
1 bulan berlalu, saat ini Ernest telah bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Di mana dia akan bertemu kolega besar yang ingin menjalani kerja sama dengannya.
Ini kali pertama Ernest bisa kembali ke luar negeri setelah dia kehilangan anak serta istrinya yang telah tiada untuk selamanya. Hanya saja, entah mengapa Ernest begitu semangat untuk pergi ke sana dengan membawa koper besar.
Niatnya dia hanya ingin berada di sana selama 1 sampai 3 hari, tapi enggak tahu kenapa rasanya Ernes ingin sekali tinggal lama kurang lebih 1 bulan, sekaligus liburan. Mungkin, bagi Ernest itu sebagai obat untuk menyembuhkan hatinya yang sudah cukup lama kosong.
Setelah Ernest selesai sarapan bersama kedua orang tuanya. Dia langsung pergi ke bandara di antar oleh supirnya. Tanpa memiliki pirasat apapun, sepanjang perjalanan Ernest hanya bisa tersenyum kecil. Hatinya begitu senang lantaran ini hari, untuk pertama kalinya Ernest bisa menjalani hari-harinya penuh rasa semangat tanpa kesedihan sedikit pun.
Tepatnya di jam 10 pagi menjelang siang, Ernest baru saja sampai di bandara. Dia langsung memasuki bandara menuju ruang tunggu VVIP sampai pesawat yang akan dia tumpangi sudah datang. Di jam 12 siang, pesawat pun take off tanpa kendala apapun.
7 jam 20 menit, akhirnya Ernest sampai di bandara tujuannya. Dari situ Ernest langsung pergi menuju Apartemen yang sudah di pesan oleh Dinda jauh-jauh hari.
Ernest hanya bisa menikmati suasana yang berbeda dari biasanya. Sesampainya di Apartemen, Ernest segera beristirahat lantaran badannya sudah berasa sangat lelah juga pegal.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Keesokan harinya pukul 7 malam, Ernest pergi ke sebuah Restoran yang sangat mewah untuk makan malam bersama kolega bisnisnya demi menyambut kedatangannya serta membahas bisnis yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.
Di sela perbincangan serius makanan yang mereka pesan telah datang. Ernest meminta izin sebentar ke toilet lantaran sudah berada di ujung dan mempersilakkan mereka makan terlebih dahulu.
...Toilet Pria ...
Beberapa menit sudah, akhirnya Ernest lega setelah menuntaskan hajat besarnya. Kemudian dia keluar, lalu mencuci tangannya di wastafel sambil memperhatikan penampilannya.
__ADS_1
Namun, ketika Ernest ingin pergi. Tiba-tiba seseorang keluar dari kamar mandi dengan wajah sama persis seperti orang yang Ernest sangat kenal.
"Ju-justin?" ucap Ernest, matanya membola besar. Tubuhnya mulai terasa kaku akibat rasa syok yang tidak bisa dijelaskan.
"Da-daddy?" ucap Justin di dalam hatinya. Wajahnya benar-benar terkejut, setelah sekian lama akhirnya dia bisa kembali bertemu dengannya. Walaupun, penampilan Ernest sangat berubah. Justin tetap mengenalinya dari wajah juga suaranya.
Tubuh Justin perlahan bergetar, akibat semua caci maki yang pernah Ernest sampaikan padanya kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya. Matanya pun mulai berlinang, satu sisi Justin sangat senang bisa bertemu lagi sama Ernest. Dan satu sisi lagi,
Justin takut jika Ernest akan mengambil Mommy dan adiknya.
Sungguh, Ernest tidak menyangka. Dia bisa kembali bertemu sama anaknya yang sudah tiada. Entah ini mimpi atau nyata, Ernest refleks menampar pipinya begitu keras bahkan sampai merah. Dan hasilnya, benar-benar sakit. Itu artinya kali ini Ernest tidak sedang bermimpi.
Ernest langsung berbalik, lalu berlutut sambil memegangi kedua bahunya dengan mata yang saling menatap satu sama lain.
