Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kasih Sayang Justin


__ADS_3

Semua yang mereka lakukan selalu ada di dalam6 pengawasan serta penjagaan 3 bodyguard yang memang dikerahkan untuk mendampingi Moana juga kedua anaknya. Sementara Thoms sedang mengerjakan tugas yang harus segera di selesaikan, agar dia bisa memiliki banyak waktu untuk menemani sang adik kembali bersama suami juga mertuanya di negara tempat Moana dibesarkan setelah berpisah dari keluarganya.


Sebenarnya jika dibilang risih, Moana memang risih oleh perlakuan kakaknya yang cukup ketat nenjaga serta melindungi Moana beserta kedua anaknya dari hal-hal yang akan membahayakan mereka.


Akan tetapi, Moana tidak bisa menolaknya. Mungkin itu salah satu cara untuk Thoms menunjukkan kasih sayangnya kepada orang yang sangat penting di dalam hidupnya. Jangan salah, dengan begini Moana juga bisa lebih tenang walaupun terkadang dia juga sedikit malu akibat banyak orang yang menganggapnya seperti orang penting, padahal bukan sama sekali.


Setelah sampai di taman Justin lamgsung menaiki salah satu permainan sambil di lihatin oleh Moana dan Ernest. Barra juga memperhatikan Justin bermain sambil mengempeng di atas pangkuan daddynya.


"Adek, lihat sini! Ngeng, ngeng, ngeng hahah ...."


Justin memanggil Barra agar bisa melihat kakaknya bermain ayunan. Justin memperlihatkan betapa kuatnya dia mendorong ayunan sendiri sampai hampir terjatuh. Moana dan salah satu bodyguardnya saja hampir berlari ketika melihat Juatin sedikit ceroboh.


"Astaga, Justin! Huhh, hampir saja jantung Mommy copot!" seru Moana, terkejut.


"Hihi, maaf. Mommy tenang aja, Justin akan hati-hati kok. Yuhuuu ... Hahah," ucap Justin tertawa sambil terus mengayun tubuhnya ke depan agar ayunannya bertambah tinggi.


"Hati-hati, Sayang. Pegangan yang kenceng, nanti jatuh!" titah Ernest, membuat Justin menganggukan kepalanya.



Terlihat sekali Justin sangat menikmati permainannya. Sudah lama dia tidak merasakan pergi keluar rumah sebebas ini, biasanya dia hanya pergi beberapa kali itu pun hanya sebentar demi menjaga penyamaran mereka.


Tidak lupa Moana juga mengajak Barra untuk bermain di ayunan khusus anak kecil supaya tidak merasa iri pada sang kakak yang selalu membuat Barra menangis ingin ikut bermain.


"Uhh, tututu sayangnya mommy. Kenapa nangis sih, hem? Mau main juga kaya kakak, iya? Oalah, pantesan nangis. Ya udah ayo kita main, let's go!"


Moana mengambil Barra dari pangkuan Ernest, kemudian membawanya pergi untuk diletakan di kursi ayunan khusus. Awalnya Barra menangis, sekarang berubah ketawa saat Moana sudah meletakkan di kursi tersebut.


__ADS_1


Barra terlihat senang saat dia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh sang kakak. Lirikan mata Barra pada Justin juga terlihat seperti kesal dan penuh kemenangan. Hanya saja, semua orang tidak melihat itu. Biasalah, anak kecil jika memang sedang mengambek akan melakukan hal seperti itu termasuk Justin ketika dia masih kecil.


Wajah Barra terlihat begitu mirip dengan Ernest, bahkan kulitnya juga. Apa lagi badannya yang berisi membuat semua orang menjadi gemas ketika melihatnya. Berbeda sama Justin, dia lebih mirip Moana sedikit campuran dari wajah ayah kandungnya.


Mereka bermain bersama, tertawa dan sebagainya. Sampai Justin dan Barra sudah mulai lelah, mereka semua pergi ke tempat yang lebih sejuk sambil menikmati es krim sambil duduk di taman.


Mereka duduk di salah satu kursi taman yang panjang sesekali melihat anak-anak yang asyik bermain bersama keluarganya. Di sini tempat khusus semuanya beristirahat sambil menikmati jajanan yang ada.


"Apa ada yang sudah laper, hem? Kalau aja mommy mau ke sana cari cemilan dulu," ucap Moana.


"Justin mau, Mom!" seru Justin, sambil menunjuk ke atas.


"Boleh, aku juga mau, Sayang. Sekalian beli minumnya ya, apa mau aku temenin?" tanya Ernest.


"Tidak perlu, kamu di sini aja jaga anak-anak. Aku ke sana sebentar, ya. Bye!"


Moana pergi mencari cemilan di temani oleh salah satu bodyguard yang biasa menjaganya. Jarak antara tempat jajanan sama mereka beristirahat kurang lebih sekitar 7 meter, jadi tidak terlalu jauh bagi Moana untuk tetap bisa memantau mereka.


"Hem, enak. Eskrim Ade enak enggak? Ini cobain eskrim punya kakak, psti Ade suka," ucap Justin, menawarkan eskrimnya. Kemudian dia berdiri disamping Ernest lalu memberikan satu sendok eskrim ke mulut Barra.


Vanilla adalah rasa kesukaan Justin ketika dia membeli eskrim atau minuman yang memiliki aneka rasa bervariasi, berbeda sama Barra yang cenderung menyukai rasa coklat. Apapun itu, Barra selalu menginginkan coklat tidak dengan rasa yang lain.


"Hem, enak. Daddy mau?" tanya Justin.


"Tidak, daddy sudah tua nanti kalau kebanyakan makan manis-manis bisa kena penyakit gula hehe ...," jawab Ernest diangguki olehnya.


Di saat Justin lagi menikmati eskrimnya sambil bergoyang-goyang bagaikan mainan yang baru di isi baterai membuat Ernest hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sifat anaknya sama persis seperti Moana ketika merasakan sesuatu yang enak di dalam mulutnya.


"Wah, lihat, Sayang! Kakakmu begitu menyukai eskrimnya, bagaimana denganmu? Apa Barra juga suka sama rasa eskrimnya? Hoo, suka dong ya 'kan. Jadi, sekarang makan lagi ya sebelum eskrimnya mencair," ucap Ernest menyendokkan eskrim ke mulut Barra, sayangnya Barra malah tidak menginginkan eskrim tersebut.

__ADS_1


"Aaaaa ...," teriak Barra menggelengkan kepalanya, dan berusaha untuk menolak semua itu dengan cara memberontak.


Ernest sedikit kesulitan untuk mengontrol emosi di dalam diri Barra, bahkan dia melihat sifat Barra sama persis dengan sifatnya yang keras kepala. Di situ Barra berusaha keras untuk meminta eskrim dari Justin, tapi Ernest ataupun Justin tidak mengerti arti bahasa tubuh yang Barra tunjukkan.


"Barra mau apa, Sayang? Jangan ngamuk gini dong, daddy susah geraknya," ucap Ernest menaruh eskrim dikursi belakang, setelah itu langsung mengatasi Barra yang lagi ngereok.


"Ade mau apa? Jangan begini, kasian daddy. Coba kasih tahu kakak, Ade mau apa biar kakak ambilin. Oke?" tanya Justin secara lembut.


Disaat Barra memberikan kode pada sang kakak, Justin mencoba untuk mengertinya. Sampai akhirnya semua itu tertuju pada eskrim yang ada di tangan Justin.


"Ade mau eskrim kakak, iya? Ya, udah kakak kasih, tapi ingat ya jangan marah lagi. Setuju?"


"Aaaa ...."


Barra terus mengamuk dari dekapan Ernest, dan langsung berhenti saat Justin menyuapini Barra dengan eskrim miliknya. Betapa sayangnya Justin pada Barra, sehingga dia rela memberikan eskrim miliknya atau tukeran sama eskrim milik adiknya.


Ernest hanya bisa menyaksikan pemandangan menyejukkan ini. Saat sang kakak menyuapini adiknya penuh semangat juga kasih sayang, Barra juga terlihat nyaman sampai tidak terasa eskrim habis.


Setelah habis, Barra tetap saja menangis. Dia masih belum puas menyicipi eskrim tersebut, Ernest bingung cara mendiami anak kecil harus seperti apa lantaran dia tidak pernah mengurus anak. Sesekali Ernest menoleh ke semua arah mencari keberadaan Moana. Akan tetapi, Justin berhasil membuat adiknya


senang karena di berikan eskrim milik Barra sebelumnya.


Ternyata tanpa di sadari Barra memakan 2 eskrim sekaligus, miliknya juga milik Justin dengan lahap. Seakan-akan dia tidak akan memberikan sedikit celah agar Justin bisa menikmati apa yang dia makan sekarang. Jelas-jelas di sini terlihat betul betapa besarnya kasih sayang seorang kakak pada adiknya, tapi adiknya malah tega melakukan semua ini demi menunjukkan sebagai pemenang atas kekuasaan kedua orang mereka.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2