Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Moana Meminta Izin


__ADS_3

Tepat di jam satu siang, seorang dokter psikolog datang untuk memeriksa serta mengecek keadaan Felix setelah semalam mengamuk akibat depresi memikirkan Justin.


"Permisi, Tuan, Nyonya semuanya. Maaf bila kedatangan saya mengganggu," ucap sang dokter sambil sedikit membungkukkan badannya sebagai bentuk penghormatan sambil tersenyum.


"Gapapa, Dok. Ini semua keluarga saya," jawab Felix, diangguki kecil oleh dokter tersebut.


"Bagaimana keadaannya, Tuan? Apa sudah jauh lebih membaik dari semalam?" tanya dokter.


"Sudah lebih baik, Dok. Mungkin karena semalam saya memikirkan sesuatu terlalu jauh, sehingga membuat saya tidak bisa mengendalikannya."


"Baiklah, boleh saya mengecek dan berbicara empat mata bersama Tuan Felix?" tanya dokter itu, menatap satu persatu yang ada di sana seakan meminta izin untuk meluangkan waktu untuk mereka berbicara lebih dalam.


"Silakkan, Dok. Saya dan keluarga juga sudah mau pulang," balas Sakha, diangguki oleh sang istri.


"Loh, kalian kenapa cepat banget pulangnya," sanggah Felix yang masih belum puas melihat Justin.


"Tak apa, nanti kita bisa datang ke sini lagi atau nanti kita rencanakan untuk liburan bersama. Gimana?" tanya Elice.


"Boleh, Ta ... Ehh, Bu-bunda maksudnya hehe ...." Dinda cengengesan ketika mendapatkan lirikan mata dari Elice.


"Ya, sudah. Kita pulang, nanti dibicarakan lagi masalah liburan. Dokter sudah nungguin, ayo!" titah Ernest, membuat semuanya langaung berpamitan sama Dinda juga Felix. Meskipun berat, tetapi Felix mencoba untuk mengerti semua kondisi tersebut. Setidaknya kedua matanya sudah bisa kembali melihat Justin itu jauh lebih baik, dari pada tidak sama sekali.


Mereka semua pergi demi kenyaman sang dokter yang akan mengecek kondisi Felix serta berkonsultasi agar apa yang ada di dalam pikiran Felix bisa tercurahkan demi menjaga mentalnya. Jika nanti Felix kembali berulah, pasti depresinya semakin parah hingga bisa membuat Felix seperti orang frustasi dengan khayalan yang tidak pernah terjadi di hidupnya.


Satu persatu mulai meninggalkan ruangan Felix supaya tidak mengganggu waktu Felix berkonsultasi dengan sang dokter. Tidak hanya itu, Dinda juga keluar dari kamar mengantar mereka sampai ke parkiran karena dia sendiri juga diminta untuk menunggu di luar kamar sampai pemeriksaan dokter selesai.


...🌟🌟🌟🌟🌟...

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Moana langsung memberikan makan untuk Barra yang sudah mulai kelaperan. Setelah selesai, tidak lama Barra mengantuk lalu tertidur di dalam gendongannya.


Setelah pulas, Moana menaruh Barra di tempat tidur kemudian keluar dari kamar sambil membawa membawa sebuah alat kecil yang bisa memantau semua pergerakan Barra ketika terbangun atau menangis.


"Loh, Bunda ke mana? Kok gak ada di sini?" tanya Moana ketika hanya melihat Ernest, Justin dan Sakha di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Bikin pasta kesukaan Kakak, hehe ...." Justin cengengesan membuat Moana menggelengkan kepala.


"Lain kali kalau minta apa-apa jangan ke Oma, ke Mommy aja. Kasihan Oma, kalau harus di repotin terus. Apa lagi---"


"Sudah, biarin aja. Namanya juga cucu sendiri, lagian Bundamu yang nawarin, kok. Bukan Justin yang minta," sambung Sakha.


"Tuh, Mom. Justin enggak minta, kok. Oma yang nanya Justin mau makan siang apa, soalnya tadi udah makan. Jadi, ya ... Ya, Justin minta pasta aja. Kalau makan nasi nanti kekenyangan muntah," jawab Justin, menyengir ala kuda Nil.


"Kenyang gak kenyang, tetap aja kamu tuh, makan mulu kerjaannya," sahut Moana, malah mendapat tawaan kecil dari Justin.


