Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Memberikan Hak


__ADS_3

Melihat air mata Moana hampir terjatuh membuat Ernes segera mengusapnya sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat Moana malah semakin bersalah.


"Sstt, Sayang. Jangan nangis ya, aku tidak bermaksud membuatmu menangis di malam pertama kita ini. Ya, meskipun kita bukan pengantin baru, tetap sama saja. Ini adalah malam pertama yang membuat kita kembali bersatu. Maaf, jika ada perkataanku yang menyinggung hatimu."


"Aku tidak tahu, kenapa akhir-akhir ini semenjak fisikku tidak sempurna seperti sebelumnya. Perasaanku malah menjadi sensitif, persis seperti wanita yang lagi halangan. Mungkin ini semua terjadi, sebab aku belum bisa menerima kenyataan hidup dengan segala keterbatasan ini. Sekali lagi maafkan suamimu yang lumpuh ini ya, Sayang. Aku janji, aku tidak akan memaksakan kamu untuk melakukan semua itu!"


"Aku akan menyerahkan semuanya sama kamu, jika kamu menginginkannya baru aku akan melepaskan semua hasratku ini. Namun, jika kamu tidak menginginkannya bagaimana bisa aku memanjakan si dedek? Fisikku saja seperti ini, mungkin kalau aku normal pasti aku sudah mulai memancingmu. Cuman, kalau seperti ini, aku hanya bisa menunggumu yang memimpin permainan saja.


Moana memeluk suaminya begitu erat. Isak tangis terdengar lembut, yang artinya Moana berusaha menahannya walaupun air mata tidak bisa di bendung.


Ernest hanya bisa memeluk Moana, di mana hatinya sudah campur aduk hingga tidak terasa air mata mulai menetes. Moana yang melihat itu langsung menghapus serta mencium pipi Ernest berulang kali.


"Sudah cukup, Ernest. Hentikan semua itu! Aku tidak mau lagi mendengar apapun yang keluar dari mulutmu, itu sangat-sangat menyakitkan hatiku. Intinya, apapun kondisimu aku tidak akan pernah mengeluh. Sekali lagi maaf, jika bercandaku sudah kelewat batas. Aku janji, setiap malam aku akan memberikan hakmu. Selama kamu masih harus beristirahat, izinkan aku yang akan memuaskanmu. Setelah kamu sehat, gantian kamu yang akan memuaskanku. Bagaimana? Setuju?"


"Bagaimana jika aku tidak akan pernah sembuh, dan aku akan lumpuh untuk selamanya? Apa kamu tidak lelah melayani suami lumpuh sepertiku ini?"


"Tidak, aku tidak akan pernah lelah. Anggap saja ini sebagai baktiku kepada suamiku sendiri, supaya bisa menggugurkan dosa-dosa yang pernah aku perbuat, walaupun hanya sedikit."

__ADS_1


"Kamu yakin, setiap malam akan memberikan hakku?"


"Ya, aku yakin. Namun, jika aku benar-benar sedang kelelahan. Bolehkah hari itu aku absen dulu, untuk tidak memuaskanmu? Besoknya aku akan lakukan lagi. Bisa?"


"Terima kasih, Sayang. Aku bersyukur banget punya istri sepertimu yang mau menerima semua kekuranganku ini, meskipun aku pernah menyakitimu. Sekali lagi terima kasih, Sayang. Aku sangat-sangat mencintaimu, i love you!"


"I love you to, Sayang!"


Mereka tersenyum satu sama lain dengan air mata yang masih membekas di pipi. Perlahan Ernest kembali menyatukan bibirnya dengan sang istri. Kali ini dia tidak ingin melakukan kesalahan kembali untuk menyakiti Moana.


Ernest melakukannya begitu lembut. Menciptakan sebuah seuasana yang mulai membara. Membuat Moana menjadi begitu nyaman dan segera ingin berlayar ke samudra percintaan.


Wanita mana yang tidak klepek-klepek ketika dibisikkan kata-kata manja nan manis. Apalagi kata-kata mesra itu didapatkannya dari suami tercinta.


"Aku juga mencintaimu, Honey. Milikilah aku, karena aku adalah untukmu untuk selamanya," balas Moana yang sudah menyiapkan dirinya untuk didatangi oleh sang suami.


Perlahan, tapi pasti. Raga mereka akhirnya bersatu dalam sebuah kemesraan menciptakan sebuah suasana yang sangat mendebarkan.

__ADS_1


Berpacu dengan waktu untuk saling memuaskan dalam suasana romantis itu keduanya bersatu dalam sebuah cinta sejati.


Ernest mencium seluruh yang ada dalam tubuh istrinya membuat wanita itu bergetar hebat. Kedua mata itu saling menatap disela-sela gerakan manja membuat Moana sedikit mengigit bibir bawahnya. Sehingga tak terasa kedua pucuk mengeluarkan ASI yang masih tersimpan di dalamnya.


Kondisi Moana yang masih menyusui secara eksklusif membuat keadaan ASI keluar dengan sendirinya saat percintaan mereka sedang berlangsung.


Ernest tersenyum dan dia hanya mengusap aliran ASI yang hanya diperuntukkan untuk sang bayi. Ernest berusaha untuk tidak melakukan kebiasaan lamanya sebelum sang bayi lahir ke dunia. Pria itu hanya menciumnya sekilas dan setelah itu dia lebih fokus pada bibir sang istri.


Cukup lama mereka bersatu dalam sebuah percintaan. Pada akhirnya keduanya sama-sama mulai merasakan puncak asmara. Moana mencengkram erat punggung sang suami dan Ernest pun semakin bersemangat untuk mencapai puncak asmara.


"Hemm ...!" Seperti itulah kira-kira suara indah nan panjang yang terdengar secara bersamaan dari bibir mereka. Keduanya saling memeluk dan tersenyum.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2