
Itulah yang dinamakan benih-benih cinta mulai tumbuh menghiasi hati Thoms. Kekhawatiran yang ada di wajah Thoms sebagai kunci jawaban. Sebanyak, dan sesering apa pun Thoms mengelak. Maka, cinta itu akan semakin tumbuh yang membuat Thoms sendiri menjadi tidak nyaman.
Tak lama seorang dokter wanita yang dipanggil oleh salah satu anak buah Thoms sudah datang. Dokter itu langsung di arahkan ke kamar untuk mengecek kondisi Nay saat ini.
"Permisi, Tuan. Selamat pagi," ucap dokter itu sambil memberikan salam.
"Cepatlah periksa dia, saya tidak mau terjadi sesuatu hal buruk padanya! Satu lagi, dia memiliki trauma atas pele*cehan yang di terima beberapa hari lalu. Jadi, saya ingin kau memeriksa semua secara keseluruhan dan memastikan jika gadis itu dala keadaan baik-baik saja."
"Baik, Tuan. Saya akan memeriksanya secara teliti, dan satu yang ingin saya tanyakan. Bagaimana awal mula Nona bisa menjadi seperti ini?" tanya sang dokter sambil membuka tas yang berisikan peralatan.
"Saya tidak tahu jelas, apa yang terjadi sama gadis itu. Saya hanya mendengar gadis itu berteriak memanggil ibunya yang sudah meninggal dunia. Selebihnya, saya menemukan dia pingsan tergeletak di lantai."
Sang dokter mengangguk kecil. Dia langsung paham sama penjelasan yang Thoms berikan, dikarenakan apa yang Thoms ucapkan sangat membantu dokter itu untuk mempermudah mengetahui inti penyebab yang sudah terjadi.
"Saya oaham, Tuan. Terima kasih atas informasinya, bolehkan tinggalkan kami berdua?" tanya sang dokter meminta izin.
"Kenapa harus berdua, apa alasan kau mengusi saya dari sini? Camkan baik-baik, Apartemen ini punya saya, jadi apa hak Anda mengusir saya, hahh?" tanya Thoms dengan nada yang sangat penuh penekanan.
"Tapi, Tuan ... Saya---"
"Periksa dia, atau kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan keluargamu!" tegas Thoms, penuh pengancaman. Dokter itu langsung menundukkan kepala menatap lantai, jantungnya langsung berdetak kencang ketika mendapatkan kelurga pasien seperti ini.
"Ba-baik, Tuan. Ma-maafkan saya," ucap sang dokter dengan sangat pelan penuh ketakutan.
__ADS_1
Namun, di saat sang dokter terlihat gugup membuat anak buah yang mengantarkan sang dokter perlahan mendekat ke arah Thoms. Lalu, menundukkan kepala sambil sedikit membisikan sesuatu tepat di telinga belakang Thoms.
"Maaf, Tuan. Jika saya lancang, melihat dari gerak-gerik dokter itu dia sangat ketakutan atas ancaman yang Tuan berikan. Lebih baik, Tuan menunggu di luar saja supaya dia memeriksa Nona Nay penuh konsentrasi. Jika Tuan tetap memaksa untuk berada di sini, dokter itu semakin tidak nyaman dalam melakukan tugasnya. Saya takit jika dia tidak bisa memeriksa Nona Nay dengan baik, maka akan ada sesuatu yang tidam bisa ketahui."
"Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada, Tuan. Saya ingin memberikan saran agar Tuan meninggalkan mereka berdua di dalam kamar, dengan begitu dokter bisa jauh lebih nyaman memeriksa keadaan Nona Nay tanpa pengawasan yang membuat dokter itu menjadi gugup. Sebelum maaf, Tuan!"
Setelah membisikan semua itu, bodyguard berjalan mundur 3 langkah ke belakang dan kembali berdiri di tempat semula. Sementara Thoms, memperhatikan gerak-gerik dokter dan melihat tangannya mulai bergetar. Di situlah, apa yang dikatakan oleh bodyguard memang benar adanya.
Jika Thoms tetap memaksa berada di dalam kamar, sudah pasti dokter tidak bisa berkonsentrasi hingga akan menimbulkan pemeriksaan yang tidak baik. Pria itu langsung membuang kasar napasnya, lalu berjalan pergi meninggalkan kamar dengan diikuti oleh bodyguard.
