
"Ma-maafkan kami, Tuan. Kami tidak bermaksud untuk mengganggu waktu kalian berdua. Saya ke sini karena mengetahui kabar kalau Nona sudah sadar dari salah satu pengawal Tuan. Sekali lagi, maafkan saya apabila kehadiran saya berada di waktu yang tidak tepat."
Seseorang yang tidak lain itu adalah dokter. Dia menundukkan pandangannya dan tidak berani menatap wajah Thoms, sama seperti asistennya yang ikut menunduk.
"Tak apa, periksa dia dengan baik dan jangan sampai ada yang kelewatan. Untuk masalah tadi jangan didengar, dia hanya salah berbicara. Maklum, gadis itu baru bangun jadi, nyawanya belum sepenuhnya terkumpul."
Naya melepaskan tangan dari mulutnya, lalu melirik tajam ke arah Thoms penuh arti. Takut sih, tetapi lebih takut lagi jika image Thoms turun dimata dokter itu.
Awas aja kamu, Kak. Lihatlah nanti aku akan buat perhitungan! Bisa-bisanya dia menyalahkanku atas apa yang tidak aku perbuat, padahal dia sendiri yang mengatakan semua itu dengan otak me*sumnya. Benar-benar menyebalkan!
Kurang lebih begitulah suara batin Naya. Tubuh Thoms langsung menegang setelah mendapatkan tatapan yang tidak biasa dia dapatkan dari Naya.
Mam*pus kau, Thoms. Siap-siaplah pertempuran akan dimulai dalam hitungan menit. Siapkan mental dan kekuatan agar kau bisa kembali menaklukkan singa yang lagi garang itu.
Tuhan, bantu aku untuk menaklukkan Naya kembali. Hancurkan rasa marah, hilangkan rasa kesal, dan hapuslah kejadian tadi dari memori ingatan gadis itu. Semoga semuanya akan baik-baik saja setelah dokter selesai memeriksanya. Aamin ....
Seperti itulah harapan dan doa Thoms di dalam hati. Siapa yang berulah, siapa pula yang takut. Maklum saja, sekejam-kejamnya seorang pria akan tetap takluk pada pawang yang berhasil membuatnya nyaman.
Sebandel dan sejahat apa pun seorang pria, apabila Tuhan telah menurunkan jodoh yang memang cocok untuknya. Maka, tanpa menuntut apa-apa pria itu akan nurut dengan sendirinya, serta bisa menjadi anak kecil yang takut akan kehilangan sang ibu.
"Baik, Tuan. Saya akan memeriksanya sebaik mungkin, semoga hasil pemeriksaan semuanya baik-baik saja supaya Nona Naya bisa kembali pulang ke rumah."
Dokter tersenyum, diangguki oleh Thoms. Kemudian, dokter dan asisten susternya berjalan mendekati bangkar Naya.
"Selamat malam, Nona. Gimana dadanya, apakah terasa sakit, nyeri, atau yang lainnya?" tanya dokter sambil tersenyum menatap Naya.
"Saya baik, Dok. Sedikit nyeri sih, tapi gapapa. Aku kuat hihi ...." Naya tersenyum berusaha menghibur diri sendiri agar tidak terlalu setres ketika rasa nyut-nyutan melanda tubuh yang baru selesai operasi itu.
__ADS_1
Melihat ada keanehan dari tatapan dokter dan Naya. Dengan cepat Thoms langsung meraup wajah Naya sekilas, lalu menasihati keduanya sambil memberikan tatapan mema*tian.
"Jangan pernah berikan respons lebih pada pria lain, selain diriku, paham? Satu lagi, jangan sekali-kali menunjukkan senyumanmu pada orang lain karena semua yang kamu miliki adalah milikku. Dari ujung sambut sampai ujung kaki, balik lagi dari ujung kaki sampai ujung rambut semua diciptakan hanya boleh ditunjukkan padaku. Mengerti!"
Kata-kata yang Thoms ucapkan sungguh mengejutkan semua yang ada di sana. Akan tetapi, dokter dan suster hanya tersenyum melihat perlakuan Thoms pada Naya. Pria itu sangat menjaga kekasihnya dari lelaki yang akan merebutnya.
Sementara itu, Naya tidak tahu haruskah merasa senang atau kesal? Satu sisi Naya baru pertama kali merasakan dicintai sedalam ini oleh seorang lelaki. Di sisi lain, Naya juga kesal karena cara Thoms memperhatikan dan menjaganya sangatlah berlebihan.
Masa iya, Naya tidak boleh tersenyum hanya untuk membalas sapaan dari dokter. Memang salah? Tidak, bukan. Cuma, dari segi penglihatan Thoms yang sedikit salah. Selama ini Naya berusaha bersikap ramah pada siapa pun, termasuk orang yang menyakitinya.
Akan tetapi, sekarang gadis itu harus mengesampingkan keramahannya dari semua pria yang hanya diperbolehkan untuk Thoms, calon suaminya. Kesal sih, tetapi Naya tidak berdaya.
