Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Mengikat Janji Satu Sama Lain


__ADS_3

Tangan Ernest perlahan menghapus air mata di pipi istrinya sambil tersenyum. Betapa bahagianya Moana malam ini, dia masih berasa sedang bermimpi ketika suaminya telah menyatakan cintanya.


"Hapuslah air matamu ini, aku tidak suka melihatnya. Aku lebih suka saat kamu tersenyum sepanjang hari, karena kecantikan itu akan terus terpancar tanpa padam sedikitpun. Jadi, bagaimana? Apakah kamu menerima cintaku, hem?"


Moana menghapus air matanya, lalu kembali menatap suaminya yang masih berlutut di hadapannya. Kedua tangan Becca, refleks mencubit gemas pipi suaminya sambil mengatakan sesuatu.


"Isshh, kamu itu lucu banget sih. Akhhh ... Apa kamu sudah lupa, hem? Mau kamu nembak aku seribu kali pun, aku tetap tidak bisa menolaknya. Kita itu bukan anak ABG yang ingin pacaran, bahkan kita sudah menikah. Jadi, bagaimana aku menolakmu. Hem?"


"Jika aku menolakmu, itu artinya apakah kita akan berpisah? Terus bagaimana dengan Justin, apakah kamu mau mengecewakannya. Nanti kalau dia nanya Mommy sama Daddy kenapa tidak serumah, terus kamu mau jawab apa? Mau jawab kalau kita sudah berce---"


Mulut Moana langsung di kunci oleh bibir Ernest. Dimana Ernest berdiri menggunakan kedua lututnya dan membungkan istrinya akibat merasa kesal atas jawaban yang di luar dugaannya.


Moana hanya terdiam mematung ketika merasakan bibir suaminya yang mulai bergerak. Kemudian, beberapa detik Ernest melepaskan sambil menatap tajam.


"Sekali lagi kamu mengatakan perpisahan, aku akan menerkamu di sini! Tidak peduli ini ruangan terbuka atau tidak, yang penting aku tidak suka mendengar kata itu!"


Wajah terkejut Moana, perlahan mulai sirna bersamaan dengan senyuman kecil di bibirnya. Sifat seperti inilah yang sudah lama Moana tunggu-tunggu, tanpa basa-basi lagi. Moana segera memeluk suaminya sangat erat, begitu juga Ernest.


"Terimakasih, Sayang. Kamu sudah membuatku bahagia di malam ini, aku tidak menyangka kalau aku akan menjadi pemenangnya. Sekali lagi terimakasih, aku benar-benar telah bersyukur karena sekarang kamu sudah mencintaiku."


"Aku juga sama, bahkan aku sangat, sangat, sangat mencintaimu. Pokoknya aku mau, kita berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain dalam keadaan apapun itu. Apakah kamu mau berjanji untuk itu?"

__ADS_1


Pelukan perlahan terlepas, Moana tersenyum sambil menunjukkan jari kelingkingnya yang manis. Tanpa rasa bimbang, Ernest pun segera menempelkan jari kelingkinya dan saling mengikat janji satu sama lain.


Setelah itu, Ernest pun memasangkan cincin yang cantik itu ke tangan istrinya penuh rasa cinta. Lalu, kembali berpelukan sekilas dan Ernest pun bangkit kemudian duduk di kursinya menatap istrinya.


Kedua bola mata mereka saling memancarkan cinta yang cukup mendalam, bahkan Moana bisa melihat senyuman manis yang tidak pernah di lihat dari suaminya.


"Terimakasih, kamu sudah menungguku selama ini hanya untuk menyatakan cinta. Kamu tidak pernah lelah untuk menghadapi sikapku yang menyebalkan ini. Sekali lagi, terimakasih, istriku."


"Terimakasih kembali, suamiku. Kamu sudah menunjukkan bila penantianku selama ini tidak sia-sia."


"Ya sudah, kita makan dulu ya. Kasihan perutmu dari tadi sudah bunyi, nanti kalau kamu sakit. Aku lagi yang kena omel Bunda. Menyebalkan!"


Moana tertawa geli saat melihat wajah menggemaskan suaminya yang sedang kesal. Kemudian mereka pun makan bersama sambil menatap satu sama lain, sesekali tangan Moana di usap-usap oleh Ernest sambil tersenyum.


Sikapnya yang mulai mencair benar-benar membuat Moana hampir terbang melayang keluar angkasa. Bahkan dia meminta Ernest untuk mencubit pipinya agar membuktikan kalau ini bukan mimpi.


Sementara Ernest yang memiliki kesempatan, malah mencubit gemas istrinya dan membuatnya berteriak kesal hingga cemberut.


Selepas makan malam selesai, Ernest membersihkan mulutnya lalu dia meminta izin pada Moana untuk ke kamar mandi sebentar. Kemudian kembali lagi dan memberikan sebuket bunga cantik tepat dari arah belakang Moana sambil memeluknya.


__ADS_1


Buket yang cukup besar kembali membuat Moana terkejut sambil matanya berkaca-kaca. Apa lagi saat Ernest mencium pipi sebelah kanannya membuat Moana merasa orang yang paling di cintai oleh suaminya.


Buket yang identik dengan warna ungu itu melambangkan tentang kedewasaan seseorang, dan juga perasaan cinta yang sangat mendalam. Akan tetapi, tidak hanya itu. Ungu juga bisa di artinya sebagai ga*irah seseorang yang cukup kuat.


Moana menoleh ke samping kanan menatap wajah suaminya sambil tersenyum lebar, "Terimakasih, malam ini kamu benar-benar telah membuat perasaanku campur aduk. Rasanya aku ingin gigit pipimu ketika aku gemas dengan sikapmu yang berubah drastis."


"Gigitlah, jika kamu menginginkannya. Aku juga siap menahannya asalkan aku bisa mendapatkan sesuatu yang lebih. Gimana?"


Kedipan mata suaminya yang sangat genit, spontan membuatnya terkejut bukan main. Wajah memerah berhasil membuat Ernest terkekeh geli bersamaan dengan tubuhnya yang kembali berdiri tegak, sedangkan Moana berdiri sambil memukul kecil tubuh suaminya setelah menaruh buket bunganya di atas meja.


Beberapa detik, tangan Ernest langsung memegang pinggang istrinya dan sedikit mendekatinya. Hingga wajah mereka hanya berjarak 5 inci saja.


Ernest memberikan kode 1 tangan di angkat ke atas dengan membentuk huruf O. Yang artinya seseorang harus bersiap-siap untuk melakukan sesuatu, demi membuat suasana di sana menjadi lebih romantis.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2