Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Menanyakan Pekerjaan Thoms


__ADS_3

"Iya, Kakak. Kenapa? Apa sudah bosan dipanggil dengan sebutan itu? Atau mau aku panggil dengan sebutan Tu---"


"Tut, tut, tut naik kereta api horee haha ...."


Perkataan Dinda benar-benar memecahkan keheningan diantara mereka semua. Ketegangan yang ada dalam hati Felix hilang begitu saja ketika harus mendengar hal konyol dari sang istri.


"Sayaaangg ...." Suara rengekan dari Felix membuat Moana menggelengkan kepalanya melihat adegan yang tidak pernah dilihat sebelumnya.


"Uhh, tututu ... Cini-cini peyuk duluu!"


Kedua tangan Dinda rentangkan untuk menyambut tubuh sang suami, tetapi saat Felix ingin memeluknya Dinda malah memeluk angin. Sehingga, Felix merasa kehilangan harga diri di depan Moana atas ulah sang istri.


"Upps, so-sorry, Sayang. Tidak kena, hihi ...."


"Aaaa ... Sayang!"


Felix begitu geram terhadap sikap sang istri yang memang selalu jahil untuk meledeknya. Moana sudah benar-benar jenggah melihat adegan mereka yang terlihat seperti anak remaja baru mengenal cinta. Sehingga, keromantisan mereka melebihi keromantisan Moana pada Ernest.


"Menyebalkan!" gerutu Moana tanpa bersuara.


"Ckkk, kalau kalian mau mesra-mesraan mending aku dan Barra pergi aja dari sini. Percuma aku di sini, udah kaya nyamuk aja!" keluh Moana dengan kesal.


Baru juga Moana ingin berdiri dari kursi, Dinda langsung menahannya sambil tertawa kecil. Tidak lupa untuk meminta maaf agar Moana tidak kembali marah pada Dinda akibat ulahnya yang hanya sekedar mencairkan suasana supaya tidak setegang tadi.


"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud memanas-manasi Kakak kok, aku cuman lagi menghibur sumiku aja. Lihatlah, wajah tegangnya itu terlihat begitu jelek, makannya aku lakukan itu supaya mencairkan suasa di sini."


"Hem, ya, ya, ya. Terserah kau saja, lagian juga suamimu aneh. Baru dipanggil Kakak aja udah bingung, gimana aku panggil Sayang. Uhh, bisa-bisa mimisan kali!"

__ADS_1


Mendengar jawaban itu membuat Dinda spontans membolakan matanya, gantian terkejut atas respons yang Moana berikan.


"Kakak!" ucap Dinda penuh penekanan. Moana langsung terkekeh sendiri melihat reaksi wajah Dinda yang mulai cemas.


"Ciee, cemas gak tuh, mukanya. Hihi ... Tenang aja, mana mungkin aku begitu. Tahu sendiri suamiku segalanya untukku, jadi tidak mungkin aku melakukannya."


"Saat ini aku dan Ernest sudah mulai berdamai dengan keadaan ataupun masa lalu kita, sehingga aku sudah berbicara dengan suamiku untuk meminta izin kalau aku ingin menganggap suamimu sebagai kakakku seperti dulu. Kita kembali menjalani silaturahmi sebagai saudara dengan baik serta melupakan tetang masa lalu yang pahit itu. Bagaimana?"


Moana tersenyum menatap Dinda yang refleks langsung menatap ke arah Felix. Di mana air mata Felix hampir jatuh jika Dinda tidak lagi-lagi menghiburnya dengan sifat jahil yang cukup menyebalkan.


"Ekhem, cie ... Ada yang udah jadi Kakak lagi kayanya, nih. Hem, semoga saja aku tidak terasingkan dihatimu!"


Dinda menyenggol tubuh suaminya hingga membuat Felix menoleh dengan tatapan penuh arti, "Isshh, apaan sih, Sayang. Kamu ini kaya anak kecil aja cie-cie, malu tahu akunya." Felix sedikit membisikan kalimat tersebut membuat Dinda dan Moana tertawa geli.


Wajah Felix benar-benar sama persis seperti Justin ketika lagi malu akibat kejadian yang memojokkannya. Selang beberapa detik, mereka kembali menyudahi tawanya saat Felix memberanikan diri untuk berbicara pada Moana.


"Aku juga ingin menjadi seorang Ayah yang bertanggung jawab serta bisa dibanggakan oleh anak-anakku termasuk Justin. Aku akan berusaha keras untuk bisa mengambil perhatian Justin, hingga dia bisa memaafkanku. Meskipun, nantinya dia tetap tidak bisa menerimaku sebagai Ayahnya, setidaknya aku sudah mendapatkan maaf serta bisa bermain juga memeluknya itu sudah cukup membuatku bahagia."


