Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Efek Dahsyat Masa Lalu


__ADS_3

Melihat Dinda menangis, Felix menjadi bingung. Apa lagi posisi mereka berada di dalam kendaraan yang sewaktu-waktu bisa membahayakan untuk keselamatan. Sehingga, Felix memutuskan untuk mencari tempat yang lebih terang juga aman untuk meminggirkan mobilnya supaya bisa menenangkan sang istri.


Di saat Felix sudah berhasil menemukan tempat tersebut,l tanpa berlama-lama dia segera meminggirkan mobilnya tepat di bawah lampu jalan. Tidak lupa Felix tanpa menarik rem tangan bertujuan untuk mengunci ban supaya lebih aman.


Tidak kuat rasanya melihat sang istri menangis seperti ini, Felix segera memeluknya sesekali menciumi pucuk kepala Dinda. Entah apa yang terjadi sama sang istri, Felix sudah menduga dari awal. Tidak mudah mendekati sang anak apa lagi Dinda belum mengenal Justin anak yang seperti apa.


Kali ini Felix hanya fokus memeluk hingga mengusap punggu sang istri agar tetap merasa tenang di dalam pelukannya. Felix mengurungkan niatnya untuk bertanya sebelum keadaan Dinda mulai membaik. Kurang lebih 5 menit tangis Dinda mulai mereda hanya tersisa isakkan.


Setelah memeriksa keadaan sang istri sudah aman, Felix langsung menanyakan apa yang terjadi pada Dinda secara perlahan.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu nangis begini, hem? Bisa ceritakan padaku pelan-pelan apa yang terjadi sama Justin dan kalian di kamar tadi?"


"Sungguh, hatiku jadi tidak tenang, Sayang. Semenjak kita pulang dari rumah Ernest, sikapmu itu berbeda banget. Kamu lebih memilih berdiam diri, melamun dan sekarang, tiba-tiba aja kamu nangis kaya gini. Gak mungkin 'kan, kalai gak ada apa-apa. Pasti ada yang kamu sembunyikan dariku, iya?"

__ADS_1


"Aku tahu kamu, Sayang. Saat kamu habis dari kamar Justin, wajahmu itu berbeda. Terlihat lebih sembab, kaya orang habis nangis kejer gitu. Ada apa, Sayang? Ayo, coba ngomong sama aku. Apa ada ucapan dari Justin yang tidak enak di hatimu, iya? Jika benar begitu, aku minta maaf ya, mungkin dia lagi tidak bisa mengontrol emosinya. Tahu sendiri, Justin masih sangat kecewa denganku pasti kamu pun akan kena imbasnya. Sekali maafin anakku, ya. Aku---"


Dinda melepaskan pelukan sang suami sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, sehingga Felix tidak lagi melanjuti perkataannya. Felix leboh memelih menghapus air mata Dinda yang sudah tidak karuan menggunakan tisu di dalam mobil.


"Tidak, Sayang. Justin tidak salah, dia anak baik, dia anak hebat aku bangga kalau nanti bisa jadi ibu sambungnya. Hatinya benar-benar persis seperti Kak Moana, baik banget!"


"Aku tahu, Justin mungkin kecewa sama kamu. Dia menganggap kalau kamu sudah membuangnya karena tidak menginginkan kehadirannya. Aku juga bisa maklumin kalau Justin marah denganku akibat dulu aku pernah hampir membuat orang tuanya berpisah, tapi yang membuat aku nangis adalah lukanya!"


"Anak seusia Justin yang seharusnya hanya mengenal dunia main, sekolah, belajar, tidur, makan, pokoknya yang bahagia-bahagia. Cuman, Tuhan malah memberikan Justin cobaan dan luka yang sangat berat. Dari kecil dia harus menyaksikan bagaimana tersiksanya Kak Moana yang harus bertahan sama Tuan Ernest tanpa dasar cinta, lalu di saat mereka sudah saling mencintai juga bahagia. Mereka harus tahu jati diri Justin sebenarnya, apa itu tidak terlalu kejam untuknya? Dia masih kecil loh, Sayang. Kenapa dia harus mengalami kehidupan sepahit itu, kenapa!"


"Mungkin pikirannya bisa kecewa padamu, tapi tidak dengan hatinya yang emas. Mulut bisa setajam silent dengan mengatakan apa pun yang ada dipikiran Justin, lain dengan hati yang masih sangat menyayangimu. Dia menjaga semua hadiah darimu tanpa membuang satu pun. Harusnya sebelum kamu bertindak lebih jauh, kamu pikirin nasib anak yang sudah menjadi korbannya. Bagaimana jika pada saat itu mental Justin terganggu akibat Tuan Ernest yang masih belum bisa menerima pernikahan paksa itu? Ditambah Justin sudah mengetahui siapa ayah kandungnya, apa itu tidak akan merubah kepribadian Justin yang awalnya jadi orang baik sekarang jadi pendendam?"


"Ya, jelas, Sayang. Semua itu berpengaruh pada mental juga sikis Justin sebagai anak-anak, dia terpaksa harus dewasa menerima keadaan di usianya yang masih sangat kecil. Aku tidak kebayang, jika semua ujian hidup tidak bisa Justin terima pasti dia sekarang sudah gila bersama Kak Moana. Hanya saja, Tuhan begitu baik pda mereka sehingga mereka dianugerahi hati emas yang tidak semua orang miliki!"

__ADS_1


"Jujur, bila aku ada diposisi mereka, mungkin aku sudah menyiapkan balas dendam padamu untuk melenyapkanmu dengan tanganku sendiri. Semua itu akan aku lakukan karena kamu satu-satunya penyebab menderitanya mereka, andaikan kau tidak melakukan itu sudah pasti mereka akan bahagia dengan jalan dan pilihannya sendiri!"


Kata demi kata yang Dinda ucapkan penuh penekanan sangatlah menusuk hati Felix. Tidak menyangka efek dari masa lalu bisa berujung seperti ini, rasa penyesalan kembali menghantui Felix. Air mata kian menetes cukup deras saat Felix bisa merasakan apa yang Justin rasakan.


Sebanyak apa pun kebaikan yang Felix berikan saat itu, tidak bisa menghapus semua luka yang ada di dalm hati sang anak. Niat ingin mempersatukan Moana dengan Ernest meskipun, menggunakan cara yang salah. Tanpa disadari efek negatif semua terkena kepada Justin, anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang hidupnya.


Jelas sekali, Dinda tidak ingin menyalahkan sang suami, tetapi lebih cenderung membuat pikirannya terbuka. Ya, memang Felix sudah menyadari semua itu sebelum menikah dengan Dinda. Hanya saja, dari semua penjelasan yang Dinda katakan, baru kali ini Felix mendengar sedahsyat itu efek dari masa lalu yang sama sekali tidak ada niatan jelek di hati Felix untuk membuat Moana dan Justin menjadi terluka.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2