
Perkataan Moana terhenti ketika Justin langsung menutup bibir sang mommy dengan tangan mungilnya sambil menggelengkan kepala berulang kali.
"Jangan pernah sebut kata-kata itu lagi, Mom. Kakak tidak suka, bagi Kakak ayah kandung Kakak hanya Daddy Ernest, bukan yang lain!"
"Sampai kapan pun Ade dan Kakak sama-sama anak dari Daddy Ernest, Mommy paham itu!"
Justin menjelaskan semuanya penuh penekanan, persis seperti apa yang pernah Ernest katakan saat menjelaskan kalau dia tidak akan pernah membedakan kedua anaknya.
Kata-kata yang pernah terucap dari bibir Ernest, teringat jelas di dalam pikiran. Justin mulai menyerap semua kata-kata Ernest dan menjadikan itu sebagai tameng untuk menutup diri dari Felix. Apa pun yang terjadi, bagi Justin Ernest satu-satunya sosok yang sangat pantas menjadi ayahnya.
Justin tidak peduli bagaimana sifat Ernest dulu padanya juga Moana, terpenting bagi Justin hanya Ernest yang pantas dipanggil Daddy bukan pria lain.
Moana perlahan mulai menyingkirkan tangan mungil Justin sambil tersenyum. Usapan tangan Moana terasa begitu lembut saat memberikan kenyaman untuk putra pertamanya, sesekali melirik ke arah Barra yang sudah mulai tertidur sambil menyusu.
"Mommy mau ngomong sama Kakak, boleh?" tanya Moana.
"Kakak tidak mau mendengar kalau Mommy membahas pria itu lagi!" seru Justin, membuang muka menatap lurus ke arah depan.
"Sayang, dengarkan Mommy baik-baik ya, mau bagaimanapun Paman Felix tetap menjadi ayah kandung Justin. Itu semua tidak akan bisa dibantahkan lagi, jadi Justi tidak boleh berbicara seperti itu. Justin tahu tidak, sikap Justin tadi saat menyambut mereka terkesan tidak baik. Seakan-akan Justun tidak bisa menerima kehadiran mer---"
"Ya, Justin tidak suka mereka datang ke rumah Daddy. Ngapain juga mereka datang ke sini, memangnya belum cukup pria itu membuang Justin dan memberikannya sama Daddy? Kenapa Justin enggak dibuang aja ke tempat sampah, biar sama kaya sampah-sampah yang bau dan kotor itu!"
Jawaban yang keluar dari mulut Justin sungguh menyakitkan hati Moana. Sudah beberapa kali Moana pernah menjelaskan tentang bagaimana masa lalunya sampai Justin bisa berada diposisi seperti ini.
__ADS_1
Akan tetapi, Moana mengerti semua itu tidak bisa diterima dengan mudah. Sama halnya seperti Moana pertama kali ketika mengetahui bahwa, Justin bukanlah anak kandung dari Ernest.
Kebencian, amarah juga kekecewaan yang Moana rasakan benar-benar persis seperti Justin. Sehingga, tidak heran apabila Moana harus menyaksikan kebencian anak terhadap ayah kandung sendiri.
Jantung Moana mulai berdebar kencang ketika mendengar kata-kata menyakitkan dari mulut kecil sang anak yang masih polos ini. Justin belum bisa mengerti sepenuhnya tentang apa yang sudah terjadi di dalam hidup.
Namun, Moana tidak akan menyerah. Dia tetap terus menasihati Justin sampai kebencian itu kembali menjadi kasih sayang. Moana akan menyalurkan pikiran positif dengan cara memberikan penjelasan sesuai usia Ernest, supaya tidak membuat dia semakin bingung dan malah menjadi salah paham terhadap apa yang Moana katakan.
Susah-susah gampang untuk menasihati anak seusia Ernest, apalagi Ernest sudah sangat pintar untuk mencerna setiap perkataan orang dewasa. Sehingga Ernest tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa dari usianya, sebab dia terlalu banyak menghadapi ujian di luar dari batas usia anak seumurannya.
"Astaga, Kakak ... Kakak enggak boleh berbicara seperti itu, apa yang ada dipikiran Kakak itu salah. Mommy 'kan udah pernah cerita sama Kakak, ketika Mommy menikah dengan Daddy Ernest, Kakak itu sudah ada di dalam perut Mommy. Kakak paham itu?"
