Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Mafia Tercengeng


__ADS_3

Moana tersenyum, mengusap dadanya yang merasa lega bisa kekuar dari kamar tanpa sepengetahuan Barra. Tanpa berlama-lama, Moana segera berjalan ke kamar sebelah kiri. Jika kamar Barra dan Sakha nomor 02. Kamar Naya berada di nomor 03.


Perlahan Moana menatap dua bodyguard yang berjaga di depan pintu. Kemudian mereka membukakan pintu untuk Moana masuk ke dalam, sementara mata Thoms langsung menatap ke arah pintu.


"Kamu ke sini, Dek?" tanya Thoms, sedikit terkejut.


"Kenapa? Aku gak boleh datang ke sini, gitu? Ya, sudaj aku bal---"


Moana yang baru masuk 3 langkah ke dalam kamar, langsung berbalik dan bru ingin berjalan ke luar Thoms langsung berlari memeluk adiknya dari arah belakang.


"Please, Dek. Jangan pergi! Kakak butuh kamu, 10 menit saja. Tidak banyak, kok. Kakak hanya ingin kamu ada di sini temani Kakak. Saat ini Kakak tidak tahu harus melakukan apa lagi, Kakak benar-benar menyesali atas semua yang terjadi. Kakak tahu Kakak salah, seharusnya Kakak tidak melihatkan kalian semua karena ini tentang masa lalu Tuan Sakha dan keluarga kita. Mereka tidak ikut serta di dalam masalah itu, tetapi kenapa Kakak egois banget sampai harus melakukan---"


Moana melepaskan tangan Thoms yang ada di badannya, lalu berbalik mengusap air mata yang ada dipipi menggunakan kedua tangannya sambil tersenyum.


"Sudah cukup, Kakak menangis seperti ini. Sekarang kita harus fokus pada kesembuhan wanita yang Kakak cintai, itu saja dulu. Urusan masa lalu kita, sebisa mungkin kita sampingkan. Setelah semuanya pulih, sembuh barulah kita akan bicarakan secara baik-baik penuh kekeluargaan."


"Kalaupun, ayah mertuaku mempunyai bukti yang kuat untuk membela dirinya kita harus hargai itu. Jika benar semua itu akurat, barulah kita akan menyelesaikan semuanya. Kita cari jalan terbaik agar kedua pihak bisa merasa nyaman satu sama lain."


"Aku tidak mau kita saling bermusuhan seperti ini. Mungkin, Tuhan sudah merencanakan semua serapi sekarang agar kita bisa menyudahi dendam yang sampai kapan pun tidak akan ada habisnya. Aku hanya takut, kalau kita terus menanamkan kebencian. Kelak, keturunan kita berikutnya akan menjadi korban berikutnya. Aku tidak mau sampai itu terjadi, Kak."


"Benar apa yang dikatakan oleh Kak Naya, wanita yang kakak cintai itu adalah orang baik. Seandainya Kakak tidak melakukan semuanya penuh emosi, mungkin dia tidak akan menjadi korban masa lalu kita. Lihatlah! Kasihan dia, Kak. Dia rela berkorban demi keselamatan keluarga kita, padahal dia bukan siapa-siapa kita. Semua itu sebagai bukti kalau dia memang benar-benar mencintai Kakak, tidak hanya omong kosong."


"Inilah cinta, Kak. Hanya cinta yang rela berkorban dan hanya cinta yang bisa merubah Kakak. Dendam itu sebenarnya hampir sama menghilang karena kekuatan cinta kalian, tetapi berkat anak buah Kakak yang terus mengompori di situlah kelemahan Kakak. Kakak belum bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang hanya sekedar ingin memaanfaatkan keadaan. Kakak paham?"

__ADS_1


Thoms menganggukan kepalanya karena dia juga sudah mulai berdamai dengan masa lalu yang selalu menghantui. Apalagi, Naya pernah mengalami ma*ti suri beberapa menit hanya untuk sejedar menemui orang tua Thoms demi menyampaikan pesan yang harus Thoms jalani.


Moana juga sempat mendengar cerita itu secara singkat. Maka dari itu, Moana harus meyakinkan kembali kepada Thoms kalau dia harus segera menyadari kesalahan itu supaya kedua orang tua mereka bisa hidup tenang dialamnya.


Thoms kembali memeluk Moana dan membuatnya tersenyum. Bukan berarti Moana menertawakan Thoms, dia hanya merasa lucu karena pria yang diketahui sangat kejam terhadap siapa pun itu bisa berubah menjadi hello kitty ketika jatuh cinta.


