
Keesokan paginya, semuanya sedang berkumpul di ruang keluarga setelah sarapan. Mereka melihat Justin, Ernest dan juga Sakha lagi bermain PS. Wajah mereka terlihat begitu bahagia saat menyaksikan tim Justin mengalami kemenangan. Sementara tim Sakha dan Ernest selalu saja gagal dalam melawan anak kecil yang terbilang pintar.
Moana dan Elice terus bersorak senang atas kemenangan Justin sambil asyik menikmati cemilan sendiri berdasarkan resep-resep yang Elice berikan.
"Yeyy, cucuku menang lagi. 3-0!"
"Kasihan sekali tim anak dan bapak, masa bisa kalah sama tim bocil. Udah berdua masih aja kalah, sedangkan Justin aja main sendiri bisa menang. Dasar aneh!"
Elice begitu bahagia saat cucunya selalu menjadi pemenang di hatinya. Ledekan itu berhasil membuat Ernest dan Sakha menjadi kesal. Pada akhirnya Sakha menyerah, dan membiarkan Ernest yang akan melawan anaknya sendiri untuk babak selanjutnya. Apa bila mereka ingin melanjutkan permainannya.
"Omi, atu enang yeyy!" Justin bersorak bahagia sambil melompat-lompat lalu memeluk Moana.
"Iya dong, Justin 'kan anak yang hebat. Jadi, pasti menang terus." ucap Moana sambil tersenyum.
"Mommy doang nih yang di peluk, Oma enggak? Hem, ya sudah. Padahal yang dukung Justin bukan Mommy doang, Oma juga dukung Justin. Tapi ... Ya sudah deh!"
Elice langsung cemberut, lalu membuang muka tanpa ingin melihat Justin. Akan tetapi, matanya melirik-lirik ke arahnya yang membuat Justin menjadi bingung.
"Yahh, Oma angan mayah ya. Cini Ustin peyuk!" ucap Justin. Elice kembali menggeser posisinya untuk menjauhinya.
Justin menjadi bingung, dia menggaruk kepalanya sendiri sambil melihat ke arah Elice. Moana tersenyum, lalu membisikan sesuatu di kupingnya.
Justin pun tersenyum lebar, lalu langsung mencium pipi Elice sehingga membuatnya menjadi salah tingkah. Elice menoleh, lalu menatap Justin yang terkekeh.
"Hihi, Oma antik anget deh. Ustin au peyuk ya, muuachh ...." cicit Justin, tanpa persetujuan langsung memeluknya dan mencium Elice berulang kali.
__ADS_1
Wajah yang cemberut telah berganti menjadi ceria, membuat Moana yang ada di sampingnya itu tersenyum. Akan tetapi, semua itu tidak bertahan lama akibat ada seseorang yang datang tanpa di undang.
"Spada, yuhuu ... Apakah ada yang merindukanku?"
Seorang pria sedikit berteriak dari jarak yang cukup jauh sambil berjalan mendekati mereka semua. Justin yang melihat orang itu, segera melepaskan pelukan Elice dan berlari menghampirinya.
"Aaa ... Aman Eli!
"Huaa ... Ponakanku!
"Felix? Ngapain dia ke sini? Perasaan tidak ada kerjaan, apa dia sengaja ke sini? Ckk ... Dasar kurang kerjaan!" ucap Ernest di dalam hatinya. Dia begitu kesal dan sedikit bingung, karena setiap kali libur Felix selalu datang mengunjunginya.
Meskipun, Felix telah dianggap sebagian keluarga oleh kedua orang tua Ernest. Akan tetapi, sebelum adanya Justin. Felix hanya datang ke rumah jika di undang, tidak seperti sekarang yang selalu datang hanya demi menemui Justin.
Namun, tanpa di sadari rasa kesal yang ada di dalam benak Ernest sebenarnya bukanlah emosi. Melainkan rasa cemburu, karena Justin selalu merespin Felix lebih dari dia merespin Ernest.
"Hem, Paman kangen sekali sama Justin. Muach, muach, muach!"
Felix mencium seluruh wajah Justin dalam keadaan memeluknya sambil berdiri. Mereka pun tertawa bersama-sama, melihat adegan itu membuat Moana, Elice dan Sakha hanya bisa tersenyum.
Entah mengapa Justin sangat dekat dengan Felix. Mungkin dia bisa membedakan cara Felix dan Ernest dalam memperlakukannya. Seakan-akan Felix sangat tahu caranya menarik perhatian Justin dari pada Ernest yang masih terbilang cuek kepadanya.
Bahkan ketika Ernest sama Felix bermain saja, mereka malah terlihat seperti bermusuhan. Berbeda jika Justin bermain sama Felix yang terbilang sangat manis.
"Ohya, ini Paman bawakan sesuatu untuk Justin." ucap Felix berjalan sambil menunjukkan paper bag di hadapan Justin yang masih berada di gendongannya.
__ADS_1
Setelah itu Felix duduk dan memangku Justin, membuat semuanya pun penasaran sama paper bag yang sudah berada di tangan Justin.
"Wah, isinya apa tuh? Oma mau dong," Elice menggoda cucunya, hingga Justin pun memeluk hadiah yang di berikan oleh Felix.
"Ndak au! Ini unya Ustin, Oma inta aja ama Opa. Wlee!" jawab Justin sambil menjulukan lidahnya.
"Ihh, dasar pelit!" ucap Elice.
"Balin, otona ini unya Ustin!" pekik Justin, langsung membuka paper bagnya.
Wajah yang kesal itu seketika berubah menjadi sangat senang saat Justin mendapatkan mainan robot-robotan yang sangat bagus dari Felix.
Mata Justin berbinar, lalu mengambil robot itu dan refleks memeluk Felix sampai menciumnya. Felix hanya bisa terkekeh begitu pun yang lain.
Namun, berbeda sama Ernest. Dia langsung pergi begitu saja, meninggalkan semuanya yang sedang asyik menyaksikan kedekatan Justin dan Felix.
Moana mencoba untuk tetap membuat suasana menjadi tenang, walau sediki membuat merek semua curiga. Akan tetapi, Moana tersenyum dan memilih untuk menyusul suaminya dengan alasan ingin mengetahui apa yang akan Ernest lakukan.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung