
Apa pun yang Dinda dengar dan amati dari semua luka di hati Justin, semua disampaikan pada Felix agar dia bisa merasakan betapa beratnya perjuangan Moana untuk menghidupi Justin, menjaga mental dan tetap berusaha membuat Justin merasa bahagia.
Seketika dunia Felix hancur sehancur-hancurnya saat mendengar kisah pilu yang Justin rasakan. Di mana Dinda kembali menceritakan tentang pembullyan sedikit yang Justin rasakan di luar negeri sesuai sama apa yang Justin katakan.
Felix sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya ada air mata yang sekarang menjadi saksi bisu betapa menyesalnya Felix ketika mengambil jalan terbo*doh selama hidup.
Emosi mulai menyelimuti isi kepala Felix, hingga akhirnya dia melakukan hal yang membuat Dinda terkejut.
"Aaaa ... Dasar Felix bo*doh, bo*doh, bo*doh!" pekik Felix memukuli kepalanya berulang kali dengan sangat keras.
"Hentikan, Sayang. Hentikan!" teriak Dinda, refleks menahan tangan Felix yang kembali ingin memukul kepalanya. Akan tetapi, tenang sang istri yang tidak sebanding dengan tenaga yang Felix keluarkan.
"Akibat ulahmu anakmu sendiri menjadi korbannya, ayah macam apa kau, Felix! Dasar bia*dap, bisa-bisanya kau lepas tanggung jawab sampai orang lain menjadi korbannya. Apa kau tahu, banyak korban yang sudah menjadi kekajamanmu di masa itu. Apa kau mikir, hahh? Tidak bukan!"
"Lebih baik kau mati aja, percuma juga kau hidu tidak ada gunanya! Sejahat-jahatnya penjahat, kaulah yang jauh lebih bia*dap, Felix! Akhhh ...."
Amukan Felix di dalam mobil membuat Dinda kewalahan, tidak tahu harus melakukan apa lagi. Dinda hanya bisa terus berusaha melawan Felix sampai akhirnya menyerah. Dinda memutuskan keluar dari mobil untuk meminta tolong pada seseorang, jelas-jelas jalan begitu sepi membuat Dinda sangat bingung.
Dinda lari ke sana, ke sini tidak menemukan apa pun. Dinda berusaha kembali mencoba menenangkan Felix, tetapi tetap tidak bisa. Felix begitu depresi atas semua penyesalan yang sudah dia perbuat pada anaknya sendiri, hingga sulit mengontrol rasa amarah di dalam hati.
Sampai seketika, Dinda kembali keluar mobil dan hampir tertabrak oleh mobil seseorang jika sang supir tidak mengeremnya.
"Aaaa ...." Dinda berteriak sambil menutup wajahnya.
"Astaga, apa-apaan ini, hahh! Kau ingin mencelakakanku diam-diam, gitu?" pekik seseorang yang berada dibelakang dalam keadaan terkejut saat kepalanya terbentur kursi depannya.
__ADS_1
"Ma-maaf, Tuan! Di-dia tiba-tiba muncul membuat saya kaget, untung saya bisa mengerem. Jika tidak, sudah pasti kita akan dikira menabraknya, jelas-jelas dialah yang ingin mencari ma*ti!"
Seorang supir berusaha menyangkal apa yang dikatakan oleh majikannya, dia tidak ingin menjadi sasaran empuk ajang tinju hingga tidak berdaya untuk melawannya.
"Ckkk, menyusahkan!" Seorag majikan itu pun turun dari dalam mobil mendekati Dinda yang masih syok. Tidak lupa ada beberapa penjaga yang terus mengawasi sang majikan agar tidak terjadi sesuatu.
"Hei, apa kau sudah gila? Jika kau ingin mati, pergilah ke jurang bulan di tempat seperti ini!" pekik orang tersebut membuat Dinda langsung tersadar kalau tubuhnya masih selamat.
"Hahh, untung aku selamat! Terima kasih, Tuan. Bolehkah saya minta tolong, suami saya sedang tidak baik-baik saja, bantu saya bawa dia ke rumah sakit. Saya mohon!" ucap Dinda sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dada dengan wajah yang sangat menyedihkan.
