsung membuat Felix menoleh ke arahnya.


"Apa kamu sudah gila, hahh? Bagaimana kalau nanti kita di grebek tetangga, terus mereka menyuruh saya untuk menikahimu karena menyangka kita melakukan hal yang aneh. Apa kamu mau bertanggung jawab?" tanya Felix, panik.


"Ti-tidak, Tuan. Di-disini aman. Seandainya sampai jam 11 malam nanti Tuan tidak mendapatkan driver untuk membawa Tuan pulang, Tuan bisa tidur di ruang tamu dan saya di kamar, kalau pun Tuan mau. Saya tidak bisa memaksakannya," ucap Dinda, memberikan solusi. Meski, dia sendiri pun merasa ketakutan kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka.


Felix terdiam sejenak, sampai terdengar suara petir yang membuat Dinda refleks langsung melompat memeluk Felix bagaikan Koala.


Lagi-lagi jantung Felix berdetak sangat kuat, membuatnya merasa tidak nyaman. Sebelum terkena serangan jantung secara mendadak, Felix melepaskan pelukan Dinda. Di mana wajah Dinda terlihat memerah karena rasa malunya.


Mereka pun perlahan masuk ke dalam rumah, dalam keadaan wajah Dinda merona malu dan Felix merasa tegang saat mengingat kejadian beberapa detik lalu.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2