Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Istri Tidak Ada Akhlak


__ADS_3

"A-ayah ke-kenapa menatap su-suamiku seperti i-itu?" tanya Moana, panik.


Ernest yang sudah mengetahui semua itu hanya bisa terdiam di dalam hatinya. Rasanya dia terlalu senang setelah menjahili kedua orang tuanya, tanpa merasa bersalah. Semua dilakukan, karena dia sedikit kesal atas sikap Sakha yang begitu menyebalkan.


Elice terlihat bahagia saat dia telah berhasil menggendong cucu pertamanya. Akan tetapi, dia pun terkejut bahwa cucunya seorang laki-laki. Tidak seperti apa yang Ernest katakan di awal.


"Astaga, ma-maafkan Oma sayang. Oma kira kamu perempuan, habisnya Daddymu mengatakan seperti itu. Ehh, ternyata Oma di prank."


"Dasar anak kurang ajar! Cucuku tampan begini, masa di bilang cantik. Ckk, ada-ada saja. Biarkan, biar urusan Opamu yang memberikan pelajaran supaya


Daddymu jera!"


"Uluhh, uluhh ... Oma jadi gemes deh, aaa ... Pengen nyubit, tapi sayang. Jadi, Oma cium aja ya biar kamu enggak sakit hihi ...."


Elice mengoceh sambil menggendong Baby Boy, lalu di cium berulang kali tanpa memperdulikan Sakha yang saat ini sudah berjalan perlahan ke arah Ernest. Hingga akhirnya, terdengar suara kesakitan akibat tangan Sakha berhasil menjewer keras anaknya.


"Awsshh ... A-ampun, Yah. Ampun, aduh ... Sa-sakit, Ayah. Lepasin!"


Moana terkejut melihat suaminya di perlakukan tidak baik oleh Ayahnya sendiri, matanya melirik ke arah mereka dengan cepat bagaikan orang linglung.


"A-ayah, Bunda. Ada apa ini? Kenapa kalian berbicara seperti itu?"


Moana berbicara dalam keadaan panik, bingung semua bercampur menjadi satu. Kemudian kembali beralih menatap suaminya yang masih setia mengeluh kesakitan.


"Apa benar yang di katakan Bunda tadi, kalau kamu ngeprank mereka?"

__ADS_1


Ernest yang duduk di samping Moana tepat di atas bangkar, merasa sangat malu atas perlakuan Ayahnya. Bahkan hanya mereka yang melihat Ernest, tetapi dokter dan juga suster. Mereka malah tersenyum menyaksikan kejadian langka itu.


"Kamu tahu, ini suamimu sudah membohongi kami. Dia bilang cucu pertamaku perempuan, bukan laki-laki. Sehingga Ayah mengatakan bahwa Ayah akan menunggu kehamilanmu berikutnya sampai kamu memiliki 11 putra dan 5 putri."


Mulut Moana refleks terbuka lebar, bersama kedua bola matanya yang melebar ketika mendengar perkataan dari Ayah mertuanya. Begitu juga sang dokter dan juga suster mereka berhenti tertawa.


Dirasa suasana sudah tidak mendukung, mereka pun segera berpamitan untuk kembali bekerja. Mereka tidak ingin mencampuri masalah keluarga, jadi lebih baik fokus untuk mengurus pasien lainnya.


Seperginya dokter dan suster, Sakha langsung melepaskan jeweran kuping Ernest hingga wajah dan kupingnya sangat merah. Kemudian segera bergantian berlari kecil ke arah cucunya.


Berulang kali Ernest mengusap kuping sebelah kirinya karena terasa sangat panas dan juga sakit. Tidak sampai di situ. Moana yang sudah mengetahui kejahilan suaminya, malah ikut menambahkan jeweran di kuping sebelah kanannya. Jadi, kedua kuping menjadi seimbang berwarna kemerahan.


"Hem, bagus ya. Udah berani kamu membohongi kedua orang tuamu sendiri? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan jantung Ayahmu, apa lagi kamu sangat tahu bila Ayah sangat menginginkan cucu laki-laki. Lantas kenapa kamu malah mengeprank mereka, hahh?"


"Hyaak ... Dasar istri tidak ada akhlak!"


"Aku ini suamimu ya, jadi jangan bersikap tidak sopan padaku. Atau kamu akan--"


"Akan apa, hah? Kau mau mengancamku, hem? Maka jangan salahkan aku, bila telingamu hilang satu!"


Kedua orang tua Ernest terkekeh melihat penderitaan anaknya yang tersiksa akibat hukuman dari Moana. Entah mengapa, setelah melahirkan sifat galak Moana menjadi semakin meningkat.


Ernest saja terkejut, melihat istrinya yang sudah mulai berani atas dirinya. Ya, walaupun panggilan mereka sudah berubah lebih baik, akan tetapi Ernest belum sepenuhnya memberikan akses untuk Moana melakukan apa yang dia inginkan atas dirinya.


"Haha ... Lihat, Sayang. Daddymu tidak bisa gerak, makannya jangan macem-macem mau bohongi Oma dan Opa. Jadi, kena sendiri batunya 'kan." ucap Elice meledek anaknya sendiri.

__ADS_1


"Aakhh ... Cucuku yang tampan, Opa mau gendong."


Sakha langsung merebut Baby Boy dari pelukan istrinya, terlihat sekali betapa bahagianya dia saat mendapati cucu yang sesuai dengan keinginannya.


Hanya saja, di balik kebahagiaannya. Ada Ernest yang tersakiti, karena Moana belum melepaskan hukumannya sebelum Ernest meminta maaf kepada kedua orang tuanya.


Dengan terpaksa, Ernest pun meminta maaf pada kedua orang tuanya termasuk Sakha. Dia menjelaskan bahwa, Ernest sangat kesal ketika Sakha selalu membandingkan antara cucu perempuan dan juga laki-laki.


Maka, dari situ bisa di saksikan. Kalau Ernest sudah mulai membela istrinya tanpa dia sadari. Moana pun yang awalnya kesal, kini perlahan mulai luluh setelah mengetahui alasan di balik kebohongan yang telah suaminya lakukan.


"Arrghh ... Kenapa aku yang sial sih! Niat mau ngerjain Ayah, malah aku yang kena imbasnya. Menyebalkan*!" gumam Ernest di dalam hatinya sambil menatap kedua orang tuanya yang sedang asyik bermain dengan Baby Boy.


Sementara Moana pun ikut terharu melihat anak pertamanya mendapatkan kasih sayang oleh Oma dan Opanya yang begitu besar. Tapi, ada satu yang mengganjal di dalam hatinya. Apa bila anak yang dia lahirkan perempuan, apakah dia akan mendapatkan kasih sayang sebesar ini? Atau akan jauh di bawah ini?


Itulah kegelisahan Moana, kalau saja dia bisa meminta. Dia hanya ingin memiliki satu anak saja, yaitu Baby Boy. Karena dia sangat takut, bila anak berikutnya adalah perempuan, pasti itu akan sangat menyedihkan. Dimana reaksi Sakha tidak akan sebaik ini ketika melihat Baby Boy.


Saat sudah mulai puas bermain bersama Baby Boy, Elice pun kembali memberikan Baby Boy kepada Moana. Mereka tahu pasti Moana juga kangen terhadap anaknya sendiri. Tidak lupa, ada satu pertanyaan dari Elice yang berhasil membuat Moana dan Ernest lagi-lagi bertengkar.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2