
Melihat Moana yang terdiam tanpa mengatakan sesuatu, semakin membuat Thoms merasa khawatir. Hatinya terasa tidak tenang sebelum mendengar Moana kembali berbicara. Tidak tahu apa yang lagi Moana pikirkan saat ini, Thoms hanya bisa menunggu reaksi terkejut itu mulai memudar.
5 menit telah berlalu dan Moana masih saja setia dalam keadaan terdiam. Thoms tidak bisa lagi menunggu terlalu lama, baginya sudah cukup membiarkan Moana dengan kondisi seperti ini. Apapun yang akan terjadi, Thoms siap menerima resikonya asalkan Moana tidak hanya terdiam bagaikan patung.
"Dek, sadarlah! Ayo, katakan sesuatu sama Kakak, jangan kaya gini, Kakak mohon!"
"Kalau kamu kecewa sama Kakak, lebih baik pukul Kakak, lukai Kakak dari pada Kakak harus melihat kamu terdiam seperti ini. Rasa sakit ketika fisik Kakak terluka tidak sebanding dengan rasa sakit saat Kakak melihat kamu tidak lagi mau berbicara."
"Dunia Kakak seketika runtuh, lantaran adik kesayangan yang selama ini Kakak cari sampai ke ujung dunia membenci Kakaknya sendiri. Ya, mang Kakak bukan orang baik seperti kamu, tapi semua itu bukan keinginan Kakak, Dek. Semua adalah takdir yang harus Kakak jalani, jika bukan karena pekerjaan ini sampai detik ini mungkin Kakak sudah tidak akan pernah ketemu kamu. Atau, kamu tidak akan pernah tahu, kalau kamu masih punya keluarga satu-satunya yang masih hidup."
"Untuk itu, Kakak minta tolong sama kamu, Dek. Bicaralah, jangan diam seperti ini. Sakit hati Kakak, Dek. Saat melihat adik kesayangan Kakak bereaksi seperti ini. Di mana kebawelanmu, kecerewetan bibirmu itu. Kenapa setelah kamu tahu Kakakmu salah, malah diam, hem? Kenapa!"
"Biasanya jika Kakak melakukan kesalahan kamu akan langsung memarahi Kakak 7 hari 7 malam sebelum Kakak memperbaiki kesalahan Kakak. Terus, kenapa sekarang kamu berubah jadi pendiam. Apakah ini pertanda kalau kamu telah membenci Kakak? Jika memang begitu, Kakak minta maaf. Kakak sudah gagal menjadi Kakak yang baik buat kamu, Kakak tidak tahu harus berbuat apa lagi. Diammu seperti sebuah tusukan tajam bagi Kakak, mungkin inilah takdir yang harus Kakak jalani."
"Baru juga Kakak merasakan kebahagiaan saat bertemu kalian, dan sekarang? Kamu malah membenci Kakak, atau mungkin sebentar lagi kamu tidak akan mau melihat wajah pria breng*sek, be*jad, kejam juga arogan seperti Kakakmu ini. Setidkanya Kakak sudah bisa mengantarkanmu ke depan pintu gerbang kebahagian itu sudah lebih dari cukup, Kakak bisa berjuang buat mendapatkan kata maaf darimu. Cuman, jika kamu hanya terdiam seperti ini, Kakak tidak tahu harus melakukan apa lagi."
Thoms benar-benar sudah menyerah dan pasrah atas apa yang akan terjadi diantara hubungan persaudaraan mereka. Meskipun rasanya sangat pedih, tetapi inilah jalan yang harus Thoms ambil. Dia sadar, dosanya sudah begitu banyak jadi wajar kalau Moana sangat sulit untuk dimaafkan sang Kakak.
Thoms duduk membungkukkan badannya, sambil kedua tangan saling menggenggam erat. Kepala Thoms menunduk bersamaan dengan air mata yang sudah menetes di lantai.
__ADS_1
Suara isakan Thoms terdengar sangat menyedihkan untuk Moana. Penderitaan yang Thoms ceritakan sangat memilukan. Moana sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana Thoms menjalani kehidupan sepahit itu. Pantas saja, setiap Malam Thoms tidak pernah bisa tidur nyenyak akibat bayang-bayang trauma itu sangat membekas.
Perlahan Moana melirik ke arah Thoms yang sedang menunduk sambil menangisi penderitaan yang sangat menyakitkan dari kehidupan masa lalu. Seandainya Thoms bisa memilih, lebih baik dia menjalani kehidupan pahit seperti di masa lalu, dari pada mendapatkan kebencian dari adik kandung sendiri.
Mungkin Moana seperti itu karena tidak bisa melihat perjuangan apa yang Thoms lakukan sampai bisa bertahan dititik ini. Padahal, Moana bisa merasakan bagaimana menderitanya sang kakak demi mencari dirinya. Jika dibilang kecewa, pasti Moana kecewa. Hanya saja, rasa kecewa itu kalah dengan cinta kasih yang ada di dalam hati Moana untuk sang kakak.
"A-aku tahu, Kakak melakukan semua ini demi menuntaskan semua dendam orang tua kita. Cuman, apa yang Kakak jalani ini sebuah kesalahan besar. Kakak telah menghabisi keluarga mereka yang tidak bersalah atau mengetahu apapun. Seharusnya cukup orang bersangkutan yang menerima hukuman, bukan melibatkan keluarga."
"Mungkin kalau Kakak bukan Kakakku, aku benar-benar sangat membenci Kakak. Sayangnya, Tuhan menakdirkan kita bertemu agar aku bisa mengarahkan jalan Kakak supaya jauh lebih baik lagi lagi. Kakak ini sudah terlalu lama terjebak di dalam lingkaran hitam, jadi tugasku sebagai seorang adik harus bisa mengeluarkan Kakak bagaimanapun caranya!"
"Aku sudah memaafkan Kakak, aku pun tidak akan membenci Kakak karena aku sadar. Jika aku ada diposisi Kakak, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Hanya saja satu yang aku inginkan, segera berubahlah demi menjadi pria yang jauh lebih baik lagi."
"Apa Kakak ingat, Justin hampir saja tiada jika bukan karena Ernest. Itu semua berkat musuh Kakak yang sirik atau ingin membalaskan dendamnya melalui orang lemah yang ada di dekat Kakak. Aku tidak mau lagi anak-anakku menjadi korbannya, Kakak pasti paham, 'kan?"
Perkataan Moana berhasil mengangkat kepala Thoms dan langsung menatapnya dengan mata sembab, hidung beler serta wajah memerah. Baru kali ini Moana melihat raut wajah sang Kakak begitu menyedihkan hanya karena takut akan kehilangan Moana, keluarga satu-satunya yang saat ini Thoms miliki.
Namun, ketika mendengar reaksi tersebut dari Moana membuat Thoms tidak bisa berkata apa-apa lagi selaon memeluk sang adik begitu erat. Tangis Thoms pecah untuk kesekian kalinya di dalam pelukan adik tersayang.
Usapan tangan Moana yang dipenuhi kasih sayang, mampu membuat Thoms merasa nyaman. Moana membiarkan Thoms menangis sepuasnya sampai merasa tenang kembali. Kurang lebih beberapa menit, tangis Thoms mulai mereda. Dia melepaskan pelukan Moana sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kakak paham, Dek. Sekali lagi terima kasih, kamu sudah mau menerima Kakakmu yang berdosa ini. Kakak janji, setelah misi Kakak selesai. Kakak akan segera menuntaskan pekerjaan yang lain dan menutup semua akses pekerjaan ini, sesuai sama janji Kakak pada diri Kakak sendiri."
"Baguslah, jika Kakak punya memikirkan seperti itu. Tapi, ingat! Usia Kakak sudah tidak muda lagi, jangan lupa pikirkan kebutuhan dan masa depan Kakak sendiri. Papih dan Mamih di sana pasti sudah menanti-nantikan untuk melihat Kakak bahagia saat memiliki keluarga kecil sepertiku. Apa Kakak tidak iri melihatku, selalu main sama anak-anak bahkan tidur pun ada yang nemenin. Sementara, Kakak? Kakak hanya terdiam membisu menyaksikan kebahagiaanku."
"Sudahlah, jangan memikirkan itu. Misi Kakakmu ini belum selesai, jika sudah Kakak akan memikirkan perkataanmu ini. Oh, ya, beberapa hari lagi, Kakak akan kembali di rumah. Kamu gapapa 'kan, di sini sendiri?"
"Secepat itu Kakak kembali? Kenapa enggak bulan depan aja sih, kita belum liburan, belum senang-senang dan lain sebagainya. Apa Kakak tidak rindu berjauhan dengan ponakan Kakak?"
"Masih banyak pekerjaan yang harus Kakak tangani. Jika dibilang rindu, pasti Kakak rindu sekali sama kalian. Apa lagi, ketika Kakak pulang nanti tidak ada kalian di rumah pasti rasanya tidak karuan. Cuman, mau bagaimana lagi. Kamu sudah kembali bersama suamimu. Jadi, Kakak tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya kalian bahagia sudah lebih dari cukup."
Moana menganggukan kepala sambil sedikit cemberut membuat Rio tersenyum, lalu memeluknya untuk beberapa saat ke depan setelah baikan.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1