
"Tunggu, sepertinya ada yang aneh." Thoms melepaskan pelukannya, kemudian melihat ke arah kaki Ernest.
"Apa yang aneh, Kak?" tanya Ernest tidak menyadarinya.
"Berdirilah!" pinta Thoms langsung dilakukan oleh Ernest dalam keadaan bingung. Wajahnya benar-benar terlihat polos, seakan-akan dia tidak menyadari akan perubahan pada tubuhnya sendiri.
"Ada apa, Kak? Kenapa Kakak menyuruhku berdiri?" tanya Ernest, menatap Thoms yang perlahan mulai berdiri. Kemudian, mengelilinginya sambil melihat ke arah bawah.
"Di mana kursi rodamu?"
Satu pertanyaan itu mampu menyadarkan Ernest, bola matanya membesar akibat terkejut ketika menatap kedua kaki yang kini sudah bisa berdiri sendiri seperti semula.
"Ka-kak, ka-kakiku? Kakiku sudah bisa berjalan?" pertanyaan konyol itu berulang kali terlontar dari bibir Ernest yang sedikit bergetar karena syok.
Perlahan kaki Ernest mulai digerakkan, sampai akhirnya dia melompat-lompat bagaikan anak kecil yang habis mendapatkan hadiah.
"Huaaa ... Kakiku sudah kembali, Kak? Hahah ... Yes, akhirnya aku bisa jalan lagi. Aaa ... Aku senang banget, sumpah! Terima kasih, Tuhan. Kali ini aku benar-benar merasakan keajaiban-Mu yang luar biasa. Sekali lagi terima kasih, terima kasih, terima kasih ...."
Ernest tidak ada bosan-bosannya mengucapkan kata terima kasih, lantaran apa yang diterima sungguh keajaiban yang tidak semua orang bisa mendapatkannya.
Wajah bahagia adik iparnya, sedikit mengurangi rasa sedih di hati Thoms. Dia tidak menyangka ternyata keajaiban memang benar-benar nyata. Apa yang Ernest katakan tadi membuat Thoms langsung berpikir keras, bagaimana caranya Thoms bisa mendapatkan keajaiban seperti Ernest? Sementara dia, berasal dari pria yang penuh dosa.
"Kau kira kakimu hilang, pakai acara kembali segala. Dasar aneh! Perasaan dari tadi kamu menyelamatkan Barra, bahkan sampai menyetir mobil sendiri sama sekali kamu belum menyadari akan hal itu? Sungguh, mimpi apa adikku bisa menikah dengan pria bo*doh sepertimu, hahh ...."
Thoms menghembuskan napasnya dengan kasar, kemudian duduk kembali sambil melihat lampu hijau yang masih menyala di atas pintu. Sebelum lampu itu beruba warna menjadi merah, perasaan Thoms masih tidak bisa tenang.
__ADS_1
Kata-kata Thoms yang ucapan tadi memang sedikit mencubit hati Ernest, tetapi dia sama sekali tidak ingin menggubrisnya. Ernest malah tertawa kecil saat menyadari akan kebo*dohan yang tidak bisa dilupakan.
Rasanya Ernest ingin sekali segera berlari untuk memberitahu semua orang kalau dia sudah bisa berjalan seperti sedia kala. Akan tetapi, sekarang waktunya tidak tepat.
Mungkin untuk Ernest ini adalah kebahagiaan, tidak dengan Thoms. Dia tetap merasa sedih ketika mengingat nasib Naya yang selalu mengalami ujian di dalam hidup tanpa henti.
Ernest kembali duduk tepat di samping Thoms, "Gimana, Kak? Keajaiban itu ada, bukan? Sekarang terbukti, bahwa aku sudah bisa berjalan seperti biasa."
"Aku berharap Kakak tidak akan pernah merasa putus asa dan menyerah sebelum perang. Yakinkan hati Kakak sendiri, jika gadis itu pasti baik-baik saja di dalam sana. Dia hanya butuh suport dan doa dari kita semua, bukan tangisan atau penyesalan."
"Aku dan Moana sangat berhutang nyawa pada gadis itu, sehingga kami akan mendoakan yang terbaik untuk gadis itu. Suatu saat nanti, kalau kami bisa membayarnya maka kami akan membayarnyam Sekarang, Kakak jangan khawatir lagi, percayalah! Gadis itu pasti kuat, sebentar lagi dokter keluar dan memberikan kabar baik untuk mereka semua."