"Aku mau bantu Bunda dulu di dapur, habis itu aku mau ngomong sesuatu sama kamu berdua. Bisa?" tanya Moana membuat Ernest menatap sang ayah dan kembali melihat istrinya sambil mengangguk penuh rasa penasaran.


Sehabis mendapat jawaban, Moana pergi ke dapur membantu Elice yang sedang memasak pasta. Seharusnya tidak perlu dibantu, sebab memasak pasta bukanlah hal yang sulit. Hanya tinggal merebut pastanya, lalu menumis bumbunya sampai matang kemudian dituang ke atas pasta atau ada juga yang dicampur sesuai selera masing-masing.


Sekitar 15 menitan, Moana dan Elice membawa pasta beserta minuman juga tidak lupa menggoreng sosis juga nugget untuk tambahan lauk ke ruang keluarga. Semua kembali duduk di lantai beralasan karpet halus agar memudahkan mereka memakan pasta bersama-sama.


Namun, Moana meminta izin untuk pergi sebentar lantaran ada yang ingin dibicarakan olehnya kepada sang suami. Awalnya Elice bingung, tetapi kembali lagi. Dia tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga sang anak selagi mereka tidak melibatkannya.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Di pinggir kolam renang, Moana duduk berhadapan dengan Ernest dengan tatapan mata yang penuh keseriusan. Ernest masih tidak tahu apa yang ingin Moana sampaikan, tetapi melihatnya membuat Ernest semakin yakin kalau ada sesuatu dengan istri tercinta.

__ADS_1


"Ada apa, Sayang? Apa semua ini berkaitan dengan pesanmu ketika meminta izin untuk berbicara sama Dinda dan Felix?" tanya Ernest lembut.


"Ya, Sayang. Aku baru tahu sesuatu tentang Kakakku dari mereka, jadi aku mau meminta sama kamu untuk menemui Kakakku di Apartemennya. Boleh?"


"Tunggu, sebentar. Aku masih belum paham apa maksud dari ucapanmu itu? Ma-maksudnya Kak Thoms? A-ada apa dengan dia, apa yang mereka katakan tentang Kakakmu?"


Wajah Ernest terlihat semakin bingung mencerna perkataan dari sang istri. Moana paham, pasti Ernest akan bereaksi seperti ini. Hanya saja, dia belum bisa mengatakan semua itu karena banyak mata-mata yang ada di dekatnya.


"Aku belum tahu, jadi aku belum bisa menceritakan semuanya. Tunggu aku mendapatkan jawaban yang pasti dari Kakak, baru aku akan menceritakan semuanya sama kamu. Jadi, izinkan aku pergi ke Apartemen kakak sore ini."


"Tidak, aku tidak akan mengizinkan kamu pergi sebelum kamu menceritakan semua padaku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi sama kamu, paham?"


Moana menunduk sekilas, lalu kembali menatap wajah sang suami yang semakin terlihat panik bercampur penasaran dengan perkataan sang istri. Moana tidak tahu bagaimana cara memberitahu kepada suami tercinta kalau mereka selalu dipantau oleh anak buat dari Thoms.


Sedikit saja Moana keceplosan, maka sesuatu yang sedang dia cari tahu hilang begitu saja akibat Thoms yang terus berusaha menghindar, atau Thoms telah menemukan alasan yang tepat untuk membuat Moana sulit mengutarakan semuanya isi pikiran yang mengganjal.


Ernest menatap Moana begitu dalam, tiba-tiba mata sang istri memberi kode-kode tertentu yang langsung membuat Ernest paham. Tanpa harus berkata panjang kali lebar, Ernest segera mengizinkan Moana untuk pergi menemui Thoms. Akan tetapi, dia harus ikut mengantarkan sang istri tanpa mengizinkannya pergi seorang diri.


Namun, bukan Moana namanya jika dia tidak bisa menahan suami tercinta agar tidak ikut bersamanya. Dengan alasan-alasan tertentu yang berkaitan sama anak, akhirnya Ernest terpaksa melepaskan Moana pergi seorang diri menemui Thoms.


Eitts, ralat! Moana tidak sendiri, tetapi masih ada bodyguard. Ke mana pun Moana pergi anak buah Thoms senantiasa selalu mengikutinya untuk menjaga serta mengawal adik kesayangan King Mafia. Sementara kedua bodyguard lain menjaga kedua anak Moana tanpa membiarkan bahaya mendekat sedikit pun.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2