
Thoms sedikit bingung dengan apa yang dia lihat saat ini, di mana ada seorang wanita sedang dimarahi oleh seorang pria paruh baya yang usianya mendekati kepala lima.
Rasa penasaran Thoms mulai muncul, tetapi balik lagi. Dia tidak ingin mengurus masalah seseorang yang tidak penting. Melihat dari penampilan, mereka seperti orang tidak berada. Jadi, sudah bisa dipastikan kalau salah sat dari mereka tidak bisa membayar jasanya sebagai penolong.
Salah satu bidyguard memberanikan diri untuk bertanya saat dia merasa bingung, lantaran Thoms menghetikan langkahnya secara mendadak, "Maaf, Tuan. Jika boleh saya bertanya, ada apa Tuan menghentikan langkah? Apakah ada yang tertinggal di dalam mobil?"
Thoms menoleh menatap bodyguard yang bertanya, membuat dia langsung menundukkan kepalanya, "Tidak, saya hanya bingung dengan orang sini. Kenapa kalau ada masalah senang sekali diumbar, apakah ini taktik supaya ada yang mengasihani?"
Bodyguard tersebut langsung melihat ke arah pandangan Thoms yang menatap seorang wanita yang meringis kesakitan akibat rambutnya dijampak keras oleh pria paruh baya.
"Mungkin bisa dikatakan seperti itu, Tuan. Melihat dari cara si pria memperlakukan wanita itu seperti hewan. Apakah Tuan ada niatan untuk membantu?" tanya bodyguard itu, membuat Thoms sekilas menoleh ke arahnya dan kembali memasang kacamata hitam.
"Itu bukan urusan kita!" Thoms langsung kembali berjalan memasuki restoran yang langsung disambut oleh pelayan di sana dengan sangat sopan dan ramah.
Mereka bertiga masuk ke dalam restoran mencari tempat yang sedikit memojok. Dikarenakan Thoms tidak terlalu suka dengan keramaian yang cukup membuat gendang telinganya tidak nyaman.
Salah satu bodyguard, menarik kursi yang akan di tempati Thoms. Kemudian, kedua bodyguard itu duduk di belakang meja Thoms sambil berjaga-jaga. Semua ini sudah terbiasa mereka lakukan, demi menjaga privasi Kingnya. Ditambah mereka juga harus bisa menyamar, agar tidak membuat semua orang menatap takut juga penasaran dengan jati diri Thoms.
Ya, walaupun mereka duduk santai tanpa membuat semua orang curiga. Tetap saja, kedua mata mereka selalu melihat situasi agar tidak sampai lengah untuk memastikan kenyaman serta keselamatan Thoms.
Salah satu tangan Thoms diangkat ke atas udara untuk memanggil pelayan. Hanya selang beberapa detik, pelayan wanita datang sambil membawa sebuah buku daftar menu untuk ditunjukkan pada Thoms.
"Permisi, Tuan. Selamat datang di restoran kami." Pelayan wanita itu sedikit membungkukkan badannya untuk memberikan penghormatan kepada pengunjung restoran. Semua itu dilakukan demi menjaga keramah tamahan para pelayan dengan semua pengunjung.
"Hem ...." Thoms hanya bisa mengangguk dan deheman sesuka hatinya.
__ADS_1
"Silakkan, Tuan!" Pelayan tersebut memberikan buku menu yang cukup tebal kepada Thom, kemudian kebali menjelaskan sedikit, "Di sini kami memiliki banyak sekali menu yang bisa di rekomandasikan sesuai selera para pengunjung restoran. Tidak hanya itu, kami juga mempunyai menu andalan yang bisa menjadi menu favorit untuk para pelanggan yang selalu datang ke sini."
"Restoran kami selalu mendapatkan bintang 5 dari segi rasa yang tidak bisa dibohongi lagi. Mungkin, bagu Tuan yang baru datang tidak percaya dengan semua yang saya jelaskan. Akan tetapi, Tuan bisa membuktikan setelah memesannya."
Senyuman terus diukir lebar oleh wanita yang bertugas sebagai pelan itu, terlihat sedikit centil. Hanya saja, Thoms tidak peduli dengan semua itu. Intinya perut dia kenyang, rasa memuaskan sudah lebih dari cukup.
Namun, siapa sangka. Ketika pelayan tersebut ingin mencatat menu yang akan Thoms pilih, satu pertanyaan Thoms berhasil membuatnya bingung dan langsung melongo menatap wajah Thoms.
"Apakah wanita yang ada diparkiran itu temanmu? Dia pelayan di sini, bukan?" tanya Thoms, sambil membaca menu yang ada di buku.
"Hahh, ma-maaf, Tuan. Ba-bagaimana? Saya tidak paham!" ucap pelayan itu, dalam keadaan bingung.
