
Malam hari, Thoms dan Naya sedang duduk di taman menikmati indahnya langit yang dipenuhi bintang-bintang bersinar terang diantara rembulan.
Meskipun jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, suasananya tetap terlihat seperti bukan malam hari. Naya duduk menyandar di pundak sang pria sambil terus menatap ke arah langit.
"Kak, apakah 3 hari lagi Kakak benar-benar akan terbang sendiri bersama anak buah Kakak ke negara itu? Apa Kakak tidak akan mengajakku, gitu?" tanya Naya sesekali melirik ke arah Thoms.
"Awalnya aku berpikir ingin mengajakmu, tapi apa yang dibilang Ayah dan Bunda ada benarnya. Kamu habis sakit, butuh pemulihan cukup lama. Belum lagi di sana itu sangat membahayakan dirimu, lantaran di negara itu pasti akan ada banyak musuhku yang mengingin nyawaku. Dari pada konsentrasiku pecah, membuat kita semua ada di dalam bahaya, lebih baik kamu di sini saja. Doakan aku supaya kembali dengan selamat, aku janji habis selesai semua itu kita akan menikah dan hidup bahagia membina rumah tangga."
Jawaban dari Thoms memang benar, tetapi Naya merasa khawatir karena sang pria harus kembali ketempat yang penuh bahaya itu hanya sekedar menyelesaikan semua urusan sampai benar-benar tuntas total. Entah itu berapa lama, setidaknya calon suaminya sudah berniat dan berjanji akan meninggalkan pekerjaan kotor tersebut.
"Tapi ... Kakak janji, 'kan?" Naya mengubah posisinya duduk menyamping menatap lekat-lekat manik mata sang pria yang tersenyum menggenggam tangan wanitanya, "Kakak akan kembali dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun dan Kakak tetap setia padaku tanpa mencintai wanita lain, terus juga Kakak harus janji untuk jaga kesehatan, pola makan, pola tidur, terus juga tidak boleh terluka, dan tidak---"
Thoms menutup mulut Naya menggunakan tangan satunya bagikan seseorang yangbingin membekap untuk diculik. Semua itu dilakukan demi menutup mulut cerewet sang wanita supaya tidak sampai berbicara panjang kali lebar dengan tujuan yang sama yaitu, mengkhawatirkan kondisi sang kekasih.
Sebensrny tanpa perlu dikasih tahu Thoms tetap akan menjaga diri sebaik mungkin karena ada tujuan yang lebih penting dari semuanya yaitu, menikah dan menyusun masa depan yang bahagia bersama Naya.
Akan tetapi, aksi itu malah dilihat oleh seorang anak kecil hingga membuatnya menjadi salah paham atas apa yang dia lihat saat itu.
"Papa!" teriak Justin langsung berlari dan melepaskan tangan Thoms begitu saja membuat keduanya merasa terkejut.
__ADS_1
Anak itu segera memeluk Naya seakan-akan ingin melindunginya dari kejahatan sang paman. Mata Thoms mulai menyipit merasa bingung sama apa yang dilakukan ponakan tercintanya ini.
"Jangan lukai Tante Naya, jangan sakiti dia. Kalau Papa menyakiti Tante, Papa berurusan sama Justin!" teriak Justin membuat Naya tersenyum, lalu membungkukkan badan untuk membalas pelukan anak tersebut yang memeluk wanita itu dalam keadaan berdiri.
"Terima kasih, Sayang. Justin sudah sayang banget sama Tante. Sumpah, Tante terharu banget dengar ucapan Justin, sekali lagi terima kasih, Sayang," ucap Naya penuh haru.
Justin melepaskan pelukannya, lalu menatap Naya dengan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya, "Tante gapapa? Tante baik-baik aja, 'kan? Tante gak dilukai sama Papa, 'kan?"
Naya menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Tidak, Sayang. Tante baik-baik aja kok, apa yang Justin lihat itu salah. Justin cuma salah paham aja kok, ya, 'kan, Kak?"