"Mommy dan Daddy Ernest menikah karena Kakak, kami tidak mau sampai Kakak tidak memiliki Ayah. Makannya kami menikah, namun suatu hari kami baru tahu kalau Kakak ini hanya anak sambung Daddy Ernest bukan kandung. Sementara ayah kandung Kakak tetap adalah Ayah Felix. Cuman, mau bagaimana pun status Kakak bagi Daddy Ernest, Kakak akan tetap jadi anak kandung Daddy sama seperti Barra."
"Kalau memang Daddy Ernest udah menganggap Juatin sama seperti Barra anak kandungnya, terus kenapa Mommy menyuruh Justin tetap harus menganggap pria itu sebagai ayah kandung Justin, kenapa Mom? Kenapa harus seperti itu?"
"Lihatlah, Barra! Dia hanya memiliki satu ayah, sedangkan Justin harus memiliki dua ayah. Gak adil, bukan? Kenapa tidak Mommy suruh Barra juga menganggap dia sebagai ayah sambungnya?"
Entah harus bagaimana menjelaskan pada Justin agar dia tidak salah tanggap seperti ini. Sebenarnya jika orang dewasa mendapatkan penjelasan yang Moana sampaikan tadi, pasti akan langsung mengerti. Tidak seperti Justin yang malah membandingkan dirinya dengan Barra.
Ya, memang sih, wajar jika Justin seperti itu. Dikarenakan Barra dan Justin lahir dari rahim Moana, tetapi mereka berbeda ayah kandung. Itulah yang membuat Justin masih sedikit bingung mencerna apa yang Moana sampaikan.
Setidaknya dia bisa membedakan anak sambung dan kandung, itu sudah lebih baik sehingga Justin tidak salah paham mengenai dua hal tersebut. Hanya saja, Moana tidak bisa menceritakan bagaimana asal mula semua itu terjadi.
__ADS_1
Umur Justin masih sangat kecil, jadi tidak pantas kalau dia harus mendengar semua kisah tidak enak yang membuat Justin akan semakin membenci Felix. Cukup Moana tutup buku yang lama tanpa harus membukanya kembali agar semua luka tetap tertutup dengan aman.
"Kenapa Mommy diam? Tadi aja Mommy banyak omong tentang pria itu, terus kenapa saat Kakak tanya tentang perbedaan Barra dan Justin Mommy tidak bisa menjawabnya? Kenapa?"
Justin menoleh ke arah Moana yang sedikit melamun memikirkan bagaimana cara membuat Justin supaya mengerti, kalau Barra tidak mengalami masalah sesulit Justin pada masanya.
Di saat Moana ingin menjawab, tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar Justin. Moana langsung memberikan izin kepada orang tersebut untuk masuk ke dalam kamar Justin.
"Permisi, boleh Tante ikut main sama Justin, hem?" tanya seorang wanita yang tidak lain adalah Dinda. Wajah cantik, senyum manis mambuat Justin tidak gentar untuk membalasnya. Dia memilih diam saat Moana menyambutnya.
"Masuklah! Oh, ya, aku titip Justin sebentar, boleh?" Moana berdiri sambil memasuki buah dadanya ke dalam baju, lalu Dinda menganggukan kepalanya. "Aku mau menidurkan Barra di kamar, kasihan kalau selalu digendong takut kurang nyaman juga. Bisa?"
"Gapapa, Kak. Aku akan temani Justin di sini sampai Kakak kembali, Justin mau 'kan main sama Tante Dinda?" tanya Dinda, membungkukkan badannya sambil tersenyum lebar.
Tanpa menjawab perkataan Dinda, Justin malah menyerongkan tubuh seakan tidak ingin menatap wajah wanita yang dulu pernah merebut Ernest dari Moana.
Sebuah kode Moana berikan pada Dinda, meskipun tidak mengenal Dinda secara baik tetap saja dia mencoba untuk mempercayainya. Aura yang keluar dari wajah Dinda tidak menunjukkan kejahatan, anggaplah ini sebagai proses pendekatan Dinda kepada Justin.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...