Orang tersebut terdiam sejenak, lalu memberikan kode mata kepada salah satu penjaganya untuk mengecek semua yang dikatakan Dinda apakah benar atau tidak. Beberapa detik penjaga itu kembali sambil menganggukan kepalanya yang berarti apa yang Dinda katakan memang benar adanya. Kondisi Felix sangat butuh pertolongan, apa lagi emosi yang tidak terkontrol membuat Felix seperti orang depresi.
"Kalian berdua bantu dia, bawa suaminya ke rumah sakit. Saya ada urusan!"
"Terima kasih, Tuan. Terima kasih!"
Orang itu langsung kembali ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Dinda bersama kedua penjaganya. Mereka segera membantu Dinda untuk memindahkan Felix ke belakang, Dinda hanya bisa memeluk suaminya sesekali menenangkan Felix. Kondisi Felix tidak sebrutal pertama, hanya rasa penyesal yang tidak bisa Felix lepaskan.
Felix menangis sambil menjambak rambut membuat Dinda ikut merasakan sakit di dalam hati kecilnya. Dinda merasa bersalah karena telah menceritakan yang seakan-akan menyudutkan Felix atas semua yang terjadi pada Moana dan Justin.
Sesampainya di rumah sakit, Felix langsung ditangani oleh dokter yang ditugaskan untuk menangani kasus-kasus orang depresi, baik ringan ataupun berat.
Beribu-ribu terima kasih Dinda ucapkan kepada kedua penjaga itu, mereka tidak menjawab apa pun lebih cenderung memberikan isyarat anggukan kepala. Tidak lupa Dinda juga meminta maaf lantaran sudah merepotkan majikan mereka di tengah malam seperti ini.
Kedua penjaga itu tetap setia menjaga Dinda dan Felix meskipun dar luar kamar. Felix yang sudah di kasih obat penenang langsung tertidur pulas dalam keadaan air mata masih berlinang di sudut matanya. Di rasa Felix udah tenang, Dinda meminta agar mereka pulang saja besok baru kembali lagi bersama majikannya. Akan tetapi, mereka menolak karena tidak ada perintah langsung dari sang majikan.
__ADS_1
Dinda tidak bisa berkata apa-apa, penampilan mereka membuat bulu kuduknya terbangun begitu saja. Dinda baru menyadari teryata orang yang menolong mereka bukanlah orang sembarangan. Sehingga Dinda tidak ingin banyak berbicara akibat rasa takut tersebut.
Setidaknya Felix sudah aman, Dinda pergi sebentar untuk membelikan cemilan serta minuman agar tidak membuat mereka kelaparan.
Ingin rasanya Dinda memberitahu kepada Moana dan Ernest tentang keadaan Felix saat ini, tetapi dia urungkan lantaran jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat yang artinya mereka pasti sudah tidur. Lebih baik besok pagi saja Dinda mengabarkan mereka agar tidak membuat mereka menjadi cemas.
Dinda tidak menyangka ternyata Felix benar-benar terpukul ketika anak kandungnya benar-benar membeci sang ayah. Mungkin Felix sudah menyesal dari lama, tetapi baru ini dia merasa kalau penderitaan Justin jauh dari apa yang ada dipikiran Felix.
Semua cerita yang pernah Justin rasakan kembali Dinda katakan pada sang suami dengan tujuan supaya Felix bisa lebih berjuang mengembalikan mental sang anak sebagai penebus dosa. Sayangnya, penjelasan Dinda yang tanpa sadar memojokkan sang suami membuat mental Felix langsung terguncang.
Satu harapan Dinda saat ini, semoga Felix tetap baik-baik saja tidak sampai depresi yang menimbulkan gangguan jiwa.
Selepas kembalinya Dinda ketika membelikan makanan buat mereka, Dinda segera masuk ke dalam kamar menemani Felix. Hatinya begitu sakit melihat sang suami tertidur dengan bantuan obat penenang, biasaya Felix selalu meminta Dinda untuk memeluk setiap kali tertidur akibat rasa takut akan mimpi buruk itu kembali terjadi.
Tidak lama dari situ, Dinda ikut tertidur dalam keadaan duduk menyandar di bangkar dengan menjadikan tangan kanan Felix sebagai bantalan untuknya. Maklum saja, mereka sudah sangat lelah menangis hingga tertidur cukup pulas.
Tanpa di sadari salah satu penjaga tersebut telah mengambil momen tersebut sebagai bukti kepada sang majikan, jika mereka sudah aman berada di rumah sakit.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1