
Beberapa hari kemudian, Bunda Elice dan juga Ayah Sakha harus melakukan perjalanan jauh ke luar negeri untuk 1 bulan ke depan. Dikarenakan Ayah Sakha mendapatkan tawaran kontrak di luar negeri yang sangat menguntungkan.
Selama ini Ayah Sakha tidak pernah lepas dari Bunda Elice, kemana pun dia pergi pasti Bunda Elice selalu ada di sampingnya. Akan tetapi, itu berlaku bila Ayah Sakha pergi keluar negeri atau ke luar kota yang bisa menghabiskan waktu lebih dari 3 hari.
Ernest yang mendengar semua itu merasa sangat bahagia. Akhirnya dia bisa lepas dari pengawasan kedua orang tuanya, sehingga dia tidak perlu lagi bangun tengah malam hanya sekedar menuruti permintaan istrinya yang aneh-aneh.
Beberapa hari ini Ernest tidur sangat tenang tanpa gangguan Moana, akan tetapi itu tidak bertahan lama. Semua kembali seperti keadaan semula ketika Moana harus merasakan ngidam yang semakin aneh.
Tepat pukul 11 malam. Dimana Ernest sedang tertidur begitu pulas, berbeda sama Moana yang tiba-tiba saja terbangun akibat perutnya sangat lapar.
“Astaga, perasaan tadi aku sudah makan 2 jam yang lalu deh. Itu pun makan untuk keempat kalinya, tapi kenapa sekarang malah lapar lagi?"
“Aduh, Nak. Kalau begini caranya, bisa-bisa Mommy gendut loh hihi ....”
Moana bergumam kecil sambil cekikikan sendiri mengusap perut buncitnya. Perlahan Moana menatap ke arah sampingnya, wajah teduh suaminya membuat Moana terus menatapnya tanpa berkedip.
“Jika dilihat-lihat, Daddymu tampan juga ya. Cuman sayangnya, dia terlalu egois dan juga sangat menyebalkan!”
“Tapi, tunggu deh. Kenapa di saat Daddymu tertidur seperti ini, wajahnya malah terlihat begitu menyejukkan? Berbeda jika dia terbangun, pasti akan terlihat menyeramkan seperti monster hihi ....”
Mendengar suara cekikikan itu membuat tidur Ernest sedikit terganggu. Dia mulai menggeliatkan badannya perlahan, lalu berbalik membelakangi Moana.
__ADS_1
Tawa Moana berhenti saat dia tidak mau mengganggu jam tidur suaminya, sebab semakin kesini Moana sudah mulai bisa mengontrol dirinya agar tidak terlihat cengeng di hadapannya.
“Hem, kenapa aku jadi pengen makan jagung bakar yang ada di Puncak, ya? Mana tempatnya lumayan jauh lagi, terus aku harus ke sana naik apa malam-malam begini?”
Moana terdiam memikirkan bagaimana caranya dia bisa mendapatkan apa yang diinginkan oleh bayinya. Sampai akhirnya, pilihan terakhir jatuh pada Ernest.
“Apa aku bangunin dia aja ya, siapa tahu dia mau nganterin, 'kan? Habisnya kalau enggak diturutin pasti aku akan susah tidur, di tambah rasanya itu kaya nyesek banget di hati.” ucap Moana dengan suasa kecil.
Beberapa menit Moana terdiam, dia mulai menarik napasnya perlahan dan memberanikan diri untuk membangunkan suaminya secara perlahan.
“Tu-tuan, Tu-tuan. Ayo bangun! A-anakmu mau jagung bakar yang ada di Puncak. Ayo kita beli ke sana!” ucap Moana, menggoyangkan tubuh suaminya.
“Yang mau jagung bakar itu anakmu, bukan aku! Ingat, jika kejadian itu tidak terjadi, aku juga ogah nikah bahkan mengandung anak dari pria yang sangat menyebalkan seperti Tuan!” pekik Moana.
“Arggh, ngeselin banget sih. Tiap tengah malam selalu saja berisik! Bisa 'kan, sehari saja jangan buat saya pusing sama ngidam konyolmu itu!”
“Dan satu lagi enggak usah semua keinginan kamu itu, di atas namakan anak yang ada di dalam kandungan. Saya tahu kok, kamu dendam sama saya, 'kan? Makannya setiap hari kamu selalu membuat saya susah!”
“Pernikahan yang harusnya membawa kebahagiaan bagi setiap pasangan, ternyata itu hanya omong kosong!"
"Buktinya apa? Pernikahan yang saya rasakan saat ini, hanyalah pembawa kesi*alan di dalam hidup saya!”
__ADS_1
Perkataan demi perkataan yang terlontar langsung dari mulut Ernest, berhasil membuat jantung Moana hampir saja terhenti. Rasa sesak di dada benar-benar membuatnya susah bernapas dengan normal.
“Jika Tuan tidak mau mengantarkan aku, ya sudah. Tinggal bilang saya ngantuk mau tidur, pergi aja sendiri. Selesai!”
“Tidak perlu Tuan berkata panjang kali lebar, yang pada akhirnya berujung menyakitkan!”
“Selamat beristirahat, maaf jika kehadiranku dan anakku selalu membuat kehidupan Tuan menderita!”
“Dahlah, lebih baik aku makan jagung di Puncak sendiri, dari pada di sini cuman bisanya makan hati!”
Moana meneteskan air matanya, lalu bergegas bersiap-siap mengambil tasnya serta jaket. Kemudian pergi keluar dalam keadaan penuh emosi.
Ernest yang melihat Moana keluar dari kamar, malah tersenyum miring. Rasanya dia benar-benar senang, lantar Moana tidak lagi merengek seperti biasanya. Sehingga pada akhirnya Ernest kembali melanjutkan tidurnya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1