Thoms hanya menganggukan kepala perlahan, lalu kembali menatap ke arah bawah. Air mata Thoms perlahan runtuh ketika dia harus merendahkan kepalanya serendah mungkin untuk pertama kali, setelah sekian lama dia tidak pernah mendekatkan diri pada Tuhan-Nya.
Tangan Thoms mulai disatukan. Setelah itu, dia memohon pada Tuhan untuk kesembuhan Naya dengan suara hati kecil yang paling dalam. Semua Thoms lakukan sesuai sama apa yang Ernest katakan.
Tak lama lampu operasi berhenti, Thoms segera berdiri bersamaan dengan Ernest yang selalu ada di sampingnya.
Seorang dokter keluar dari ruangan operasi sambil tersenyum. Entah itu berarti kabar baik atau memang begitulah para dokter menyapa keluarga pasien supaya tidak membuat mereka menjadi semakin khawatir.
"Bagaimana keadaan Naya, Dok? Apakah pelurunya berhasil diambil? Terus, sekarang kondisinya seperti apa?"
"Ingat, Dok! Saya tidak ingin mendengar kabar buruk sedikit pun mengenai calon istri saya. Kalau sampai itu terjadi, saya langsung menghancurkan rumah sakit ini dalam hitungan menit!"
Ancaman yang Thoms berikan membuat sang dokter sedikit syok. Dari cara bicaranya saja, dokter itu bisa menebak kalau Thoms bukanlah orang sembarangan yang mudah diremehkan.
__ADS_1
Melihat banyaknya penjaga yang melindungi Thoms sudah bisa dipastikan sedikit saja sang dokter salah berbicara, maka urusannya akan langsung panjang atau bisa jadi nyawanya akan menjadi taruhan.
"Tuan tenang saja, keadaan Nona Naya saat ini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Kami telah berhasil mengambil pelurunya, untung saja tidak mengenai hati karena jarak antara hati dan tempat penembakan sangatlah dekat. Terus juga, tidak ada luka infeksi bekas peluru yang bersarang ditubuh Nona Naya. Sehingga, kami bisa memastikan, bahwa kondisi Nona Naya sejauh ini baik-baik saja. Kemungkinan besar dalam waktu kurang lebih 6 jam kedepan, Nona Naya sudah bisa tersadar dari obat bius."
"Kami sengaja membius Nona Naya lebih lama supaya bisa beristirahat dengan cukup, dan sedikit mengurangi rasa nyeri pasca operasi. Apakah ada yang ingin di tanyakan kembali? Jika tidak ada, saya ingin segera kembali mengurus perpindahan pasien ke kamar. Setelah itu saya harus melakukan operasi lainnya. Gimana, Tuan? "
Dokter itu berusaha tetap tenang, walaupun jantungnya berdetak cepat ketika mendapatkan tatapan oenuh arti dari mereka semua tanpa ekspresi apa-apa.
"Sudah, tidak perlu. Saya sudah paham! Oh, yaa ... Tolong pindahkan Naya ke kamar terbaik di rumah sakit ini. Saya akan urus semuanya sekarang juga!"
"Baik, Tuan. Saya akan berikan pelayanan terbaik di rumah sakit ini dan kamar berkualitas. Kalau begitu saya pamit, permisi!" Dokter kembali memasuki ruang operasi untuk menyiapkan semuanya.
Thoms yang merasa lega langsung memeluk Ernest sekilas untuk membagi rasa bahagianya karena keadaan Naya baik-baik saja. Mereka hanya menungga Naya terbangun dari tidurnya setelah efek obat bius habis.
"Aku seneng banget, akhirnya tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada Naya. Tidak seperti apa yang ada di dalam pikiranku tadi, terima kasih, Nest. Kamu sudah membuatku mengerti arti pentingnya kekuatan doa dari pada emosi yang di sertai tangisan. Sekali lagi terima kasih!"
"Sama-sama, Kak. Aku juga senang bisa menjalin hubungan baik sama Kakak. Semoga ke depannya dan seterusnya kita bisa menjadi keluarga yang saling menyayangi satu sama lain tanpa lagi di penuhi dendam di dalam hati."
Thoms tersenyum menepuk punggung Ernest, begitu juga Ernest. Mereka sudah kembali menjalani hubungan baik, semoha tidak ada lagi yang membuat mereka menjadi salah paham.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...