Persis seperti Ernest, tetapi Thoms jauh lebih lucu dengan wajah bengepnya yang tidak pernah terlihat. Seakan-akan Thoms telah menyimpan rapat-rapat air matanya hanya untuk menangisi orang terpenting di dalam hidupnya.


"Astaga, udah, Kak. Malu tahu dilihat oleh Kak Naya," ucap Moana ketika matanya terkejut melihat Naya sudah mulai membuka matanya jauh lebih ceoat dari perkiraan dokter.


"Mana ada, dia masih tidur. Paling juga bangunnya besok pagi, jangan coba-coba bohongi kakakmu ini ya, aku tidak akan bisa dibohongi!" ucap Thoms dengan tegas sambil memeluk adiknya.


"Dishhh, sombong kali rupanya ini orang. Udahlah, lepasin, Kak!" pinta Moana, menggoyangkan tubuhnya.


"Tercengeng yang aku kenal."


Degh!


Detak jantung Thoms hampir terhenti ketika telinganya mengendengar suara yang tidak asing. Tubuh Thoms terdiam mematung bersamaan dengan kedua bola mata yang terbelalak.


"I-itu se-sepertinya su-suara Na-naya. A-apakah di-dia benar-benar su-sudah bangun?" tanya Thoms dengan suara yang sangat kecil.


"'Kan aku sudah bilang tadi, Kakak aja yang gak denger. Malah bilang aku pembohong, dasar!" Moana langsung mendorong pelang Thoms, hingga tubuhnya terlepas dan segera berjalan mendekati bangkar.

__ADS_1


Di sana Naya sudah terbangun sambil tersenyum menatap Moana. Saking senangnya Moana memeluk Naya perlahan sambil menjaga jarak agar tidak menekan luka yang masih basah.


"Aku senang Kakak sudah bangun, sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas semua pengorbanan Kaka Naya untuk keluargaku. Mungkin aku tidak bisa membalasnya, tetapi aku akan selalu ingat semua yang Kakak lakukan ini. Terima kasih," ucap Moana, melepaskan pelukannya sambil tersenyum menggenggam tangan Naya.


"Santai saja, anggaplah ini sebagai pertolongan dari Tuhan melalui aku. Dulu, aku pernah diselamatkan oleh Tuan Thoms dan sekarang aku bisa membalasnya. Cuma, aku tidak tahu siapa yang menjadi target orang itu. Sehingga, dengan cepat aku harus bisa melindungi mereka. Tapi, ketika aku lihat-lihat lagi senjata itu mengarah ke tubuh si kecil. Terus, sekarang gimana kabar anak-anak Nona? Semuanya baik-baik aja, 'kan? Tidak ada yang terluka?" tanya Naya, sempat-sempatnya mengkhawatirkan tentang kondisi kedua anak Moana.


"Anak-anakku baik semua, Kak. Mereka hanya mengalami syok dan trauma sedikit saja, cuma kata dokter seiring berjalannya waktu pasti mereka akan kembali membaik. Terus gimana keadaan, Kakak?" tanya Moana.


"Syukurlah, aku baik-baik aja kok, tenang aja. Oh, yaa ... Jangan panggil aku Kakak, Nona. Usiaku jauh di bawah Nona, lebih baik panggil namaku saja. Itu jauh lebih enak." Naya tersenyum menatap Moana. Kepalanya tiba-tiba menggeleng cepat dan langsung membantah perkataan Naya.


"Tidak, jangan panggil aku Nona. Cukup panggil aku, Moana itu saja. Kalau untuk Kakak, aku akan tetap memanggil Kakak karena sebentar lagi Kak Naya akan menjadi Kakak iparku, titik!"


Naya langsung terkejut atas perkataan Moana. Matanya melirik ke arah Thoms yang masih mematung dalam keadaan membelakangi mereka. Setelah menyadari kalau Naya sudah benar-benar bangun, Thoms segera berbalik kemudian, berlari dan memeluk Naya.


Namun, dengan cepat Moana langsung menarik keras Thoms hingga dia terjatuh ke lantai dalam posisi duduk dengan wajah kesalnya. Di saat Thoms berdiri ingin memarahi Moana, seketika terhenti saat seseorang masuk ke dalam ruangan Naya dan mengatakan sesuatu hingga membuat mereka semua terkejut.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2