
Sesampainya di rumah, Justin dan Moana langsung berjalan ke dalam rumah di khawal oleh 2 bodyguard yang memang selalu setia menemani mereka kemanapun pergi.
Thoms yang belum lama pulang dari urusannya, tiba-tiba melihat Justin selalu memeluk Moana sambil berjalan membuat dia merasa aneh. Ditambah mata Moana terlihat memerah, seperti bekas tangisan yang berusaha dia tahan.
Thoms langsung berdiri dalam keadaan panik, wajahnya sangat datar dan cukup terlihat menyeramkan.
"Ada apa ini? Kenapa kalian pulang dalam keadaan kusut, sedih juga ketakutan. Hem? Katakan padaku, apa yang terjadi pada kalian saat makan di luar?"
Suara Thoms yang terdengar berat serta menakutkan, berhasil membuat tubuh Justin bergetar ketika memeluk Moana. Sedangkan Moana, sedikit terkejut saat mendengar suara Thoms yang mulai meninggi.
"Dek!" ucap Thoms sekali lagi penuh penekanan.
Justin yang sudah tidak kuat lagi, langsung lari begitu saja menuju kamarnya dan menutupnya sekeras mungkin lalu menguncinya rapat-rapat. Mendengar suara itu membuat Thoms semakin bingung atas sikap Justin yang berubah drastis.
"Ada apa dengan Justin? A-apa suaraku terlalu besar sampai-sampai menakutinya?" tanya Thoms, merasa bersalah sama apa yang dia lakukan beberapa saat lalu.
"Aku tidurin Barra dulu ya, Kak. Setelah itu aku akan memberitahu sesuatu pada kakak," jawab Moana, suaranya terdengar lirih.
"Baiklah, aku tunggu di taman belakang," sahut Thoms, diangguki oleh Moana.
__ADS_1
Kemudian mereka berjalan berlawanan ke tujuannya masing-masing. Thoms merasa sedikit menyesal karena sudah membentak ponakannya yang memiliki trauma akan bentakkan.
Ingin rasanya dia pergi ke kamar Justin, kemudian meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan padanya. Hanya saja, Thoms tahu kalau Justin sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak akan bisa di ganggu, jadi biarkan saja Justin sendiri di kamarnya agar bisa beristirahat.
Sebenarnya, Justin tidak marah pada Thoms. Dia hanya sedikit terkejut atas semua kejadian hari ini yang berhasil mengguncangkan hati juga pikirannya.
Bisa di bilang, Justin sedikit labil. Dia mengakui kerinduannya pada Ernest, tapi dia juga tidak ingin Ernest mendekati keluarganya akibat rasa takut pada mimpi buruknya yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi.
Saking lelahnya menangis sambil memikirkan Daddynya, perlahan mata Justin mulai meredup dan akhirnya dia pun tertidur dalam keadaan masih sedikit terisak.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
"Andaikan urusanku sudah selesai, mungkin aku bisa menikmati kehidupan yang jauh lebih baik kedepannya bersama istri juga anak-anakku kelak."
"Namun, apakah ada wanita yang mau hidup bersamaku setelah mengetahui masa laluku seperti ini? Jikalau pun ada, pasti mereka hanya menginginkan hartaku bukan diriku. Lantas, apakah aku akan selamanya hidup menyendiri seperti ini?"
"Hidupku dari kecil sudah biasa sendiri, tapi untuk kedepannya aku tidak ingin kembali hidup sendiri. Aku juga butuh pendamping, agar bisa melahirkan generasi penerusku. Hanya saja, penerus yang baik bukan tidak baik."
Thoms berbicara sambil menatap langit, di mana cahaya bintang serta bulan membuat hatinya terasa sedikit tenang. Banyak beban di pundaknya yang tidak bisa dia jelaskan betapa beratnya hidup yang harus dia jalani selama ini.
__ADS_1
Suara yang biasanya terdengar berat juga lantang, kini menjadi penuh kesedihan. Air mata mulai memenuhi bola mata Thomas, bahkan hampir saja terjatuh jika Moana tidak langsung mengatakan apa yang terjadi pada Thoms.
"Sabar ya, Kak. Aku yakin, suatu saat nanti kakak pasti akan mendapatkan wanita yang baik, wanita yang bisa menerima semua kekurangan kakak dan menjadikannya sebagau kelebihan untuknya. Jadi, kakak tidak perlu khawatir. Ingat! Tuhan menciptakan kita itu saling berpasang-pasangan, tidak ada yang sendiri. Untuk itu, terus semangat demi mendapatkan kebahagiaan yang harus kakak kejar."
"Aku di sini akan selalu ada buat kakak, apapun yang kakak lakukan jika itu baik aku pasti mendukung kakak. Tapi, jika itu tidak baik. Sekeras apapun aku akan tetap berusaha membuat kakak kembali menyadari atas kesalahan yang akan kakak perbuat!"
"Intinya, kakak harus percaya. Keajaiban Tuhan itu ada, mungkin sekarang kakak belum menemukannya. Namun, kelak aku yakin kakak akan bahagia bersama keluarga kecil kakak melebihi diriku. Hanya saja, aku minta sama kakak untuk sudahi balas denda ini. Aku tidak mau kakak sampi kenapa-kenapa atau ada korban yang tidak bersalah kembali berjatuhan. Aku tidak akan kuat menyaksikan semua itu, ikhlasan saja apa yang sudah terjadi sama Mamih dan Papih. Mereka pasti sudah tenang karena sebagian musuhnya sudah kakak lenyapkan dan harta yang di titipkan telah kakak kembalikan pada pemiliknya."
"Aku harap kakak bisa meninggalkan semua ini dan memulai hidup kakak dari nol sambil mencari belahan jiwa kakak yang kelak akan setia menemani sampai kakak menutup usia. Sekarang kakak tidak perlu sedih, percayalah. Tuhan akan selalu bersama orang-orang yang bersamanya, kakak tidak boleh lagi melakukan hal yang tidak baik kalau kakak ingin hidup aman, tentram juga bahagia."
Nasihat Moana memang sangat berguna bagi Thoms, akan tetapi Thoms masih belum bisa melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Selagi balas dendamnya belum tuntas, maka sampai kapan pun hidup Thoms tidak akan tenang. Dia akan selalu di hantui oleh rasa bersalahnya karena tidak bisa menyelamatkan kedua orang tuanya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1