Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Ancaman Nay


__ADS_3

Thoms bangkit dari duduknya, kemudian langsung menerkam seseorang yang sedang duduk anteng dalam keadaan terkejut. Tangan Thoms mulai mengunci leher orang tersebut agar dia tidak bisa berlari ke mana-mana.


"Kakak!" teriak Moana refleks berdiri dalam keadaan syok.


"Tuan, lepaskan suami saya!" pekik Elice dengan wajah khawatir ketika melihat suaminya dalam keadaan bahaya seperti itu.


Elice terus mencoba untuk menyingkirkan tangan Thoms dari leher suaminya, akan tetapi Thoms malah menatap tajam hingga membuat Elice sangat takut.


Semua orang bingung melihat suasana yang mencekram, apalagi Justin segera ditarik oleh pembantu untuk membawanya di dalam kamar bersama Barra. Kedua anak kecil itu terus menangis sesekali Justin menoleh ke arah belakang melihat paman yang sering dipanggil papah telah melakukan hal yang cukup kejam kepada opanya.


"Kakak, apa yang kau lakukan, hahhh? Lepaskan, Ayah. Lepas!"


Moana segera berlari, lalu memeluk tubuh Thoms dari arah belakang untuk memisahkan kakaknya dari ayah mertua.


"Papah, jangan sakiti Opa!" Justin berteriak sekeras mungkin dari lantai atas sebelum masuk ke dalam kamar bersama pembantu.


"Apa salah ayah saya, Tuan? Kenapa Tuan bisa bersikap sefrontal ini, katakan! Saya mohon dengan hormat, lepasakan ayah saya Please ... Kita bicarakan baik-baik. Oke?"


Ernest menjalankan kursi rodanya dalam keadaan terbatas, ingin sekali dia menolong Sakha dari kekejaman Thoms. Akan tetapi, dia tidak berdaya. Kakinya masih tidak bisa digerakkan secara leluasa untuk bangkit dari kursi penderitaan yang selama ini masih melekat di pinggulnya.


"A-apa salah sa-saya, Tu-tuan? Sa-saya ti-tidak me-mengerti ma-maksud se-semua ini," ucap Sakha terbata-bata lantaran lehernya benar-benar sedikit ditekan oleh Thoms. Sakha dan Elice berusaha menyingkirkan tangan Thoms, tetapi para bodyguard langsung bertindak.


Mereka semua menahan Elice, Moana, juga Ernest agar menjauhi Thoms dan Sakha. Mereka bertiga terus berteriak mencoba melepaskan diri ketika perseteruan antara Mafia kelas kakap melawan pria paruh baya tanpa memiliki kekuasaan apa pun.


Thoms terdiam menatap wajah Sakha dengan penuh kebencian. Dia tidak menyangka ternyata orang yang selama ini dicari-cara berada sangat dekat dengannya. Tampang sok bijak, kalem, dan penuh kehangatan ternyata tidak lain adalah musuh yang selama ini sulit dilacak.


"Jadi, rupanya tikus kecil selama ini berada didekatku?" tanya Thoms dengan nada penuh penekanan, serta sudut bibirnya terangkat sedikit untuk memberikan senyuman jahat.


"A-apa ma-maksud Tuan ber-berkata seperti itu? Ti-tikus ke-kecil?" tanya balik, Sakha. Wajahnya memerah padam akibat rasa takut yang membuat jantungnya langsung merespons dengan cepat.

__ADS_1


"Tu-tuan, tolong jangan sakiti suami saya. Dia punya riwayat jantung, Tuan. Saya mohon, jangan sampai jantung suami saya kambung. Itu bisa memicu penyakit jantung yang lebih parah. Saya mohon, Tuan. Lepaskan suami saya, kita bicarakan baik-----"


"Diam!"


Suara bentakan Thoms langsung mengejutkan seisi rumah hingga beberapa penjaga rumah, pembantu, supir dan yang lainnya segera berlari ke ruangan tengah untuk menyelamatkan majikannya. Akan tetapi, mereka semua langsung jongkok layaknya maling yang tertangkap polisi.


Mereka tidak berani bertindak jauh karena masih sayang dengan nyawa masing-masing ketika melihat sebuah pistol kecil telah berada di atas kepala mereka dari ketiga para bodyguard yang menjaga.