Mendengar suara pintu tertutup, sang dokter sedikit mengintip dan bisa bernapas dengan lega. Dia berdiam diri selama beberapa detik untuk menetralkan detak jantungnya, kemudian melanjutkan pemeriksaan terhadap kondisi Nay yang masih dalam keadaan pingsan.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Sekuat tenaga gadis itu berlari hingga melompat-lompat di atas udara demi menangkap seekor kupu-kupu yang terbang di atas kepalanya.
"Haap, haap, haap ... Akhhh, susah sekali sih, menangkap kupu-kupu yang cantik itu!" ucap gadis tersebut dipenuhi rasa kesal. Walaupun demikian, dia tetap enggan untuk menyerah. Gadis itu menambah kecepatan larinya agar bisa segera menangkapnya.
Sayang sekali, gadis itu tidak bisa mengejar kupu-kupu yang sudah pergi menjauh akibat kakinya tersandung oleh batu yang ada di taman.
"Aawshh ... Fiuhh, fiuhhh ...." Gadis itu duduk meringkuk memerangki kedua kakinya sambil meniup-niup salah satu lutut yang terluka.
"Ssttt, sakit banget rasanya. Udah enggak dapet kupu-kupu, sekarang malah terluka. Hahh, apes sekali hidupku!" keluhnya menatap ke arah danau.
__ADS_1
Tanpa di sadari ada seseorang yang sedang berjalan mendekat ke arah gadis itu dengan penuh senyuman sambil membawa toples kaca kecil di tangannya.
"Apakah kamu mencari ini, Nanayku sayang, hem?" ucap orang tersebut berdiri tepat di samping Nanay yang ternyata adalah Kanaya. Dia langsung mendongkak ke atas dan melihat bahwa ibunya ada tepat di hadapan Nay.
"I-ibu? I-ini benar, ibunya Nanay?" tanya Nay matanya langsung berkaca-kaca.
Ibunya Nay mengangguk-anggukan kecil kepalanya tanpa melepaskan senyuman manis pada sang anak, "Iya, Sayang. Ini ibunya Nanay, apa Nanay lupa sama Ibu? Huhh, sayang sekali. Padahal, Ibu sudah membawakan ini, tapi ... Akhh, sudahlah. Ibu pergi saja, Nanay sudah tidak sayang Ibu lagi. Nanay sudah melupakan Ibu, lebih baik Ibu hilang saja."
Wanuta itu kembali berbalik membelakangi Nay dengan senyuman yang sedikit memudar. Dengan menghiraukan rasa sakit, Nay segera bangkit lalu berhambur memeluk ibu yang dia rindukan sejak beberapa tahun silam.
Nay menangis sambil memeluk sang ibu dari arah belakang membuat wanita tersebut tersenyum. Perlahan tangannya mulai mengusap-usap tangan Nay yang sedang memeluk sambil membiarkan tangis putri kesayangan tumpah begitu saja. Hanya itu cara satu-satunya untuk mengobati rasa rindu yang sudah tidak bisa Nay bendung kembali.
"Ibu, ke mana aja, Nay kangen, Nay rindu, Ibu. Nay tidak suka hidup sendiri, Nay mau ikut Ibu saja. Nay bosen di sini, ternyata Ibu benar. Menjadi dewasa tidak seindah yang ada dipikiran Nay dulu, banyak penderitaan yang Nay tanggung sendiri hanya demi menjaga amanah Ibu. Tapi ... Tapi, maafin Nay, Bu. Nay tidak bisa lagi menjalani amanah yang Ibu tinggalkan untuk menjaga, serta menganggap Ayah sebagai Ayah kandung Nay sendiri."
"Susah payah Nay kerja pagi, siang, malam semua Nay lakuin demi mencukupi kehidupan Nay sama Ayah. Tapi, apa yang Nay dapatkan, Bu? Nay cuman mendapatkan penderitaan ketika Ayah berniat ingin menodai, Nay hiks ... Nay takut, Bu. Nay takut Ibu marah karena Nay sangat membenci pria itu, Nay tidak mau lihat dia hidup. Pokoknya Nay ingin dia ma*ti, titik!"
Nay berbicara disela-sela tangisannya. Nada tegas yang Nay katakan berhasil membuat sang ibu perlahan mulai membalikkan badan dan kembali memeluk anaknya dengan sangat erat. Tangan kiri memegang toples kaca, lalu tangan kanan digunakan untuk mengusap kepala hingga punggung Nay demi ketenangan sang anak.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...