Thoms menganggukan kepalanya, lalu mengelus kepala Justin sambil tersenyum, "Apa yang dikatakan Tantemu itu benar, Sayang. Mana mungkin Papa menyakiti orang yang Papa cintai, apalagi orang-orang itu paling berharga di dalam hidup Papa."
"Kalo gitu, kenapa Papa sakiti adikku? Apa Papa tidak cinta lagi sama Barra, aku, sama Mommy? Apa Papa---"
Tanpa menjawab apa-apa, Justin hanya melirik Thoms lalu duduk di tengan mereka dalam keadaan wajah yang sangat polos. Walaupun, Justin sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi tetap saja dia ingin mendengar semua penjelasan dari sang paman sampai tuntas dari mulutnya sendiri.
"Papa izin ngomong dulu ya, sama Justin. Papa mohon jangan potong ucapan Papa supaya Justin tidak salah paham. Nanti kalo Papa sudah selesai, baru Justin bicara sepuas Justin Papa akan dengarkan dan terima semua hukuman yang akan Papa terima dari Justin. Papa janji!"
Thoms merubah sedikit duduknya menjadi miring supaya bisa menatap sang ponakan dengan lebih leluasa. Justin cuma menganggukkan kepala tanpa berkata apa pun, sedangkan Naya tersenyum mengusap lengan anak itu sambil memperhatikan cara calon suaminya menjelaskan kepada ponakan yang sudah dianggap seperti anak sendiri.
__ADS_1
Perlahan Thoms menceritakan awal mula kenapa dendam itu ada di dalam hatinya ketika masih berusia kurang lebih 7 tahun, di mana Moana baru dilahirkan beberapa hari. Justin menyimak semua kisah itu sambil melihat wajah Thoms yang terus menatap langit untuk mengalihkan rasa sakit di hati. Pria tersebut tidak ingin terlihat lemah di hadapan sang ponakan hanya karena harus kembali mengupas luka yang sudah berusaha dia sembuhkan.
Mata Thoms sekilas melirik Justin dan kembali melihat ke arah langit. Seakan-akan dia sedang mencurahkan isi hati terdalam kepada penghuni langit. Kedua bola mata Thoms mulai memerah menahan pedih ketika air mata terus berusaha menerobosnya. Namun, Justin langsung memegang tangan Thoms yang ada di kursi membuatnya langsung menoleh.
"Cukup, Pa. Jangan diceritain lagi kalo sakit, Justin gak mau Papa menderita. Mommy udah jelasin sama Daddy juga kok, jadi Justin udah tahu. Papa tenang aja, Justin udah maafin Papa, tapi ...."
Justin menghentikan perkataannya membuat Naya dan Thoms menjadi penasaran. Tatapan mereka bertiga saling memberikan isyarat satu sama lain.
"Tapi, apa?" tanya Naya dan Thoms bersamaan.
"Tapi, Justin belum bisa sepenuhnya percaya sama Papa. Mommy bilang, kita boleh maafin orang yang udah nyakiti meskipun, kita belum bisa sepenuhnya percaya. Asalkan kita tidak boleh membalasnya dengan sakit hati, nanti juga kalau orang itu udah berubah udah membuktikan kalau dia menyadari kesalahannya pasti kepercayaan itu akan datang kembali gitu."
Naya dan Thoms tersenyum mendengarkan perkataan Justin dengan penuh bangga. Tidak masalah apabila anak itu tidak mempercayainya kembali, setidaknya dibukakan pintu maaf saja itu sudah membuat air mata sang paman jatuh. Dia langsung memeluk sang ponakan dengan penuh bangga.
Naya tersenyum melihat adegan itu, ternyata tidak sia-sia kesabaran yang telah ditanamkan di hati Thoms kini sudah membuahkan hasilnya. Thoms kembali mendapatkan maaf dari Justin dan anak tersebut kembali berbaikan dengan sang paman.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...