
Dengan berat hati, Ernest memilih untuk melihat Justin dari jarak dekat. Artinya, dia ingin bertemu dengan anak angkatnya, meskipun Ernest merasa kecewa terhadapnya.
Perlahan kaki Ernest melangkah masuk, wajahnya terlihat gugup dan jantungnya berdebar cukup kuat. Anak yang selama ini dia anggap sebagai anaknya, faktanya malah bukan.
Kekecewaan di wajah Ernest memang terlihat jelas, mungkin bukan Justin yang menjadi penyebab Ernest menjadi seperti ini. Akan tetapi, kenyataan yang ada malah semakin membuat Ernest jauh dari Justin.
Ernest berdiri tepat di samping bangkar Justin. Matanya menatap ke arah Justin tanpa berkedip sedikitpun. Rasanya Ernest ingin sekali memeluk Justin, hanya saja pikiran serta keegoisan yang membuatnya mengesampingkan semua itu.
"Aku tahu, kamu tidak salah dalam hal ini. Kamu juga korban dari kejahatan Ayah kandungmu sendiri, tapi kenapa kenyataan ini sangat menyakitkan untukku? Bertahun-tahun aku berusaha menjadi Daddy yang baik, sampai aku berhasil membuatmu menyayangiku melebihi kamu menyayangi Ayah kandungmu sendiri yang sering kamu panggil dengan sebutan Paman."
"Namun, kenapa di saat aku sudah mencapainya. Semua tentangmu langsung terkuak begitu saja, di mana jati dirimu bukanlah sebagai anakku, melainkan anak dari aisten pribadiku! Kenapa, Justin. Kenapa? Apa ini balasanmu ketika aku sudah menyakitimu dan juga Mommymu selama bertahun-tahun. Iya? Tapi, kenapa semuanya harus terungkap di saat aku sudah sepenuhnya menyayangi kalian. Kenapa tidak dari awal ketika kamu lahir, kenapa!"
Ernest mengoceh di dalam hatinya untuk mengungkapkan semua perasaannya terhadap Justin. Tanpa di rasa, matanya mulai berkaca-kaca. Di saat satu bulir air di matanya terjatuh, di saat itu juga tiba-tiba Justin membuka kedua matanya dan mengejutkan Ernest.
Dia langsung berbalik untuk sekedar mengelap air matanya, kemudian kembali menatap Justin. Wajah dan tatapan polos Justin, berhasil menyentuh hati Ernest. Entah mengapa, rasanya begitu sedih saat pancaran mata yang Justin berikan seperti sebuah rasa rindu yang telah lama tidak berjumpa.
__ADS_1
"E-edi ...." panggil Justin, suaranya terdengar begitu lirih.
"E-edi, ateng ke-ke cini? A-ata O-omi E-edi a-au kelja auh, a-adi E-edi ndak bica e-etemu Ustin. Be-benelan, E-edi?" tanya Justin, memastikan apakah perkataan Moana kepadanya benar atau salah.
Mata Justin mulai berkaca-kaca, rasanya dia begitu berat ketika harus jauh dari Ernest. Justin yang dulu hanya dekat dengan Felix, sekarang tidak lagi. Justin terlihat sudah mulai menyayangi Ernest, meskipun dulu sifat Ernest padanya dan juga Moana sangatlah cuek.
Perkataan Justin, membuat Ernest menjadi bingung. Dia tidak ada sama sekali jadwal kerja di luar kota bahkan luar negeri, tapi kenapa Moana mengatakan semua itu? Apa yang ada di pikiran Moana, sampai dia seperti ingin menjauhkan Justin darinya.
Pikiran itu kembali mulai menyerang isi kepala Ernest. Dia tidak tahu, rencana apa yang akan Moana jalani saat ini. Tanpa di sadari perkataan Justin itu, telah melukis luka yang cukup menyakitkan.
Hati Ernest tidak terima bila dia harus kehilangan Justin, tetapi isi kepalanya malah langsung berpikir jika Justin bukanlah anak kandungnya. Jadi, apapun yang akan Moana lakukan sama Justin, dia tidak akan peduli.
Justin berbicara dengan suaranya yang comel dan terdengar masih sangat lirih serta terbata-bata. Semua itu karena Justin merasakan rasa pusing di kepalanya yang cukup berat akibat benturan tersebut. Syukurnya, Justin tidak mengalami amnesia seperti apa yang dokter katakan.
Tubuhnya yang masih sangat kecil, berhasil melawan semua maut yang ingin merenggutnya. Mental Justin yang terbilang kuat itu, tidak semuanya di miliki oleh anak seusianya. Mungkin jika ini di alami oleh anak lainnya, pasti dia akan lebih memilih untuk menangis dari pada tersenyum.
__ADS_1
Berbeda sama Justin, dia tersenyum lebar menatap Ernest yang sangat membuat hatinya merasa tenang. Beberapa kali Justin terus memanggil nama Esnest, bukan hanya merindukannya. Melainkan Justin bermimpi, apa bila dia sudah sembuh nanti dia akan di tinggal oleh Ernest. Maka dari itu, ketika dia membuka mata dan melihat Ernest hatinya langsung merasa lega.
Ernest sendiri tidak bisa berkata apa-apa terhadap Justin. Dia hanya terdiam mematung sambil matanya tidak lepas dari pandangan manik mata anaknya.
"E-edi a-au ndak, Ustin adi impi ceyem anget. Ustin impi alo Ustin cembuh, Edi asti atan ingalin Ustin cama Omi. Ustin atut, Edi. Ustin ndak au auh-auh dali Edi cama Omi, alo Ustin cembuh Edi ingalin Ustin. Ustin atit aja deh, ndak apa-apa Ustin di umah atit muyu celamanya yang enting Edi ada di cini cama Ustin cama Omi. Tan, Omi uga agi atit."
"Edi anji ya, Edi ndak akal ingalin Ustin cama Omi. Edi, Ustin cama Omi halus baleng-baleng teyus bial anti cemuanya ceneng. Oma cama Opa asti ceneng alo iyat ita cama-cama, kalena Oma pelna biyang alo kelualga itu halus cama-cama ndak boyeh picah!"
Hati Ernest benar-benar hancur ketika dia mendengar semua celotehan Justin yang sangat mengetuk pintu hatinya. Sekuat tenaga Ernest menahan air matanya di saat hatinya sudah di porak-porandakan oleh Justin.
Tanpa berkata apa-apa, Ernest malah pergi meninggalkan Justin yang dalam keadaan kebingungan. Terlihat jelas, betapa hancurnya hati Justin ketika dia melihat Daddynya pergi begitu saja tanpa memeluknya seperti Moana yang begitu bahagia saat Justin sudah tersadar.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung