
"Te-terimakasih, kamu sudah ma-mau di sini menemaniku. Sekali lagi te-terimakasih atas waktu yang sudah kamu berikan, demi menyambut kelahiran anak kita."
Moana mengucapkan rasa bersyukurnya kerena Ernest berada di sampingnya, ketika dia harus berjuang antara hidup dan ma*tinya demi melahirkan buah hati mereka.
"Tidak perlu berterimakasih, ini sudah tugasku sebagai seorang suami. Meski aku terlalu cuek sama kalian, tapi aku tetap orang yang kalian butuhkan disaat seperti ini."
Ernest berdiri di samping bangkar Moana sambil menggenggam tangan kanannya dan mengusap kepalanya. Entah mengapa, perlakuan manis ini terlintas begitu saja. Sehingga air mata Moana menetes sangat deras.
Moana tidak menyangka dari tatapan serta cara Ernest memperlakukannya, semua itu penuh dengan cinta. Tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hati Moana, ketika merasakan semuanya. Tidak seperti sebelumnya yang terasa seperti formalitas Ernest saja, agar dia terlihat sebagai suami yang baik untuknya.
"Arrghh, sa-sakit. Huhh, huhh ... Ra-rasanya a-aku sudah ti-tidak kuat lagi hiks ...."
"Sstt, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Aku tahu kamu wanita yang kuat, jadi tidak mungkin seorang Moana menyerah semudah ini. Ingat, kalau kamu menyerah, maka kita akan kehilangannya untuk selamanya. Jadi, aku mohon bertahanlah demi anak kita!"
Menyaksikan kesakitan yang Moana rasakan, entah mengapa air mata Ernest seketika runtuh secara perlahan. Apa lagi saat Moana mengikuti arahan dari sang dokter, membuat hatinya tersentuh.
Inilah pengorbanan seorang Ibu, dia rela bertarung dengan maut hanya demi melahirkannya. Sehingga, Ernest yang terkenal sangat dingin terhadapnya malah merasa kasihan. Sampai Ernest tidak menyadari bila dia mencium kening Moana berulang kali untuk menyemangatinya.
Moana merasakan perasaan yang bercampur aduk, antara bahagia dan juga sakit. Akan tetapi, rasa sakit itu malah terkalahkan oleh rasa bahagia ketika dia mendapatkan kasih sayang seorang suami.
Terlepas Ernest sadar atau tidak, bagi Moana itu tidak penting. Setidaknya dia telah mendapatkan sinyal dari hati suaminya sendiri.
"Ba-bagaimana ka-kalau aku nanti arghh, hiks ... ti-tidak se-selamat. A-apakah ka-kamu akan--"
"Stop berbicara tidak masuk akal! Pokoknya kalian harus selamat, titik!"
__ADS_1
"Ingat, istriku adalah wanita yang kuat. Jadi, dia tidak akan semudah itu menyerah. Dia pasti akan tetap berjuang, demi kebahagiaan anaknya. Paham!"
"Ta-tapi a-aku----"
Perkataan Moana tertunda saat dia terkejut, Ernest mencium bibirnya sekilas. Di situ terlihat sekali bila Ernest takut akan kehilangan dirinya, tetapi dia juga tidak bisa mengungkapkannya melalui perkataan. Hanya sikapnyalah yang telah berbicara bila hatinya sudah mulai terikat dengan Moana.
Sampai akhirnya sang dokter pun langsung mengatakan sesuatu yang membuat Moana semakin bersemangat.
"Nyonya, kepala bayinya sudah mulai terlihat. Jadi, sekarang Nyonya ikuti aba-aba dari saya ya!"
Moana dan Ernest saling menatap satu sama lain di penuhi senyuman. Mereka begitu senang, karena sebentar lagi akan bertemu dengan anaknya.
"Sekarang Nyonya ambil napas dalam-dalam, lalu hembuskan melalui mulut. Setelah saya hitungan satu sampai tiga, maka Nyonya langsung bantu dorong Baby tanpa harus mengangkat bokong. Mengerti?"
Moana menganggukan kepalanya, segera mengambil napas sesuai arahan sang dokter. Setelah mendengar hitungan dari sang dokter, Moana segera membantu sang anak untuk menemukan jalan keluarnya.
Oeekk ... Oeekk ... Oeekk
Suara tangisan bayi yang sangat kencang, berhasil membuat hati Moana dan Ernest merasa lega. Mereka nangis saat sang dokter menunjukkan wajah anaknya yang sangat lucu.
Begitu juga Elice dan Sakha, mereka mendengar tangis cucunya sampai terdengar jelas membuat mereka langsung berpelukan penuh tangisan terharu.
"Hai, Daddy dan Mommy. Akhirnya kita ketemu juga ya, setelah 9 bulan aku menunggu di dalam perut. Dan sekarang aku bisa melihat kalian. Ohya, perkenalkan aku putra kalian yang sangat tampan dan juga gagah. Apakah kalian senang melihatku?"
Sang dokter tersenyum sambil berbicara layaknya anak kecil, kemudian berjalan perlahan mendekat ke arah samping Moana. Lalu, perlahan meletakkan Baby Boy tepat di atas dadanya dalam keadaan sedikit terbuka.
__ADS_1
Tanpa di sengaja mata Ernest melihat putranya menangis sambil mencari sesuatu yang berasal dari tubuh istrinya. Moana hanya bisa menangis bahagia, ketika tangannya telah berhasil memeluknya.
Semua rasa sakit yang dia rasakan di awal seketika menghilang begitu saja, akibat wajah anaknya terlihat menenangkan.
Sang dokter melihat ke aktifan dari anak mereka merasa sangat senang. Untuk pertama kalinya, Moana termasuk sebagai seorang Ibu yang beruntung. Sebab, ASI-nya langsung keluar saat Baby Boy berhasil melahap sumber makanannya.
Di situ tangis Moana semakin pecah. Kebahagiaan seorang Ibu yang paling-paling tidak bisa di lupakan, ketika dia bisa menyusui anaknya di hari kelahirannya.
Sama halnya seperti Ernest, dia pun baru pertama melihat isi dalaman seorang Moana yang sangat mulus, putih dan juga menggiurkan lidahnya.
Tanpa di sadari Ernest menelan air liurnya sendiri beberapa kali, matanya tidak berhenti terus melihat anaknya.
Di rasa sudsh tidak kuat lagi, Ernest langsung keluar dengan alasan ingin memberitahu kabar bahagia ini kepada kedua orang tuanya. Padahal dia hanya ingin menghindari sesuatu yang bisa membangkitkan adik kecilnya.
Bersamaan dengan Moana yang sedang menyusui anaknya, sang dokter segera membersihkan serta sedikit menjahit jalan keluar bayi yang mengalami kerobekan cukup lebar.
Untungnya bayi Moana lahir dalam keadaan yang sangat bersih, tanpa sedikitpun kotoran yang menempel di tubuhnya.
Setelah selesai menyusui, Baby Boy kembali di ambil oleh suster untuk di bersihkan serta di cek bagaimana kondisi kesehatan dan lain-lainnya tanpa terlewatkan.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung