Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Bentuk Rasa Manusiawi


__ADS_3

"Cukup, Tuan. Cukup! Jangan di teruskan lagi, saya tidak ingin berurusan dengannya. Lebih baik sekarang kita pergi dari sini, sebelum ada yang melihat kita!" titah wanita itu, menarik Ernest sekuat tenaga untuk menjauhi masalah besar yang akan menimpanya.


Mereka berdua menjauhi pria yang sudah terkampar di aspal dalam kondisi wajah penuh oleh tato dari Ernest sebagai balasan atas perbuatannya, sekaligus pelampiasan samsaknya.


Sekiranya sudah jauh dari tempat itu, Ernest segera melepaskan tangan wanita itu dan segera memarahinya penuh emosi.


"Dasar bo*doh! Kenapa kau diam saja di perlakukan seperti itu sama pria baji*ngan itu\, hahh! Kenapa kau tidak berusaha melepaskan diri\, apa selemah itu seorang wanita!"


"Dan, yang lebih bo*dohnya lagi. Kau malah membela pelaku yang hampir merenggut masa depanmu? Hahh, benar-benar wanita tidak waras. Kalau kau ingin membelanya, kenapa seolah-olah kau yang menjadi korban. Berikan saja tubuhmu itu biar dia bisa menikmatinya dengan puas!"


Perkataan Ernest sontak membuat wanita itu menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa kepada Ernest, karena ini udah kejadian ketiga kalinya untuk dia hampir di le*cehkan oleh pria tersebut.


Tanpa menghilangkan rasa terima kasih kepada Ernest, wanita itu malah berlari meninggalkannya. Ernest yang masih kesal, tapi tidak tega ketika melihat wajahnya di penuh ketakutan yang membuat hatinya sangat terpukul.


Tidak tahu mengapa, Ernest malah spontan mengejarnya sambil menaiki mobil. Melihat jalan yang sepi serta gelap, Ernest tidak ingin mengambil resiko. Apa bila wanita itu kembali mendapatkan perlakuan tidak senonoh oleh pria lainnya.


Tiba-tiba hujan turun cukup deras membasahi seluruh jalan yang gelap itu. Pengelihatan Ernest sedikit terganggu, dia kebingungan untuk mencari wanita tersebut.


Tidak jauh dari tempat kejadian, Ernest melihat seorang wanita berlari di bawah rintihan hujan deras yang membuat dia tidak habis pikir.


Wanita yang di duga adalah pelayan di Night Club tersebut, berlari sambil menangis. Ketika mobil Ernest ingin mendekatinya, Ernest malah melihat wanita itu terjatuh pingsan di pinggir jalan.

__ADS_1


Ernest menghentikan laju mobilnya, lalu keluar sambil menolong wanita itu. Ernest memang tidak memiliki kedekatan dengannya, itu semua karena bentuk rasa manusiawi yang keluar dari lubuk hatinya.


Ernest membawa wanita itu ke sebuah rumah sakit kecil yang tidak jauh dari tempat kejadian. Sesampainya di sana Ernest segera di bantu oleh perawat lainnya untuk membawa wanita itu ke ruangan UGD.


Ernest duduk di depan ruangan, dalam keadaan pakaian yang cukup basah. Beberapa kali ponsel Ernest berbunyi, dia tidak sedikit pun mengangkat panggilan itu karena rasa marahnya masih menggebu-gebu di dalam hatinya.


Bukan berarti Ernest marah sama kedua orang tuanya, tetapi dia sangat tahu. Sambungan telepon itu berdering, pasti akibat hasutan dari Moana yang ingin bertemu dengannya.


Tidak lama seorang dokter keluar dari ruangan dan menjelaskan kepada Ernest tentang kondisi wanita tersebut. Untungnya, dia tidak terkena penyakit apa-apa kecuali daya tahan tubuhnya yang menurun, serta rasa trauma yang dia miliki cukup membekas diingatannya.


Sang dokter segera memindahkan wanita itu ke ruangan perawat kelas 1. Walau, rumah sakit itu terbilang kecil, tetapi ada 3 lantai ke atas sesuai kelasnya tersendiri.


Saat semua perpindahan sudah selesai di lakukan, Ernest duduk di kursi yang jauh dari bangkar wanita itu demi menjaga kenyamanan satu sama lain.


"Errghh ... Ke-kepalaku, kenapa sakit begini? Da-dan di-di mana aku? Ja-jangan bilang, kalau Tu-tuan itu sudah merenggut masa depanku?"


Suara lirih itu cukup terdengar gemetar, pertanda bila dia memang memiliki trauma atas kejadian yang hampir menimpanya.


Isakan tangis terdengar pilu, Ernest yang awalnya cuek perlahan bangkit mendekati bangkarnya yang membuat wanita itu terkejut atas keberadaan Ernest tepat di sampingnya.


"Si-siapa, kau? Ke-kenapa kau ada di si-sini? Ja-jangan jangan kau---"

__ADS_1


"Bisa diam tidak! Bangun-bangun malah berisik, lihat ini sudah jam berapa. Jangan sampai suaramu mengganggu semua pasien di sini!"


Ernest sedikit membentaknya, membuat dia spontan kaget serta ketakutan. Akan tetapi, ketika dia melihat wajah Ernest lebih dalam. Dia baru ingat kalau Ernest adalah orang yang sempat menyelamatkannya dari marapetaka yang hampir merenggut mahkotanya.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Sa-saya baru ingat kalau Tuan sudah menyelamatkan saya, terima kasih. Saya berhutang budi sama Tuan, tapi saya janji. Suatu saat nanti saya akan membalas semua itu!"


"Tidak perlu, itu sudah tugas saya membantu orang yang lemah sepertimu!"


"A-apa maksud, Tuan? Sa-saya lemah? Asalkan Tuan tahu saja, saya tidak berkutik karena dia adalah supir dari pemilik BAR tersebut. Jika saya berurusan dengannya, maka saya akan kehilangan pekerjaan!"


"Bo*doh! Pekerjaan masih banyak\, kau lebih sayang dengan masa depanmu atau pekerjaanmu? Jadi\, wanita kok murah banget! Kenapa enggak sekalian saja terjun di sana\, dari pada kau jadi pelayan pada akhirnya di lece*hkan tanpa imbalan!"


"Cukup, Tuan. Cukup! Perkataan Tuan sangat menyakitkan untukku, kalau Tuan tidak tahu apa sebenarnya terjadi jangan coba-coba merendahkan orang lain! Saya hanya orang biasa yang tidak memiliki ijazah apa pun untuk mencari pekerjaan, jadi hanya pekerjaan itu yang bisa saya ambil agar bisa membiayai hidup saya kedepannya. Saya juga tidak mau terus-terusan mengalami semua ini, tapi saya tidak bisa kehilangan pekerjaan itu! Hidup saya sudah cukup menderita, Tuan. Jadi, jangan coba-coba menasihati saya!"


Ernest terdiam. Dia mendengar semua penjelasan yang di sampaikan olehnya dengan nada tinggi penuh penekanan. Terlihat jelas dari sorotan matanya yang terlihat terpaksa untuk menjalani pekerjaan seperti itu. Seketika Ernest tidak berkutik, dia hanya berdiri mematung melihat wanita itu kembali menangis.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2