"Hentikan semua ini, Tuan! Jika kau masih bertindak seperti ini, jangan salahkan aku bila aku melakukan seuatu hal buruk pada adikmu!"


"Cepat, menyingkir darinya! Kita bisa bicarakan ini secara baik-baik, sebelum kau bertindak lebih jauh. Ingatlah,mau bagaimanapun mereka tetap keluarga dari adikmu!"


"Jika kau tidak bisa mengontrol emosimu, sekarang juga aku akan berhenti kerja dan tidak lagi menjadi asisten pribadimu!"


"Jika memang benar dialah musuh yang kau cari-cari, kita bisa selesakkan semuanya dengan solusi terbaik. Jagalah hati adikmu, sebelum dia membencimu sebagai Kakak. Paham!"


Mata Thoms berhasil mengalihkan pandangannya untuk melihat gadis yang sudah beberapa hari resmi menjadi asisten pribadinya. Tatapan tajam Nay sangat mengganggu, apalagi dia mengarahkan pistol kecil yang sudah menjadi kesayangannya ke arah kepala Moana.


Hanya gadis itu yang berani mengobrak-abrikkan perasaan Thoms hingga luluh. Thoms segera melepaskan Sakha dengan sedikit mencekik, lalu mendorongnya sampai tubuh Sakha membentur sofa.


"Menjauhlah dari adikku!" ucap Thoms kembali duduk dalam keadaan kesal merilik Nay.


Gadis dengan paras cantik penampilan tomboy langsung memasukan kembali senjatanya ke tempat yang aman. Meskipun terlihat pemberani, sebenarnya Nay sangat takut memegang senjata itu sampai tangannya sedikit gemetar.


Untung saja tidak ada satu orang pun melihatnya. Moana melirik ke arah Nay yang sangat tahu bagaimana cara mengendalikan emosi sang kakak. Kali ini Moana sangat takjub akan aksi Nay yang luar biasa, padahal Moana sendiri sebagai adiknya sudah memohon, bahkan menangis hingga berteriak tetap saja Thoms tidak menghiraukannya.


Hanya dialah yang mampu meluluhkan hati pria kejam penuh emosi seperti Thoms. Lirikan mata Moana memberikan kode tertentu kepada Nay untuk berterima kasih. Nay kembali membalas kode itu dengan sekali kedipan pertanda kalau gadis itu telah menjawabnya.


"Dasar pemarah!" ucap Nay menggunakan suara yang sangat kecil ketika membalas lirikan tajam atasannya itu.

__ADS_1


"Lepaskan mereka semua, kita bicarakan ini baik-baik!" pinta Nay kepada semua anggota Thoms untuk melepaskan orang-orang tidak bersalah.


"Hei, Nona!" pekik Thoms langsung berdiri, "Kau siapa bisa-bisanya menyuruh semua anak buah saya, hahh?"


"Duduklah! Saya ini asistenmu, jika kau---"


"Berisik!" Thoms mendengus kesal sambil duduk dalam keadaan membuang napas panjang.


Moana segera memberikan minum, sedangkan Elice hanya bisa menangis mengkhawatirkan kondisi sang suami. Sama halnya seperti Ernest yang tetap berusaha melihat sang ayah, walaupun tidak bisa berbuat apa-apa.


Hahh ... Mimpi apa aku, sampai-sampai punya asisten model begini. Turunlah harga dirimu, Thoms!


Ingatlah! Kau itu ketua Mafia yang sangat ditakuti, terus kenapa hanya melihatmya marah kau sudah luluh. Dasar pecun*dang!


Ini semua gara-gara perasaan yang tidak bisa dikendalikan, aarghhh ....


Batin Thoms terus bersuara melihat kelakuan Nay yang seakan-akan telah menemukan titik kelemahan Mafia kejam tersebut. Padahal, sebelum Thoms merasakan getaran di dalam hati semua berjalan seperti apa yang dia inginkan tanpa memperdulikan semua ini.


Akan tetapi, apa yang dikatakan gadis menyebalkan itu selalu bisa membuat Thoms susah untuk mengendalikan perasaan yang tidak tahu ke mana arahnya.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_1


__ADS_2