Dinda dan Moana menganggukkan kepalanya penuh kesenangan ketika melihat perubahan Felix yang begitu antusias, supaya kelak bisa menjadi pria yang jauh lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan seperti dulu.


Mereka bertiga kembali berbincang melanjutkan untuk membahas tentang kesehatan Felix, sesekali Moana membalas pesan singkat suami tercinta. Baru Moana ingin meminta izin untuk menyusul keluarganya di kantin dengan menitipkan Barra, tiba-tiba saja Felix meminta waktu Moana untuk membicarakan tentang suatu hal.


Awalnya, Moana sedikit bingung karena sudah ditunggu oleh yang lain di kantin. Hanya saja, ketika Moana sudah mendapatkan izin dari Ernest barulah Moana bisa mengobrol dengan mereka sesekali melihat Justin yang ada di trolly bay sedang tertidur sangat pulas.


"Gimana, suamimu? Apakah bisa mengizinkan kita untuk berbicara supaya mengulur waktu sedikit saja. Apa yang aku ingin bicarakan ini cukup penting, jadi aku harap kamu bisa mengerti."


"Sudah, Kak. Ernest sudah mengizinkan aku, lagi pula makanan mereka baru dipesankan karena kantin juga baru buka banget. Emangnya, apa yang Kakak mau bicarakan padaku?" tanya Moana, penasaran.

__ADS_1


"Semua ini tentang kakak kandungmu, apakah benar kalau dia bekerja sebagai seorang Mafia?"


Satu pertanyaan itu membuat Moana tercenga, wajahnya benar-benar syok parah ketika mendengar tentang pekerjaan sang kakak. Selama ini Moana hanya tahu, kalau Thoms bekerja tidak di satu tempat. Meskipun, dia punya anak buah yang banyak pikiran Moana tidak sampai ke arah situ.


Ya, memang. Moana tahu, Thoms sering kali gonta ganti perempuan untuk menuntaskan hawa napsu yang sulit dikendalikan. Hanya saja masalah pekerjaan Moana tidak begitu mengetahui, lantaran Thoms terlihat kejam ketika bertemu dengan musuh bebuyutan yang sudah berhasil melenyapkan kedua orang tua mereka.


Melihat reaksi Moana yang begitu syok, Dinda langsung menoleh ke arah suaminya seakan-akan meminta jawaban mengenai kondisi Moana. Felix yang tidak tahu menahu tentang semua itu, mengerakkan kedua bahunya sekilas sambil menggelengkan kepala.


Dinda kembali menatao wajah Moana, sedikit membungkukkan badannya sambil menyentuh tengan Moana hingga tersadar dari lamunannya.


"Kakak kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaan suamiku?" tanya Dinda menjadi penengah supaya diantara mereka tidak ada rasa canggung satu sama lain.


"Da-dari mana Kakak bisa menyimpulkan tentang pekerjaan Kak Thoms? Apa Kakak mengenalnya?" tanya Moana kembali, membuat Felix bingung harus menjelaskan mulai dari mana. Apa lagi ancaman yang diberikan Thoms sangat berlaku untuk nasib mereka berdua.


Dinda memegang tangan Felix sekilas sebagai kode agar sang suami tidak sampai menjelaskan kejadian beberapa jam lalu. Akan tetapi, Moana tidak sebo*doh apa yang mereka kira. Tatapan mata Dinda ke Felix juga sebaliknya, membuat Moana bertanya-tanya di dalam hatinya.


Sepertinya ada yang tidak beres dengan mereka? Apa jangan-jangan Kakak udah melakukan sesuatu yang membuat mereka ketakutan, sehingga Kak Felix bisa menebak pekerjaan menakutkan itu. Cuman, jika dipikir-pikir apa yang ditanyakan oleh Kak Felix aku juga pernah memikirkannya. Namun, aku tidak ingin berburuk sangka dengan Kakakku sendiri.


Dendam yang dia miliki hanya untuk membalaskan rasa sakit kedua orang tua kita, tetapi semua itu juga masuk akal. Apa jangan-jangan Kakak ... Akhh, tidak mungkin. Kakak bilang dia punya bisnis membantu orang lemah, sehingga dia pasti banyak musuh dan harus memiliki penjagaan yang ketat itu keselamatan dirinya sendiri.


Moana bertanya-tanya di dalam hati dengan segala pemikiran yang sebenarnya tidak masuk di akal. Seandainya apa yang ditanyakan oleh Felix itu benar, lalu bagaimana dengan reaksi Moana? Apakah dia bisa menerima semua itu, atau akan menjauhi sang kakak dengan segala ketidak sukaan Moana terhadap pekerjaan Thoms yang sangat berbahaya.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2