"Diparkiran ada seorang wanita memakai seragam persis sepertimu, dia bertengkar oleh seorang pria paruh baya. Apa dia temanmu? Dan, di mana keamanan di sini? Kenapa tidak ada yang membantunya?"
Pertanyaan Thoms, benar-benar membuat wanita itu berpikir keras. Dia masih belum paham sama apa yang Thoms bicarakan, karena Thoms tidak menyebutkan soal nama atau sebagainya.
"Oh, itu, namanya Naya, Tuan. Dia memang sering begitu, pihak restoran juga sudah capek menengahi mereka. Apa lagi bapak tirinya itu, hampir ingin membakar resto kalau tidak diberikan uang setiap kali dia minta. Maklumlah, orang setres kerjaannya mabok, judi, ngobat gitu aja terus. Kalau ibu kandungnya udah lama mati, jadi dia yang ngurusin bapak tirinya sampai kerja banting tulang."
"Cuman gitulah, pemilik resto memeprtahankan dia karena kinerjanya yang bagus, bahkan dia tinggal dikontrakan yang dibayar oleh majikan kami. Enakkan hidupnya? Ya, iyalah. Sedangkan yang lain aja boro-boro dibayarin kontrakan, naik gaji aja kami susah. Dahlah, Tuan. Saya malas bahasnya, lagian enggak penting. Paling juga simpenan atasan kami makannya dipertahankan!"
"Kalau aku yang jadi dia sih, ikhhh ... Ogah banget! Ya, kali umur masih muda udah jadi simpenan om-om. Mendingan cari cowo ganteng, kalau dibawa jalan-jalan enggak malu-maluin. Cihh ... Makannya Tuan hati-hati sama dia, jangan mau dekat-dekat nanti kena pelet tahu rasa contohnha majikan saja tuh!"
Pelayan itu mencibirkan mulutnya ketika merasa geli sama apa yang ada di isi kepala tentang temannya sendiri. Suaranya yang seperti kicauan burung membuat gendang telinga Thoms rasanya ingin rusak.
Akan tetapi, entah mengapa dia malah tertarik oleh wanita yang bernama Naya itu. Tidak tahu kenapa, dari cerita yang disampaikan oleh temannya ini malah membuat Thoms memiliki sudut pandang yang berbeda.
__ADS_1
Jika dari omongan pelayan yang ada di depannya ini, Thoms bisa menyimpulkan bahwa semua karyawan tidak menyukai sosok Naya tersebut. Entah cerita yang disampaikan itu benar atau tidak, bagi Thoms dia seperti tertarik ingin menyelidiki tentang wanita itu.
"Huhh, kuping saya rasanya ingin meledak mendengar suaramu yang cempreng itu!" ucap Thoms mengusap telinganya sendiri.
"Hehe, maaf, Tuan. Suara saya memang merdu seperti ini, apa lagi kalau sudah ngomongin Naya. Behh ... Rasanya kesel banget, udah kaya mau makan orang. Wanita kegatelan begitu pantesnya dibasmi biar hilang dari muka bum----"
"Stop, mengoceh atas saya pergi dari sini!"
Suara Thoms yang terdengar sangat berat penuh penekanan berhasil membuat pelayan itu terdiam. Dia menundukkan kepalanya sambil meminta maaf karena sudah banyak berbicara.
"Saya pesan 3 menu utama di resto ini, jangan lupa 2 menu itu bawakan untuk teman saya di belakang. Paham?"
Pelayan itu langsung menatap ke arah kedua bodyguard Thoms yang terlihat datar tanpa ekspresi, seram hingga membuat bulu kuduknya berdiri akibat rasa takut ketika mata mereka langsung bertatapan.
"Ba-baik, Tuan. Su-sudah itu saja?" tanya pelayan tersebut, meyakinkan agar tidak membuatnya bolak-balik.
"Tidak, cukup 3 menu utama itu saja. Jangan lupa, menu yang akan dihidangkan dimeja saya harus dibawa oleh temanmu yang bernama Naya. Sampai sini sudah jelas?" jawab Thoms, sedikit membuat pelayan wanita terkejut. Hanya saja, dia tidak ingin membuat Thoms kembali marah saat melihat kedua teman dibelakang terlihat sangar.
"Si-siap, Tuan. Saya permisi dulu!" Pelayan itu langsung pergi begitu saja dengan jantung yang hampir saja copot.
Tidak lagi-lagi dia melayani Thoms, semua itu akan dia serahkan pada pelayan yang lain juga Naya selaku wanita yang dicari oleh Thoms. Setidaknya dia sudah melakukan tugas dengan baik untuk melayani Thoms, walau tidak sampai tuntas mengantar menu yang dipesan.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...