"A-aku harus tenang, aku enggak boleh nangis, aku enggak boleh takut. Pokoknya aku harus tahan semua ini, agar Daddy tidak bisa mengenaliku!" gumam hati Justin. Dia berusaha untuk menyembunyikan identitasnya sendiri demi menjaga Mommy dan adiknya sendiri.
"Ti-tidak, si-siapa itu Justin. Paman? Sa-saya tidak mengenalinya," jawab Justin, penuh rasa ketakutan dan juga gugup.
"Ka-kamu pasti bohong, 'kan? Ma-mana mungkin kamu tidak mengenaliku! A-aku ini Daddymu, Justin. Aku Daddymu! Maafkan Daddy, selama ini Daddy sudah banyak salah sama kalian. Daddy janji, Daddy akan berubah asalkan kalian mau kembali sama Daddy. Daddy kesepian, Sayang. Daddy butuh Justin dan Mommy. Please, kembali sama Daddy. Jangan tinggalin Daddy lagi, Daddy mohon!"
Ernest memeluk Justin begitu erat. Isak Tangis mulai menyelimuti mereka, tetapi Justin berusaha keras menghapus semua air matanya agar tidak sampai terbaca oleh Daddynya.
Rasa rindu mereka perlahan mulai terobati oleh pelukan yang selama ini tidak mereka dapatkan. Pelukan itu berhasil membungkam mulut Justin, sampai dia tidak bisa berkata apa-apa. Justin hanya bisa menikmati sebentar pelukan yang sudah lama diwakilkan oleh Thoms.
"Justin juga kangen sama Daddy, tapi Justin takut apa yang selama ini Justin mimpikan akan terjadi. Justin tidak mau Daddy mengambil Mommy dan Barra, karena hanya mereka yang Justin punya. Apa lagi, ketika Daddy tahu Barra adalah anak Daddy, pasti Daddy tidak akan menyayangi Justin lagi, 'kan? Maka dari itu, Justin tidak mau kalian ketemu!"
__ADS_1
Ketakutan yang Justin miliki, benar-benar membuatnya selalu berpikir jelek mengenai Ernest. Sebenarnya, apa yang Ernest katakan ini merupakan kata-kata yang berasal dari hatinya.
Semua penyesalan atas kesalahannya, Ernest jelaskan secara perlahan sama Justin. Akan tetapi, Justin malah mendorongnya dan membuat Ernest terjatuh di dekat wastafel.
"Stop! Jangan sentuh saya!"
"Anda itu bukan Daddy saya, dan saya juga bukan Justin anak Anda. Paham! Sekali lagi, saya ingatkan. Saya bukan Justin!"
Suara Justin menggelegar di dalam kamar mandi, bahkan kemarahan juga kesedian, terlihat jelas di raut wajah Justin sebelum dia berlari meninggalkan Ernest.
Bodyguard yang menjaganya pun terkejut atas sikap Justin yang tiba-tiba berteriak, lalu berlari kembali ke ruangan VVIP di mana Becca sedang menikmati makan bersama putra bungsunya.
"Mom, ayo kita pulang sekarang. Cepat!" pekik Justin, wajahnya terlihat merah dan penuh kepanikan.
"Ada apa, Sayang? Cerita sama Mommy, kenapa kamu kelihatan ketakutan seperti ini?" tanya Moana, khawatir.
"Aku gapapa, Mom. Pokoknya aku mau kita pulang sekarang, bisa 'kan!" ucap Justin penuh penekanan.
Moana benar-benar bingung sama putra sulungnya ini, perasaan tadi Justin yang meminta makan di luar. Hanya saja, baru juga makanan mereka datang Justin sudah minta ke toilet. Dan setelah kembali, sifatnya langsung berubah drastis.
Moana yakin ada sesuatu yang terjadi pada anaknya, sehingga matanya spontan langsung menatap ke arah bodyguard yang tadi mengantar Justin.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...