Gadis itu berpikir bahwa, cara seseorang mencintai pasangannya selalu berbeda-beda. Selagi, masih dalam batas wajah Naya tidak masalah. Cuma, ini? Akhh ... Sudahlah, namanya juga Thoms baru ngebucin. Jadi, sikapnya sedikit menyebalkan.
"Kakak apa-apaan sih, masa iya, aku senyum sama dokter aja enggak boleh. Pelit banget! Lagian juga, dokter pasti udah punya istri dan anak. Bahkan, cucu mungkin sudah berjejer kaya orang mau bagi-bagi ampau lebaran. Ya, kali aku harus masang wajah datar kaya Kakak gitu. Bisa-bisa semua cowok kabur lihat aku atau bisa jadi anak-anak langsung nangis melihatku. Huhhh, ada-ada saja pria satu ini!"
Celoteh Naya yang asal jeplak itu berhasil membangkitkan sesuatu di dalam diri Thoms. Mendengar kata demi kata keluar dari mulut, tanpa sadar Naya telah mengucapkan kalimat yang malah semakin memperdalam rasa cemburu di dalam hati Thoms.
"Ya, kenapa? Kalau aku pasang wajah kaya Kakak bisa-bisa aku jadi perawan tua!"
Naya menjawab tanpa menyadari kalau Thoms sudah menjadi kekasih hatinya. Walaupun, hubungan mereka diresmikan dalam keadaan sederhana tidak seperti hubungan yang lain. Tetap saja mereka telah menyatakan cinta satu sama lain tanpa adanya paksaan.
"Perawan tua? Bagaimana mungkin itu terjadi, sementara kamu sudah menjadi milikku?"
Lagi-lagi Nay terkejut. Gadis itu segera sadar dari apa yang diucapkan bibirnya kepada Thoms. Tanpa rasa berdosa, Naya memasang wajah polos sambil menunjukkan sederetan gigi rapi, putih, bersih, dan menggemaskan.
"E,ehhh ... Ma-maaf, aku lupa hehe ...." Naya terkekeh melihat wajah Thoms yang sudah memerah akibat menahan rasa kesal.
__ADS_1
"Lucu?" tanya Thoms, cuek.
"Uhh, tututu ... Jangan ngambek dong, kasihan nanti gantengnya pindah ke dokter loh, mau? Hihi ...."
"Hyaakkk! Dasar calon istri menyebalkan, bisa-bisanya main pindahkan ketampananku yang tidak ada duanya ini ke wajah dokter yang sudah menua. Benar-benar tidak ada aklak!" pekik Thoms, tidak terima.
Naya tertawa kecil membuat Thoms tidak bisa berkutik. Hanya dengan melihat Naya seperti ini, entah mengapa telah berhasil meluluhkan hati Thoms hingga tidak jadi marah padanya.
Dokter dan suster saja sampai senyum-senyum sendiri melihat pasangan baru itu begitu romantis. Di mana satunya sangat jahil dan satunya lagi mudah sekali terbawa suasana.
"Beruntungnya Nona bisa mendapatkan pria seperti Tuan Thoms ini. Sudah tampan, baik hati, juga penyayang lagi. Tanggung jawab untuk menjaga Nona dari pria-pria hidung belang sangatlah penting, jadi Nona harus bisa menjaga perasaannya. Saya doakan agar hubungan kalian bisa langgeng sampai maut memisahkan dan kembali dipersatukan di rumah Tuhan. Aamin ...."
"Aamiin ...."
Semua mengaminkan semua doa tulus dari dokter tersebut. Selang beberapa menit, dokter kembali memeriksa Naya bersama suster. Akan tetapi, dokter hanya memantau tanpa meyentuh tubuh Naya yang menurut Thoms tidak boleh disentuh. Sehingga, semua itu diwakilkan oleh suster untuk mengecek nadi, detak jantung, dan pernapasan Naya.
Selepas semua selesai diperiksa, dokter sama asisten suster meninggalkan ruangan Naya dengan kabar baik kalau gadis itu keadaannya sudah stabil. Hanya dalam waktu beberapa hari ke depan, Naya sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
Rasanya Naya tidak sabar ingin segera pulang. Dia sangat penasaran sama tempat rahasia yang telah Thoms janjikan tadi. Thoms duduk di kursi, lalu menyuapkan sisa makanan yang sempat tertunda ketika dokter datang untuk memeriksanya.
Sehabis makan, Naya bertanya sedikit mengenai kabar orang yang telah menembaknya. Thoms tidak bisa banyak berbicara, sebab dia juga tidak mengetahui alasan kuat yang sebenarnya orang itu inginkan.
Tidak lama, setelah minum obat Naya kembali tertidur dalam keadaan tenang. Begitu juga Thoms yang terus menjaga Naya sambil tertidur dengan posisi duduk berbantalkan tangan gadis yang dia cintai.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...